The Bird

Selasa, 15 September 2015

Enyah Saja!


Darah mengalir deras
Berputar-putar
Mengaduk tiap jengkal pembuluh
Panas

Darahku mengalir deras
Keras
Tidak, aku tak tewas
Hanya marah!

karena asap
Pekat
Membuat jalanan senyap
Kuat
berhembus lewat angin

Oh A...ku.
ingin kau para pembakar segera lenyap!!!
Muak
Kau siksa kami demi rupiah
yang bahkan semakin tak berharga

Hai kau para menyulut
Kau tak saja membakar lahan
tapi kau!
Membakar amarah seluruh negeri ini!

Bayiku menangis sesak
Pagiku tak lagi cerah ceria
Aku muak!
Enyahlah saja!

1,38 Cm


Berbagai rasa penasaran memenuhi hati dan pikiran. Seperti apa isi dalam perutku ini? Setelah tujuh minggu tidak kedatangan si merah.

Berbekal info dari internet aku dan dia berangkat menuju ke sebuah alamat yang telah kami catat sebelumnya. Alamat seorang dokter SpOG. Ini adalah pengalaman pertamaku.

Setelah sampai di tempat tujuan kami tidak menyangka bahwa antrian pasiennya akan sepanjang itu. Sebenarnya kami mendapat nomor antrian sebelas, tapi karena datang terlambat akhirnya kami harus menunggu satu atau dua pasien dulu memasuki ruang periksa. Dan ketika namaku dipanggil oleh para perawat.

"Nyonya Adinda Kumala, silakan."

Jantungku berdebar. Akan seperti apa pemeriksaannya nanti.

"Assalamualaikum," sapa dokter SpOG itu. Ia seorang wanita berjilbab yang cantik dan anggun. Meski mukanya terkesan agak dingin padahal senyum menghias di bibirnya.

"Wa'alaikumsalam bu dokter," sahutku dan dia bebarengan.

"Ada keluhan apa bu?"

"Nggak, cuma mau periksa kehamilan awal. Sudah tes sendiri hasilnya positif, terakhir mens tanggal 3 Juni 2015 bu dokter," jelasku panjang lebar.

"Umm, oke... Kita USG dulu ya... Mari silakan di ruangan ini bu."

Aku, dia, bu dokter dan seorang perawat berjalan menuju ke sebuah bilik bertirai gorden tebal. Di dalamnya ada sebuah TV plasma 29" yang digantung di tembok, sementara persis di bawah TV ada sebuah kasur dari busa yang membujur dalam satu garis lurus. Di sebelah kasur ada sebuah alat yang aku duga itu adalah alat USG.

"Silakan baring di sini bu," kata sang suster, ia lalu melumuri perutku dengan cairan gel.

Bu dokter lalu menempelkan alat seperti spatula di atas perutku yang telah dilumuri gel tadi. Voila! Terpampanglah isi dalam perutku.

"Bu Adinda, ini dalam perut ibu sudah terlihat kantong janinnya... Mari kita perbesar gambarnya ya..." kata dokter sambil mengulik mesin di depannya dan menekan-nekan lembut perutku.

Aku lirik dia. Dia hanya tersenyum padaku sekilas lalu kembali fokus memperhatikan layar plasma. Aku mengikuti pandangannya.

"Nah... Selamat, ibu memang hamil, di sini sudah terlihat janinnya. Ini dia janin ibu dan bapak. Panjangnya sudah mencapai 1,38cm, usia kandungan tujuh minggu lima hari. Oya, mari kita cek apa sudah ada denyut jantungnya."

Dug dug dug dug dug dug

"Nah sudah ada denyutnya, 165denyut per menit. Dari perkembangan ini berarti kondisi ibu dan janinnya normal. Ada yang di tanyakan?"

"Nggak bu dokter, cukup jelas. Terimakasih."

Aku merasa cukup dan tidak ada pertanyaan. Hasil USG sudah cukup jelas, karena masih sangat kecil aku tidak mau merepotkan dokternya untuk bertanya-tanya yang mana kepala dan lain sebagainya. Lanjut ke sesi konsultasi saja. Bahagia rasanya mengetahui ada sesuatu yang paling ditunggu sudah ada di dalam perut. Nggak sabar untuk menanti perut ini membesar dan melihat perkembangannya di dalam.

Suara denyut jantung tadi terngiang-ngiang di telinga hingga terbawa mimpi. Sehat terus sayang...

Sampai jumpa di layar plasma bulan depan dedek... Baik-baik dalam perut bunda yaa.

Sekian.

Ami

Semilir angin terasa menyapu kulit Ami. Satu jam lamanya ia berdiri menanti angkutan umum yang akan mengantarnya ke sekolah. Namun yang di nanti tak datang juga. 

"Ya ampun!" pekik Ami sambil menepuk dahinya keras, "sekarang kan hari minggu. Ngapain aku mesti capek-capek dari subuh nungguin angkot ya," lanjutnya.

Ia lalu melangkahkan kaki menuju ke rumahnya kembali. Minggu ini terasa begitu lain. Senyap. Dingin. Tidak begitu banyak orang yang lalu lalang di jalanan. Aneh.

"Eh Bimo! Ngapain kamu di situ sendirian?" sapa Ami kepada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di pembatas jembatan. Menatap dingin ke bawah. Ke arah sungai yang mengalir deras. Namun yang ditanya diam saja. Membuat Ami bergidik ngeri melihat ekspresinya yang angker. 

"Ya ampun," lagi-lagi Ami menepuk dahinya keras. Kebiasaan buruk yang selalu dilakukannya jika ia tiba-tiba menyadari sesuatu. "itu bukannya Bimo anak RT sebelah yang kemarin meninggal karena hanyut di sungai ya?" gumamnya lirih. Ia lalu mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah.

Dari kejauhan ia melihat rumahnya begitu ramai. Seperti sedang kedatangan tamu rombongan yang entah dari mana. Dibakar rasa penasaran Ami berlari.

Ketika sampai persis di depan rumahnya. Matanya melotot ngeri. Bibirnya mangap selebar-lebarnya. Apa yang sedang ia lihat saat ini sangatlah tidak mungkin. 

"Nenek?" bisik Ami kepada dirinya sendiri ketika matanya tertumbuk pada satu sosok tua nan ringkih yang sedang tersenyum ke arahnya.


Nenek itu lalu berjalan menghampiri Ami yang baru tiba di rumah. Tapi secara reflek Ami memundurkan langkahnya menjauh.

"Nggak. Nggak mungkin, nenek kan udah lama meninggal, kenapa nenek ada di sini?"

"Nenek dan saudara-saudara yang lain datang ke sini untuk menjemput kamu sayang..." jawab nenek lembut.

"Jemput?"

Nenek mengangguk lalu melambaikan tangan ke belakang. Memanggil rombongan penjemput itu untuk mendekat kepada Ami. 

"Bude? Kakek? Amin? Om Aris? Ayah???" Ami seolah sedang mengabsen mereka semua dengan nada tak percaya.

Ami sangat bingung sekali, mengapa sehari ini ia melihat begitu banyak hal yang aneh dan bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal senyata ini, sedekat ini.

"Anak yang malang... Sini ayah peluk, kita kan belum pernah ketemu. Sini peluk ayah nak,"

"Ayah aku kangen."

"Sini sayangku,"

Ami berjalan mendekat ke arah laki-laki yang ia panggil ayah itu. Ia memang belum pernah bertemu dengan ayah sebelumnya. Ayahnya meninggal saat Ami masih berusia dua tahun. Ia hanya tahu sosok dan rupa ayahnya melalui foto.

"Sayang, ayah akan bantu kamu. Nanti ayah akan memberi mamamu petunjuk untuk menemukan jasad kamu sayang,"

"Jasad aku Yah? Maksudnya?"

"Kamu menghilang sayang. Tapi tidak ada yang tahu kamu sekarang di mana. Dan kamu sudah meninggal sayang... Jasad kamu ada di hilir sungai. Kamu tenggelam saat mengikuti para relawan untuk mengarungi sungai mencari Bimo, anak kecil yang tadi kamu temui di jembatan," jelas nenek.

"Namun sayangnya, tidak ada yang menyaadari kalau kamu tenggelam sayang," timpal ayah.

"Jadi aku sudah mati?" tanyanya sambil menangis. Diikuti oleh anggukan kepala serempak para rombongan penjemput.

Sekian.

Mantan Supervisor


"What? Kenapa ayah resign dari kerjaan ayah? Nanti cicilan rumah dan belanja dari mana yah? Bunda kan udah nggak kerja, dagangan juga untungnya segini aja."

"Bunda... Sejak awal kita menikah kita punya kan dana darurat? Sementara kita pakai dulu dana darurat itu ya bun... Ayah mau cari kerja yang lainnya."

"Iya tapi kenapa ayah tiba-tiba keluar? Ada masalah?"

"Nggak ada, hanya saja ayah merasa kalau jadi supervisor di pabrik ini, ayah nggak bisa berpenghasilan lebih, ayah ingin kita punya tabungan lebih buat anak kita kelak," jawab Sukirman sambil mengusap perut istrinya yang sedang mengandung anak pertama mereka.

"Lalu ayah mau cari kerja di mana?"

"Di mana saja bisa bun, doakan ayah ya..."

Sungguh hal yang sangat tidak wajar dan aneh. Sukirman melepas begitu saja karirnya yang sedang memucak, ia bahkan akan dinaikkan jabatannya menjadi seorang manager. Tapi ia malah memilih utuk mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain. Sebenarnya pekerjaan macam apa yang diinginkan oleh Sukirman?

"Selamat anda di terima dan bisa mulai bekerja besok."

"Terimakasih Pak."

Tak begitu lama Sukirman mendapatkan pekerjaan baru. Ia bekerja sebagai Sales. Bukan sembarang sales. Barang yang dijualnya tidak ada yang berharga murah. Pelanggannya bukan perorangan melainkan suatu perusahaan atau pabrik. Ia bekerja menjual berbagai macam kebutuhan peralatan pabrik.

Sejak saat itu Sukirman merasa menjadi lebih hidup. Ia tidak lagi merasa bekerja dalam penjara. Ia mempunyai banyak relasi dan kenalan baru dalam pekerjaannya yang baru ini, dimana relasi dan kenalan barunya ini juga membuka rejeki dan memperluas peluang usaha rumahan istrinya.

Ia senang meski ia tidak memiliki tahta atau jabatan, tetapi gaji, penghasilan, pengetahuan, kenalan dan pengalamannya bertambah.

"Oh, suamimu cuma kerja jadi sales sekarang? Bukannya dulu supervisor? Korupsi ya?"

Tidak sedikit tetangga yang suka usil dengan komentarnya yang pedas. Seulas senyum cukup untuk menjawab perkataan mereka yang selalu ingin tahu.

Sekian...

Inilah Kau


Kau tak lagi pernah bilang sayang
Tak lagi pernah melantunkan lagu nina bobo untukku
Tidak pernah memberiku hadiah

tapi kau kini selalu mengecup keningku untuk membangunkanku
kau selalu mengecup pipiku untuk mengantarku tidur
senyummu menghiasi mataku saat aku terbangun
pelukanmu selalu menghangatkanku di tengah embun pagi

Kau tidak pernah ucap kata cinta
tapi jelas kau cinta, aku tahu!
Kau tak pernah bilang kau peduli
tapi jelas kau peduli, aku pun tahu!
Kau tak memberi apa yang aku inginkan, tapi kau selalu mampu memenuhi apa yang aku butuhkan.

Kau tahu?
Ratusan hari telah kita lalui
Kau selalu mampu membuatku jatuh cinta, lagi... dan lagi...
Itulah kau...

Senin, 14 September 2015

Mitos atau Fakta


Guys.
Aku adalah orang jawa yang hidup dengan unggah-ungguh (baca: peraturan) yang tak tertulis. Saya rasa di daerah lain pun seperti itu, entah. Saya belum pernah pergi ke luar Pulau Jawa (kecuali Bali dan Madura) meski suami saya adalah seorang yang berasal dari Sumatera.

Tidak sedikit juga mitos-mitos yang berkembang bahkan diyakini oleh sebagian besar orang di sini. Entah dari mana sebenarnya mitos-mitos itu berasal. Di sini saya akan menuliskan beberapa mitos yang pernah saya dengar dari kerabat maupun dari sahabat. Yang beberapa hal saya yakini kalimat tersebut sangat tidak ilmiah dan tidak beralasan. Sehingga saya merasa itu memang hanya sebuah mitos belaka.

Silakan bantu menjawab atau memberi ulasan di kolom komentar ya :) karena posisi saya sedang hamil anak pertama, so, sebagian besar mitos yang saya tulis di bawah ini berhubungan dengan dunia kehamilan dan sejenisnya.
Cekidot ;)

1. Orang hamil dilarang mandi di atas jam empat sore. Nanti pas melahirkan bisa kembar dara. (pendarahan lebih banyak dari pada normalnya)

Apa menurut kalian tentang kalimat di atas? Jujur secara medis saya belum pernah menanyakan hal ini kepada dokter saya, jadi untuk sementara saya turuti saja, bukan karena saya percaya tapi karena saya memang suka gerah di musim kemarau ini. Jam tiga atau empat udah mandi deh. Segeeerrrr!

2. Kalau lagi hamil nggak boleh minum es. Nanti bayinya besar, susah keluarnya.

Hm~ ini mitos yang cukup mengganggu karena saya adalah orang yang selalu minum air dalam keadaan dingin. Setelah berkonsultasi dengan dokter dan browsing sana sini. Akhirnya saya tahu bahwa yang menyebabkan bayi besar adalah glukosa yang berlebih dalam makanan ibu hamil. Bukan karena suhu.

Tapi, saya merasa sangat tertekan setelah kena omelan dari ibu dan dari bude. Pasalnya, bude dulu bayinya besar di dalam karena beliau suka minum air putih dingin. Katanya meski tanpa sirup dan sejenisnya, bayinya tetep besar karena minum es. Usut punya usut, bude dulu ngidamnya makan mangga. Mangga kan manis tu, lumayan juga kadar glukosanya, apa lagi sekali makan bisa habis sekilo. Dan bude makannya tiap hari tiada henti. So, mangga lah biang keroknya, bukan si air es -__-

Tapi kalau di debat tetep keukeuh. Ngalah aja deh, kalau mau minum dingin ngumpet-ngumpet.

Kata suami, orang dulu begitu kuat percayanya sama mitos karena minimnya pengetahuan dan informasi yang mereka dapat jaman dulu. Jaman dulu juga serba tradisional, nggak pakai ke dokter kandungan cukup pakai dukun beranak. Selesai.

3. Orang hamil nggak boleh pindah rumah. Nanti bayinya muda lagi. (maksudnya, misalkan kita pindah saat usia kandungan enam bulan, maka menurut mereka nanti bayi dalam kandungan kita jadi muda lagi seperti baru usia kandungan lima atau empat bulan. Jadi nanti bisa lahir pas sepuluh atau bahkan sebelas bulan)

Ini yang sangat mengganggu pikiran. Karena dalam waktu dekat saya berencana pindah tidur (baca: pindah rumah) ke rumah lain. Kondisinya sangat tidak memungki kan saya untuk tetap tinggal di tempat yang lama hingga persalinan.
Saya sih mantap aja. Niat baik pasti berbuah baik. Dan mencoba untuk berpikiran positip. Mungkin orang jaman dulu melarang pindah rumah saat hamil karena takut bumil capek hingga menyebabkan keguguran. Untuk hal ini saya sudah sepakat dengan suami. Bahwa, nanti saya cukup menjadi mandor saja, tidak usah ikut angkat-angkat atau jalan kesana-kemari.
Dari sisi psikologi mungkin bisa juga, dikhawatirkan bumil stres karena harus beradaptasi dengan rumah dan lingkungan yang baru. Karena stres pada bumil juga beresiko tinggi untuk bumil dan janin yang ada di dalam perut.

Untuk mitos yang satu ini, saya keep smile aja dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Toh, banyak juga orang yang pindah rumah saat hamil. Berdoa semoga Allah melindungi kami sekeluarga. Amiin.

Jempol udah mulai pegel karena postingnya pakai HP. Sementara tiga mitos itu dulu ya, disambung lagi lain waktu.

See you...

My First Pregnancy


Kalian pasti sudah sering mendengar atau bahkan pernah menjalani suatu hubungan jarak jauh. Long Distance Relationship (LDR).

Selama masa pacaran, aku dan suami menjalani LDR. Dia sedang menjalani studinya di Yogyakarta saat itu, sedangkan aku kerja di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Bukan waktu yang singkat saat itu aku rasa, tapi terasa berlalu begitu saja. Lima tahun pacaran jarak jauh, akhirnya kami mantap untuk memutuskan menikah. Saat itu aku tidak terlalu berambisi untuk langsung mempunyai momongan. Inginnya sih pacaran dulu secara langsung.

Empat bulan pertama berlalu. Aku mulai merasa sepi dan merasa tidak lengkap saat sendiri di rumah ditinggal suami kerja.

"Sayang. Aku pengen hamil."

Satu kalimat sederhanaku itu hanya ditanggapi seulas senyum oleh suamiku, dan sejak saat itu kami mulai serius dan berambisi untuk segera memiliki momongan. Namun Allah tidak langsung memberi kami kepercayaan itu. Setiap bulan selalu harap-harap cemas, berharap 'tamu merah' itu tidak datang, tapi ia selali datang tepat waktu bak tukang tagih utang.

Hingga bulan suci ramadhan tiba. Aku berdoa dan tiada henti memohon agar diberi kepercayaan dan amanah yang besar itu. Alhamdulillah. Tamu merah tak lagi datang setelah itu. Allahu Akbar.

Awalnya aku tidak sadar, hingga akhirnya suamiku yang mengingatkanku dengan bertanya, "tanggal berapa ini kok nggak datang tamunya?"

Sesegera mungkin aku membeli alat tes kehamilan mandiri. Menghadiahkan dua garis merah jelas kepada suamiku sesudah menjalankan sholat subuh.

"Alhamdulillah," ucap suamiku lalu ia memeluk dan mencium keningku. Momen yang cukup membuat hatiku terharu.

Sekian.

Pengamen


Siapa yang tidak kenal alat transportasi darat yang satu ini. Memiliki roda, jendela dan penumpang yang banyak. Bus. Semua orang saya rasa pernah menggunakan alat transportasi yang satu ini.

Bus kelas biasa pastilah sangat akrab dan erat hubungannya dengan para pedagang asongan, pengamen, bahkan peminta-minta. Kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman, tentang beberapa orang pengamen yang naik dan turun di sepanjang perjalanan saya bersama bus antar kota.

Tiga jam perjalanan lumayan membuat bosan. Untungnya aksi para pengamen sedikit memberi hiburan, pengusir rasa jenuh. Setidaknya ada lima orang pengamen yang naik turun di sepanjang jalan.

Pengamen pertama, tampilannya biasa saja. Sederhana cenderung dekil dan lusuh. Seorang perempuan yang aku taksir usianya sekitar kepala tiga. Ia bernyanyi dengan sebuah ukulele kecil. Lagu yang dinyanyikan tidak pernah ada di televisi ataupun radio, mungkin ciptaan mereka sendiri para perkumpulan pengamen. Suaranya biasa saja dan terdengar cukup mengganggu di telinga, tapi ia nampak begitu bersemangat. Sungguh. Meski wajahnya nyaris tanpa senyum, aku cukup terhibur. Aku putuskan untuk memberinya sekeping uang logam kuning dan disusul oleh ucapan terimakasih olehnya.

Pengamen kedua.
Dua orang anak muda bertato, yang satu plontos. Sedangkan yang satu lagi berambut gondrong. Dan yang paling mengejutkan aku. Pemuda gondrong itu sangat sangat mirip sekali dengan wajah saudara sepupuku yang lama menghilang entah kemana. Ingin aku sapa ia sekedar untuk memastikan. Tapi lidah ini kelu. Ciut nyali gara-gara tato dan tampangnya yang berubah sangar. Aku urungkan niat dan kembali mengamati dalam-dalam wajahnya. Aku tidak seberapa menggubris nyanyian dan suaranya. Di akhir pertemuan aku putuskan untuk memberinya selembar uang gambar pahlawan muda membawa sebilah parang. Disambut oleh senyum dingin yang terkembang dari bibirnya. Apa benar dia saudaraku itu? Entahlah. Belasan tahun ia menghilang. Mungkin ia juga lupa dengan wajahku.

Pengamen ketiga.
Lagi-lagi seorang perempuan. Menggendong seorang anak kecil. Bermodal kricikan dari beberapa tutup botol yang dipipihkan. Ia bernyanyi seadanya. Suaranya nyaris tidak terdengar. Lesu. Aku liat orang-orang di bangku depan banyak yang tidak memberinya uang. Aku jadi kasian melihat kantong permen yang ia sodorkan masih kosong melompong. Aku beri ia sekeping uang. Semoga mampu menjadi pelipur laranya.

Pengamen keempat.
Aku nyaris tidak menyangka bahwa ia naik bus ini dengan tujuan untuk mengamen. Ia perempuan. Mungkin sebaya denganku. Berpakaian rapi. Bahkan sangat rapi dan layak. Warna bajunya masih terlihat cerah, tidak pudar, ia mengenakan pashmina ala hijabers masa kini. Aku mengira ia adalah seorang pegawai atau mahasiswa.

Ia berdiri, lalu mengeluarkan satu botol bekas minuman yougurt yang terkenal itu. Botol bekas tersebut diisinya oleh bulir beras. Dan ia mulai bernyanyi sambil menggerakkan tangannya yang menggenggam botol. Pelan. Suaranya yang tak bersemangat sangat kontras dengan wajah dan penampilannya. Ah~ entah apa maksud ia menjadi pengamen dengan penampilan seperti itu. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku enggan mendengar suaranya. Aku bahkan tidak menoleh dan cuek ketika ia menyodorkan kantong permen ke arahku untuk meminta uang. Biar. Masih muda mengamen. Mau jadi apa, ngamen buat mempercantik penampilan? Ah, gila!

Aku liat sekelebat, selesai mengamen ia tidak langsung turun dari bus seperti ketiga pengamen sebelumnya. Ia berdiri di belakang dekat pintu. Hmm... Mungkin sekalian nebeng ke suatu tempat pikirku. Aku biarkan saja.

Saat mata mulai mengantuk, tiba-tiba mataku tertuju pada satu penumpang laki-laki yang sedang berdiri tak jauh di dekatku. Beberapa menit aku mengamatinya. Matanya selalu terpejam. Apa ia sedang tidur? Ah tidak, barusan kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri sambil mulutnya berkomat-kamit tidak jelas. Apa ia buta? Lantas dengan siapa ia naik bus ini? Pasti ada seseorang yang mendampinginya. Aneh.

Ia adalah pengamen kelima. Ternyata tak lama setelah itu tangannya mengeluarkan benda serupa dengan pengamen ke empat. Ugh. Sepanjang nyanyiannya yang tidak jelas ia tetap memejamkan matanya. Hm... kasian juga kalau ia memang buta. Aku siapkan lagi sekeping uang logam untuknya. Tapi... ketika ia selesai bernyanyi, matanya terbuka. Normal bisa melihat. Oh tidak. Aku jadi malas memberinya uang. Apa pula maksudnya memejamkan mata di sepanjang bus tadi? Aku urung memberinya uang.

Ketika selesai berkeliling, ia bergabung dengan perempuan pengamen ke empat dan beberapa pedagang asongan lain di belakang. Mereka nampak terlibat percakapan seru. Aku tajamkan telinga untuk mencuri dengar. Semua percakapan dalam bahasa jawa khas surabaya yang sudah aku terjemahkan ke dalam bahasa indonesia ya...

"Enak ya kalian ngamen, nggak pakai modal bisa dapet duit," seorang pengasong membuka obrolan.

"Lumayan mas," sahut hijabers pengamen ke empat.

"Sehari dapat berapa?"

"Kalau sepi sehari cuma dua lima ribu bang," kali ini pengamen kelima ikut nimbrung.

"Wah gede juga, sepi aja dua lima, kalau rame bisa cepek donk?"

"Nggak sampe mas, kalau rame paling cuma enam puluh," jawab si hijabers.

"Wah, gede itu. Saya aja jualan sehari belum tentu ada yang laku, pakai modal lagi. Pantesan orang ngamen di bus makin banyak."

"Iya, saya malas jualan. Susah laku. Belum tentu dapat uang."

"Bener, enakan ngamen. Nggak modal aja bisa dapet uang," hijabers malah menimpali.

Kuping dan hatiku mulai merasa panas. Ini pemikiran yang nggak bener, malas. Padahal mereka masih dalam usia yang produktif. Masih jauh lebih baik pedagang asongan itu, setidaknya ia mencari rizki dengan cara berdagang. Berusaha. Ah~

"Udah ngamen aja mas kayak kita, nanti aku kasih lagu-lagu,"

"Wah nggak mas... Saya dagang aja."

"Eh dikasih tau cara yang enak dan instan kok nggak mau, aneh," hijabers mencibir.

Huft... Bukan tukang asongan itu yang aneh, tapi kamu! Masih muda kok ngamen.

Rupanya aku nggak ngasih mereka uang tadi adalah keputusan yang tepat. Kedua pengamen itu bukan orang yang butuh. Tapi mereka adalah orang yang malas.

Naudzubillah.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita

Nikah Yuk!


Dengar
Gelombang cintaku
Mengalun merdu
dari degupan jantungku

Sayang
Kau selalu mampu
membuatku jatuh cinta
Lagi... lagi... dan lagi

Mengapa?
Parasmu biasa
Hartamu pun tak melimpah
Datang dari negeri yang tak ku kenali
Mengapa?
Kau genggam hati ini erat

Sayang...
Cinta aku cinta padamu
Jangan siksa aku dengan jarak dan waktu
Akhiri saja semua
dengan satu ucapan SAH yang membahana

Sissy


Seperti yang sudah kalian ketahui. Di era global ini semakin banyak kecanggihan teknologi yang ditawarkan dengan harga yang relatif murah. Hampir semua hal bisa dilakukan dengan gadget. Mulai dari mencari resep masakan, penunjuk jalan, mencari jodoh hingga transaksi jual beli pun bisa dilakukan melalui dunia maya. Hebat kan?

Salah satu atau bahkan beberapa diantara kalian yang membaca tulisan ini pasti tahu dengan istilah "Olshop" atau "Online Shop".
Berikut ini saya akan menuliskan hasil percakapan antara penjual dan pembeli yang bertransaksi di dunia maya. Contoh percakapan yang sangat sangat membuat hati para pelaku bisnis online ingin tertawa, sebal hingga marah.
Check this out ;)

Hari Rabu, 19.45 WIB

PING!!!
sis. jam yg di dp bgs. brp hrgax?

Halo, Siang sissy... Jam yang ada di display picture BBM kami harganya 70k. Belum termasuk ongkir yah ;) diorder yuk...

Ih~ km kq tw klo nma q sissy?

Hah? Maksudnya sis?:)

Td km pnggil aq sissy. nma q emg sissy. kok tw sih?!

Oh. Hehe kebetulan aja sis... :)

Aq mau donk jamx. yg wrna putih yah.

Oke sis... Jamnya mau dikirim ke alamat mana? Kita cek ongkirnya dulu.

Sby.

Lengkapnya sis??

Jln. ry rwrw rntk no 111 kc rntk kt sby

PING!!!
Tolong alamat nulisnya jangan disingkat sis. saya nggak paham, nanti bisa salah kirim loh kalau salah :)
(dalam hati seller mulai dongkol tapi berusaha tetap sabar)

aduh km rbet bgt sih gtu aja nggak ngrti. Jalan Rawarawa Rontek no 111 kecamatan rontek kota surabaya.

Ongkirnya 8ribu sis via J*E. totalnya 78ribu. mau transfer via rek apa?? BCA, Mandiri, BRI?

lho td ktax 70k. kok jd 78k.

70k harga sebelum kena ongkos kirim sis.

aduh g usah dkrm pke J*E. km aj antr k rmh q lgsg.

Maaf nggak bisa sis. Kami lokasi di Malang.

Oh. gitu. oke. eh tp q nggak punya rekening. gmn trfx y?

bisa setor tunai langsung di bank sis.

g bs aq kan krja

mungkin bisa pinjem rek temennya sis:)

oh y bnr jg. aq pnjm rek tmn q aj.

rek bca an. Abecede nomor 1234567890 ditunggu transferannya :)

PING!!!
rekx ats nma spa? ni mw d trf.
PING!!!
PING!!!
PING!!!

itu diatas kan sudah tertera sis :) an. abecede

oke. ni udh di trf. cek ya. aq pke rek tmn q nmax efgeha

Oke sis. sudah masuk sis. terimakasih.

ok sm2. bsk brgx smpe kn? klo bs smpe jm 11 siang aj y. krn klo pg n sore g ad org drmh.

Maaf sis. estimasi waktu pengiriman paling cepat 2 hari.

ok brti hr jumat y? jm 11. ingt. jm 11.

maaf sis. mungkin sabtu baru sampai. karena sekarang kan sudah malam, jadi barang sissy kita kirim besok.

knp g dkrm skrg aja biar cpt smpe?

Siss... mana ada J*E buka malam-malam jam 9 gini?

o iya. oke sbtu gppa tp klo sbtu. pagi aj antrx. sblm jam 11

sis. yang antar kurir, bukan kami. jadi kami nggak bisa nentuin jam sampainya.

oh gtu. oke deh. oya jamx tu gmpg pcah g klo jtuh dr meja?

jam kan terbuat dari kaca, pasti bisa pecah donk sis. Jangan dijatuh2in terlalu sering ya.

yah bs pch donk

...

oke.

hari sabtu 00.03 WIB

PING!!!
sis nnti pket smpe y? klo bs sruh pg donk kurirx
PING!!!
PING!!!
PING!!!
ih kok g dbls.

Sabtu 08.06 WIB
pagi, ditunggu aja.

sabtu 08.56 WIB
PING!!!
blm smpe jg nih.

...

Sabtu 09.11 WIB
PING!!!
PING!!!
sis msh lma y?

cek resi aja ini nomor resinya
btwkmnybelin125488265389926

ok

sabtu 10.00 WIB
udh jm 10 g nympe jg jam q :'(

sabar

Sabtu, 10.19 WIB
PING!!!
aq krj sis. nnti kurirx sruh ntipn ttngga sblh rmh aj.

...
(wtf26:###:883#~€~+'§%%§€^)

sabtu 12.00 WIB
sis kra2 jm q dh smpe drmh blm y

gak tau.
(seller udah dongkol banget ngeladenin pembeli tipe peneror dan bebal macam ini, padahal dia udah ngerti cara cek resi, tapi kenapa susah banget dikasih taunya).

ih kq gtu sih. jgn2 km slh tls almt atau nma q y sis.

nggak..

tp kq lama y.

tunggu aja.

19.35
blm dtg jg ni

maaf sis, kalau soal keterlambatan pengiriman bukan wewenang kami lagi ya sis. barang bisa dilacak di web ekspedisinya.

ok.

PING!!!
PING!!!
kapan nih sampe jamx? udh hr snin ni.

silakan tracking di web atau langsung telepon ke ekspedisi untuk komplain. terimakasih.

PING!!!
sis udh smpe brusn. tp ini jamx kq nggak nyambung y? kq ptus?

putus gimana ya maksudnya? kemarin kami kirimnya 100% dalam kondisi baik.

klo mau pake kdu dsmbung dlu sis.

Gubrak!!!
sis, jam emang kayak gitu kali. kamu nggak pernah beli jam ya sebelumnya?

ih enk aj. prnah donk. tp jam aq enk kyk gelang. nggk ptus gni.

hadehhh. itu model jam kayak gitu udah biasa kali sis... kamu aja yang kudet . oke, kalau nggak ada komplain lain. makasih udah belanja.

ok

:)

sis km jual sptu kn? aq liat donk modelnya.

maaf. silakan beli sepatu langsung di mall aja sis. nanti kamu ribet nggak nyampe2 paketnya, atau ukurannya nggak pas. atau komplain2 nggak jelas yg lainnya.makasih.
(seller lalu memilih opsi "delete contact" dan ia menghembuskan napas lega, fiuh.)

Terkadang menjadi pelaku bisnis online tidak semudah yang engkau bayangkan sobat. Itu baru contoh kecil, masih banyak lagi pengalaman-pengalaman para penjual online yang mungkin belum kalian ketahui. Ungkapan pembeli adalah raja itu benar adanya, tetapi raja yang baik akan berlaku bijak dan pintar sebelum dan sesudah bertransaksi.

Sekian.

Surat Kecil


surat kecil ini aku tulis saat aku merasa sangat tidak sempurna menjadi seorang istri.

Meski aku tidak tau persis apa yang kau bayangkan tapi aku mungkin tidak seperti yang kau bayangkan. Sosok seorang istri yang idealis bagi semua pria aku rasa sama. Ia haruslah pandai memasak, pandai berhias diri, pandai bergaul, pandai menata rumah, bijak mengurus anak, tidak suka mengeluh, ulet, bisa membantu suami mencari uang jika dibutuhkan, cantik, molek, elok, pandai mengaji, taat, patuh dan penuh kasih sayang.

Aku tidak pandai memasak, aku bahkan takut menghabiskan banyak biaya untuk bereksperimen. Entah mengapa dalam hati aku merasa bahwa kau rindu masakan ibumu yang nun jauh di sana. Aku tidak bisa sepertinya. Maaf.

Aku tidak pandai mengurus rumah, aku hanya mampu menjaganya agar tetap bersih dan rapi, tidak bisa seperti ibumu yang nun jauh di sana. Jeli melihat sudut pandang indah untuk mengisinya dengan sesuatu yang menarik namun tetap membuat rumah tampak lapang.

Suamiku.
Tubuhmu nampak lebih kurus hari ini. Itu pasti karena aku yang tidak pandai mengatur keuangan sehingga berapapun yang kau berikan selalu kurang meski kita tlah hidup hemat apa adanya. Maaf. Aku yang hanya lulusan SMA ini bahkan tidak cukup kompeten untuk bersaing dengan mereka yang membawa ijazah S1 dan S2 di luar sana. Terimakasih atas kebesaran hatimu menjawab setiap tanya teman dan saudaramu yang rata-rata telah menempuh pendidikan S2-nya bahwa aku hanyalah wanita biasa saja. Tidak cukup kuat pula fisikku untuk memenuhi keinginanmu membukakan aku kedai kaki lima di pinggir jalan.

Sayang, sesungguhnya aku cemburu dengan ibumu. Tapi apalah aku ini. Hanya seseorang yang baru kau temui. Tidak sebanding dengan ibumu yang selalu ada untukmu dari kau bisa bernafas. Maaf aku berkata demikian. Aku cemburu. Disetiap ketidakmampuan atau ketidaktahuanku muncul, kau selalu berkisah tentang ibumu.

Andai ibumu ada di sini. Pasti kau akan minta dibuatkan aneka ragam makanan. Mengajaknya mengobrol lama, lama sekali. Jalan-jalan. Membuatku cemburu.

Tak apa asal bahtera ini tetap kau nahkodai. Tidak menceritakan hal pribadi kepada keluarga atau ibumu. Tidak juga memaksakan keadaaan untuk menjadi seperti yang mereka mau. Ini bahtera kita dan kau nahkodaku. Aku harap engkau cukup bijak sehingga kita bahagia bersama.

Kamis, 18 Juni 2015

(Tidak) Jujur!


Hey kau anak muda, berambut klimis, bertubuh ceking, berkulit hitam nan dekil. Apa yang orang bisa lihat dari kau?

Kau tak sedap dipandang mata.

Tak sedap pula aromamu!

Jujur... Aku katakan. Aku malu mengakuinya. Entah. Aku jatuh hati padamu!

Mengapa? Kau tanya mengapa?

Cuek!

Itu hal yang paling aku cinta. Lantas mengapa kau hanya berdiam diri mematung di sudut ruang itu?

Kemari dan rengkuh aku. Agar aku dapat mencium aromamu. Aroma uang yang menguar dari balik dompet tebalmu.

Kemari. Aku ingin merampas seluruh kedekilanmu dompetmu! Menguras habis isinya hingga bersih, agar ia tak lagi dekil seperti kamu! Masa bodoh kerja keras! Berpeluh dalam deru mencari uang!

Kau dapat cintaku. Dan aku dapat uangmu!

Miris. Lebih dari seperempat abad sudah kita bersanding. Ketika kau jatuh sakit, separuh nyawaku serasa hilang.

Kemari, sandarkan kepalamu di pundakku. Ini ambil saja uangmu, yang aku rampas bertahun lamanya darimu. Aku tak butuh itu.

Miris. Ternyata kau dan aku telah setua ini. Butuh waktu lama untuk membuatku sadar. Kau benar. Cinta tak butuh uang.

Hanya kejujuran untuk mengakui. Bahwa kita lemah tanpa pasangan.

Aku jatuh cinta padamu untuk pertama kalinya saat usiaku di awal enam puluh tahun ini.

Awal dan akhir cinta yang aku rasakan begitu tragis. Kau pergi ke surga dengan merampas seluruh hatiku.

Di sini. Aku hanya bisa mengelus pusaramu.

Tumpukan uang dan sederet rumah tak lagi berarti untukku tanpa hadirmu.

Panggung Palsu


Sayang... Kau tahu apa terpikir olehku saat aku melihatmu malam ini? Aku sedang berpikir tentang kita.

Indahnya bila mataku berpadu dengan matamu. Wajahku berpadu dengan wajahmu. Hidupku bersama dengan hidupmu. Satu. Dalam surga kita, di istana kita. Didampingi oleh seorang malaikat yang kecil yang dikirimkan Tuhan untuk kita. Perpaduan antara kau dan aku.

Blup!
Kelebatan imaji barusan bak gelembung yang tiba-tiba meletus di udara. Aku tersadar.

Kita tidak sedang berada di dunia nyata. Ini semua hanya rekaan, ilusi dan kepalsuan yang kita hadirkan di atas panggung. Ketika kau menatap kedua mataku, mungkin dunia berhenti berputar. Ketika kau mengalihkan pandanganmu ke barisan senar panjang pada gitar itu, aku merasa terbangun dan melanjutkan semua sandiwara.

Menari. Menyanyi. Tersenyum. Jatuh cinta. Bahagia. Semua rasa bercampur menjadi satu di atas pentas.

Ketika semua usai. Aku menahan pose andalan barang sejenak sambil terus menatapmu.

Blub!
Gelembung kebahagiaanku kembali meletus di udara. Aku tersadar. Cukup sekian kebersamaan kita. Singkat. Aku kecewa.

Sosokmu terasa begitu jauh di mataku, meski sebenarnya engkau hanya dua hasta di hadapku. Aku semakin larut. Sosokmu semakin menghitam. Jauh. Tak lagi terlihat oleh mataku yang dibutakan oleh cinta. Kau tak terjangkau bagiku di dunia nyata.

Hanya bisa berharap, kau akan kembali bersanding denganku untuk memetik gitar, menyanyi, menari dan bertingkah layaknya kekasihku di atas panggung. Panggung sandiwara.

Dan hujan menghapus jejak air mataku...

Dee~150615

Senin, 08 Juni 2015

Untuk Reza


Aku bukan orang yang tiba-tiba dapat merangkai kata
Tidak
Bukan
tapi kali ini aku ingin merakitnya satu atau dua untukmu...

Agar aku dapat selalu mengenangmu
di sini
di tepian peron stasiun kereta api
Aku membingkai wajahmu dalam jendela-jendela gerbong kereta
yang tiba

Agar aku dapat merasakan manisnya rasa rindu padamu
di sini
di shelter para penjemput penumpang bus kota
Menitikkan setetes air mata saat melihatmu
Berjalan...
merangsek di antara kerumunan orang
dengan wajah lelah dan senyuman hangatmu

Agar aku dapat menyimpan semua kenangan indah tentangmu
di sini
di hatiku yang telah kau miliki

Agar aku selalu dapat menjadi satu-satunya ratumu
di sini
di rumah ini, istana kita

Tak ada lagi rindu yang tertahan hari, rinduku kini hanya berhitung dalam jam
Tak ada lagi gerbong kereta yang aku nanti, yang aku nanti hanya raungan mesin motormu saat senja
Tak ada lagi wajah lelahmu sedari perjalanan panjang yang aku dapati, kini wajah lusuh nan berpeluhmu yang menghiasi

Terimakasih
Atas kenangan indah saat menjadi kekasih dulu
dan terimakasih
Untuk semua perjuangan dan pengorbananmu untukku, istrimu.

Aku sayang kamu suamiku...

Gadget


Gita dan Hendro sedang asyik berduaan di taman.

"Sayang... Kamu lagi ngapain sih?"
"Bales-balesan komen di ef-bi nih sama temen-temen."
"Temen-temen siapa sih?"
"..."
"Sayang... Kau kok diem aja nggak jawab? Aku jauh-jauh dari Yogya ke Surabaya lho! Sampai sini malah dicuekin."
"Eh iya-iya sayang, maaf. Ini... Lagi ngobrol sama Karina, Dewi, Desy, Tasya."
"Ya ampun, tadi kan baru ketemu! Besok kalian juga ketemu, emang penting banget ya topiknya?"
"..."
"Hmm... Diem lagi."
"..."
"Ya sudah. Mulai saat ini kita putus!!! Aku mau pulang."
"Oke!"
"¥^££§§^^~~€^£]]¥¥^^€§$"

dan Gita pun tetap asyik melanjutkan obrolan di dunia maya dengan gadget kesayangannya.

===========================

Jenny. Gadis cantik nan kemayu sedang bersantai melepas lelah di kamar tidurnya.

Criingg...
Sayup-sayup terdengar bunyi suara handphone Mak Tun dari luar sana.

Jaman sekarang, bahkan orang setua apapun pasti mengenal benda kecil yang dapat menghantarkan pesan dan suara ini.

Kriieet...
Pintu kamar Jenny terbuka sedikit, nampak wajah Mak Tun mengi bgtip dari luar.

"Eneng manggil saya?"
"Nggak tuh! Aku tadi sms Mak Tun!"
"Iya maksud saya itu Neng. Ada yang bisa Mak bantu Neng?"
"..."

Jenny bukannya menjawab, malah asyik dengan HP barunya.

Criiing...

Handphone Mak Tun kembali berbunyi. Perempuan tua itu lalu merogoh kantong bajunya, membaca SMS yang baru saja masuk.

"Eneng mau dibuatin spageti?"
"Iya."
"Kenapa mesti sms Neng, ngomong langsung aja sama Mak kan lebih cepet Neng."
"Ngabisin bonusan SMS Mak."
"-#_(@6#3)}}%^'£^¥§…"

Mak Tun pergi meninggalkan kamar Jenny dengan sejuta perasaan dongkol.


============================

"Edi! Sini kamu cepat!"
"Iya bos, ada apa bos?"
"Kamu kan sudah saya larang pakai HP saat kerja kenapa kamu langgar?"
"Maaf bos, tadi dari Ibu saya, beliau nitip dibeliin ayam goreng nanti pulang kerja."
"Bukan urusan saya! Kalau kamu pakai HP lagi. Kamu akan saya pecat! Mengerti?"
"Iya bos, maaf."

Dddrrrt ddrrrtt ddrrrtt
HP Edi bergetar-getar di meja kerjanya. Tapi ia hanya berani melirik layarnya. Nama "Bos Besar" muncul di sana.

"Ini pasti jebakan, si bos sengaja nelepon ke HP aku buat ngetes aku pakai HP saat kerja atau tidak. Cih, aku tidak sebodoh itu bos. Sorry ye, aku nggak angkat teleponnya. Kalau aku angkat, nanti daku kau pecat. Makan apa anak dan istriku nanti."

Dddrrtt Dddrttt Dddrrrrttt
HP Edi kembali bergetar, dan nama yang sama masih muncul di layarnya. Ia jadi ragu, jangan-jangan ada sesuatu yang penting dari bos. Tapi demi gaji yang berkelanjutan, ia putuskan untuk tetap tidak menerima panggilan telepon itu.

Keesokan harinya.

"EDI!!!! SINI KAMU!!!"
"Iya bos," jawab Edi santai.
"KAMU SAYA PECAT!!!!"
"Lho, kenapa bos? Kan saya udah nggak pakai HP lagi pas kerja."
"KENAPA TELEPON SAYA NGGAK KAMU ANGKAT KEMARIN? SAYA KEMARIN NYARIS CELAKA KARENA DI KEJAR-KEJAR BENCONG!"
"..." Edi hanya terdiam mendengarkan.
"GARA-GARA KAMU NGGAK ANGKAT TELEPON SAYA, SAYA JADI KETANGKEP SAMA BENCONG, MALAMNYA ISTRI MINTA CERAI GARA-GARA ADA BEKAS LIPSTIK DI PIPI SAYA. LIPSTIK BENCONG! SEMUA GARA-GARA KAMU!!!"
"..."
"Coba kamu angkat telepon saya! Kamu tolongin saya! Kamu kan Bosnya mereka!"
"Sinting!" jawab Edi singkat lalu keluar ruangan dan membanting pintu.

===========================

Gadget oh gadget...

Coba Terka


^~^~
Ada tiga
Tidak pernah tidur
biasanya makan cuma sekali dalam setahun, atau sekali dalam enam bulan
Panjang, pipih, lancip
Apa hayooo??


~^~^
Ditusuk nggak marah
disiram nggak marah
dimakan nggak marah, dibuang pun ia rela
dibakar pernah, digoreng pernah,
apa hayooo?


~_~
Panjang,
kalau penuh baru jalan
Apa hayooo?


~^~^~
nggak kelihatan tapi ada
terasa tapi tak teraba
apa hayooo?


Boleh jawab di kolom komentar :p

Sekian iseng-iseng kali ini. Terimakasih.
Hahaha

Kamis, 04 Juni 2015

Reuni


Reuni yang menurutku adalah sebuah ajang temu kangen dan media untuk menyambung tali silaturahmi sekarang sudah berubah. Bagi sebagian besar orang, reuni kini bergeser arah menjadi sebuah ajang pamer. Pamer pangkat, pamer harta, pamer pasangan, pamer fashion sampai pamer gigi emas.

Ironis memang tapi terkadang tujuan pamer itu lebih mendominasi dari pada sekedar melepas rindu.

Aku,
tidak ada harta yang patut aku unggah, tak ada jabatan, fashion ataupun gigi emas. Tidak. Tujuanku menghadiri acara itu murni untuk bertemu kalian semua kawan dan sahabat masa kecilku, karena aku memang rindu lama tak bertemu.

Tapi ketika topik pembicaraan beralih kepada dia yang tidak hadir saat itu. Dia yang selalu mampu merebut perhatian semua orang hanya dengan senyum berlesung pipinya itu. Dia yang menjadi idola sekaligus incaran hampir di seluruh kaum hawa penghuni sekolah saat itu. Dia yang hanya sebuah misteri bagi mereka semua. Ketika mereka mulai membicarakannya, perlahan-lahan tujuanku sedikit berubah. Ini yang akan aku pamerkan.

Tidak, dia bukan pasanganku. Dia adalah cinta pertamaku. Sungguh hanya dia yang mendominasi ruang di hati sebelum suamiku merebut hatiku darinya. Dia adalah sahabatku. Ini yang akan aku pamerkan. Saat semua sibuk bertanya-tanya tentangnya, aku dapat dengan mudah menjawab pertanyaan mereka. Kontaknya ada di semua sosial media milikku. Bukan hanya karena dia sahabatku, itu juga karena aku dulu mencintainya. Aku tahu semua tentangnya.

Sudah lama kami tak bertemu, dia semakin sibuk dengan profesinya. Andai dia hadir di acara ini. Sudah mesti dia akan menjadi bintang yang paling terang. Belasan tahun aku memendam rasa kepadanya, bersahabat dengannya. Tapi Tuhan menuliskan hal lain untuk kami, agar kami tetap bersahabat sampai lanjut usia. Mungkin kelak kami akan hadir bersama di reuni-reuni yang akan datang bersama anak cucu kami.

Aku rindu kamu, bukan sebagai cinta pertamaku, tapi sebagai sahabatku. Empat tahun berlalu... Dia tiba-tiba datang di ambang pintu rumahku dengan menggandeng seorang jagoan kecil berlesung pipi. Oh... mirip sekali mukanya dengan dia semasa kecil. Sebuah reuni kejutan antara kedua keluarga kami.

Dia menjabat tangan suamiku dan memeluknya ringan. Anaknya dan anakku tampak akrab. Istrinya sangat cantik. Semua terlihat bahagia di sini. Tanpa dia tahu bahwa aku dulu pernah mencintainya.
Dulu... Jauh sebelum semua reuni-reuni ini terjadi.

Selasa, 05 Mei 2015

Hobbies

Beberapa karya, hobi baru yang terkadang menghasilkan uang juga xixixixi >.<



 Taplak Meja Persegi Panjang

 Gelang Tali


 Bandana Setengah Jadi


 Sudah Jadi ^_^


 Taplak Meja Bundar

 Taplak Meja Bundar


 Bandana














Sisa Benang 

 
Jepit / Bros Pita

 
Pouch Rajut

 
Pouch HP

 
  In Progress; Tirai Pintu Manik Rajut


Belajar Jahit Dasar




Buku Antologiku
 













Live
Love 
Learn
Do and Pray

Tukang Tambal Ban

We weren't born to follow

Semua orang terlahir dengan keadaan dan situasi yang pasti tidak dapat ia rubah. Itu bukan salahnya, tapi jika ia mati dengan keadaan yang sama atau bahkan lebih buruk dari pada saat ia terlahir, itu baru salahnya.

Kemarin,
Saat langit tidak menampakkan semburat biru cerahnya. Aku melangkahkan kaki menuju kesebuah gubug. Dibangun ala kadarnya, masih beralaskan tanah. Di sana ada seorang lelaki tua yang aku perkirakan usianya sekitar enam puluh tahunan. Berpeluh berkutat roda. Ia adalah seorang tukang tambal ban.

Bahkan saat di jaman yang serba digital ini ia masih menggunakan pompa angin kuno. Mengandalkan kekuatan tangan dan badan serta kerjasama kaki untuk memompa angin ke dalam ban. Semua peralatannya serba kuno, karena itulah proses tambal ban di tempat bapak tua itu memakan waktu yang cukup lama.

Aku duduk mengantri dengan sabar. Sesekali melihat ke arah jalan, memandang kosong orang-orang yang sedang berlalu lalang. Sebentar kemudian aku memperhatikan sepeda ontel warna pink-ku. Kotor. Mungkin setelah ini aku akan mencucinya. Pandanganku beralih ke bapak tua itu. Ia sedang sibuk mengobrak-abrik kotak perkakasnya yang terbuat dari kayu. Entah apa yang dicarinya di sana. Ia nampak serius sekali, sambil sesekali menggaruk-garuk kepalanya dengan tangannya yang hitam, kotor.

Ah! Sayang, apa yang dicarinya tidak ketemu. Seorang pasien tambal ban nampak kecewa karena penyakit ban bocornya tidak dapat teratasi. Sayang, orang itu tak mau membayar upah bapak tua yang sebenarnya sudah cukup bekerja. Mungkin seribu atau dua ribu rupiah saja sudah cukup untuk mengukir senyum di wajah berkerutnya.

Belum rejeki. Mungkin itu yang ada didalam benak bapak tua si penambal ban.

Tiba giliranku. Dengan sedikit magic bapak tua itu akhirnya mampu menyelesaikan penyakit banku. Upahnya agak mahal menurutku. Lima ribu rupiah, tapi tak apalah. Kasian.

***

Hidup ini betapa penuh dengan perjuangan orang-orang di sekeliling kita. Aku tipe orang yang suka jajan. Suka nyemil. Kadang uang belanja makanan pokok jumlahnya jauh lebih kecil dari pada uang jajan. Sekarang aku lebih banyak melihat, merasa dan prihatin. Masih sangat sangat banyak orang di luar sana yang jauh dari kata normal. Jangankan untuk makanan nasi. Makan singkong pun mereka masih harus berusaha keras untuk mendapatkannya. Berpeluh di bawah matahari. Tenggorokan kering menahan dahaga. Semua demi upah rupiah yang tak seberapa.

Setiap bulan kita bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu untuk pulsa. Sesuatu yang tak bisa membuat kenyang di perut. Tapi kita bahkan tidak bisa menahan hasratnya untuk membeli. Melebihi rasa lapar yang kadang terasa di perut.

Tiap ingin jajan aku ingat mereka.
Kasian.

Semoga aku bisa lebih berhemat.
Semoga aku bisa lebih bersyukur.
Semoga kelak aku bisa berbagi dengan mereka...

Bagaimana dengan kalian??

060515

Bencana Buku Bisu

Oh Tuhan...
Kata orang langitMu seindah lautan
Tapi bagiku tetap segelap malam
Terang? Tidak! Padam...

Oh Tuhan
Kata orang pelangiMu alangkah indahnya
Bagiku tak sepadan
Masih saja padam

Orang sepertiku mana boleh bermimpi
Orang sepertiku tak punya nyali
Pun sekadar imaji
Hanya diuji, sepi...

Tuhan...
Meski semua gelap bagiku
Aku tahan
Cukup buatlah satu keajaiban untukku

Untuk aku agar dapat mengenal dunia
Untuk aku agar dapat merasa
tak ada beda...
Lewat suara
Mereka
Para serpihan pipih nan timbul yang selalu ku raba
Pada lembaran tebal nan timbul yang selalu ku bawa

Hanya beri satu keajaiban kecil untukku
Lewat mereka
Agar bersuara
Agar aku mendenger celotehnya dengan riang
Hingga aku tutup usia

Masih dalam gelapku
Masih dalam kebisuan mereka

Aku...
Tak apa-apa
Kini aku hanya ingin surgaMu
Kata mereka di sana oh indahnya

#gakjelasbanget
050515

Rabu, 29 April 2015

Ketika


Allah telah menyatukan kita, ketika kau mantap menggandeng tanganku. Ketika kau seberangi lautan untukku, ketika kau ucap ijab kabul di hadapan penghulu.
Allah telah menyatukan kita

Ketika kau menjadi suami, kau sadar bebanmu sungguh berat. Menyanding putri tunggal tak berharta apa lagi bertahta. Orang berpikir bahwa kau beruntung mengawini seorang putri tunggal. Nyatanya kau (mungkin) tak seberuntung itu. Allah telah menyatukan kita.

Ketika aku menjadi seorang istri. Aku sadar bebanku berat. Menjadi tiang rumah tangga. Menghidupkan obor untuk menerangi, menghangatkan, menjaga apinya agar tak membesar. Membakar. Aku putri tunggal dengan orang tua tunggal. Ibuku... Aku menjaga agar aku tak menjadi putri tunggal yang durhaka, dan aku pun menjaga agar tak menjadi istri yang tidak sholehah.

Ketika orang tuamu yang jauh di seberang melepasmu untukku. Untuk putri tunggal dari dunia antah berantah yang baru ditemuinya barang sekali saja. Aku tahu (mungkin) batin mereka berontak. Menolak. Aku (mungkin) tahu upaya untuk mencegahmu. Tapi kuasa Allah lebih besar. Allah telah menyatukan kita.

Ketika Ibuku melepasku. Aku tahu hatinya tak rela. Aku (mungkin) tahu ia tak cukup percaya diri menghantarkan si putri tunggalnya padamu tanpa kemewahan yang (mungkin) dimiliki oleh keluargamu. Aku menjaga kesucianku untukmu bukankah itu adalah harta yang lebih dari cukup untuk Ibuku berbangga hingga Allah telah menyatukan kita.

Ketika kau, aku dan Ibu tergabung dalam satu koloni. Aku tahu ini berat untukku secara psikis. Berat untukmu secara materi (mungkin). Obor yang aku jaga perlahan membesar. Oleh angin yang (mungkin) ditiupkan keluargamu.

Mereka melihat bebanmu. Seolah mereka merasa. Seolah kami menyiksa. Memaksa. Mereka mengasihimu, bukan kita atau bahkan kami!

Oh Allah,
Jauhkan semua prasangka dari dalam pikiran kami semua...

Aku tak sekuat karang, baja atau gajah!
Aku hanyalah aku... Istri, anak, menantu, calon ibu
Aku tak bisa sebijak hakim yang mengetukkan palu kebenaran untuk apa yang telah ia analisa

Aku takut obor ini semakin membesar!
Membakar seisi rumah. Memanggang hidup-hidup aku. Apa aku padamkan saja obornya?

Ketika gelap
Aku tak mengenal, aku jadi tak berakal, aku bakal kebal. Bebal.
Ketika gelap aku tak bisa melihat suamiku, aku (mungkin) juga tak bakal melihat surga-Mu.

Ketika kau menjadi suami. Kau sadar bebanmu berat. Kau tetap menjadi milik keluargamu (Ibumu), tapi kau juga memiliki tanggung jawab untuk tetap kokoh dan memutuskan hal agar menjadi sebijak hakim. Menekan kepentingan di atas kepentingan.

Ketika aku menjadi istri. Aku sadar bebanku berat. Aku tak lagi menjadi milik Ibuku, yang (mungkin) berpura sudah ikhlas melepasku nyatanya belum. Aku punya suara tapi lirih tak terdengar oleh digdayanya kedudukan suami dan Ibuku. Aku memiliki jiwaku tapi (mungkin) aku sebenarnya tidak pernah hidup.

Ketika kita menjadi pasangan. Kita tahu beban itu berat. Tapi Allah telah menyatukan kita...

Jalani
Hadapi

Aku ingin kita tumbuh besar. Aku ingin kita tumbuh dewasa. Aku ingin mereka benar-benar menjadi dewasa. Aku hanya ingin kau menggandeng tanganku selalu.

Karena Allah telah menyatukan kita

Ketika lidah lidah semakin tajam memburu kita, aku ingin kau tahu bahwa aku masih mematung bersayat berdarah olehnya. Selamatkan aku dengan digdayamu. Selamatkan aku dengan doa melalui lidahmu.
Ketika (mungkin) suatu saat aku mati karenanya, aku hanya ingin kau masih menjadi milikku.
Sungguh, karena Allah telah menyatukan kita...

Malam Tantangan Owop: Ujian


Aku menggelepar dalam amarah
Dalam aura merah, berdarah
Aku tertunduk resah
Mencaci takdir? Tak usah!

Kenari
Kemarin menari
Kemari
Kemana kau hendak lari?

Ini ujian
Tapi bukan penentuan
Ini ujian
Bisa jadi masa depan

Lelah marah
Mencari jawab tanpa arah
Lelah meratap
Ujian masih menetap

Bisa kau jawab ini?
Puluhan tanda lengkung bertitik bawah ini?
Haruskah aku abaikan ini?

Bias pelangi begitu indah
Tapi jawabanku masih mentah
Ke mana aku mencari? Entah!
Soal ujian ini masih tertawa gagah
Aku menyerah!

Mari kita bubar
Karena perut sudah lapar
Aku makin menggelepar
Ujian tertawa liar
Biar!

Selasa, 28 April 2015

Kau akan Tahu Rasanya


Percayalah.
Meski kau merasa bahwa masa kecilmu tidak bahagia, kau salah!
Masih berani lidahmu mengucap bahwa kau tidak beruntung saat kau belum pandai bicara?

Oke.
Lanjutkan saja bualan ini Dee...
Berapa dari kalian yang saat ini sudah menikah?
Bahagia bukan? Aku yakin jawabnya pasti "iya"
Tunggu hingga kau merasa jenuh dengan semua kewajiban seorang istri
Tunggu hingga kau mengidamkan seorang bayi kecil
Tunggu hingga bayimu hadir
Bahagia?
Pasti!
Sadar tidak? Semenjak kau memutuskan untuk berkeluarga kau harus lebih pintar berlapang dada.
Menomorsatukan suami
Menomorwahidkan anak
Berjuang untuk keduanya

Kau akan Tahu Rasanya...
Masa kecilmu begitu bahagia
Bapak Ibu memberimu segalanya
Mengesampingkan segalanya demi kamu

Masih mangkir? Masa kecilmu masih kau rasa tidak bahagia?

Mari kita lanjutkan lagi.

Ada diantara kalian yang masih belum berkeluarga? Kuliah? Sekolah?

Pikirkan
Berapa banyak usahamu untuk sampai ke fase ini?
Belajar saja? Berprestasi saja?
Itu hanya debu!
Pikirmu dari mana kau bisa belajar dengan nyaman hingga semua materi mampu kau lahap dengan rakusnya dan menghasilkan sebuah prestasi?
Orang tuamu!
Jika semasa kecil mereka tak merelakan seluruh waktunya untukmu apa jadinya?
Mungkin sekarang kau masih merangkak tak dapat berjalan!

Masih berpikir kau tak bahagia semasa kecil?

Kau punya motorkan?
Motor hasil jerih payah orang tuamu...
Ambil saja kuncinya, dan jalan saja ke panti asuhan.
Masuklah ke dalamnya.

Apa yang kau dapati?

SENYUMAN!

Bagaimana mereka bisa tersenyum selebar itu?
Sebagian dari mereka bahkan mengira dirinya terlahir dari batu seperti Sun Go Kong dalam film kera sakti

Kau akan Tahu Rasanya...
Masa kecilmu begitu bahagia
Bapak Ibu memberimu segalanya
Mengesampingkan segalanya demi kamu

Mereka?

Bahagia tanpa alasan

Jangan selalu melihat ke atas...
Ingatlah dari mana kamu berasal
Tanah
Tundukkan kepala dan mulailah bersyukur
SEKARANG!

Maka Kau akan Tahu Rasanya...

Senin, 27 April 2015

Asal Nulis


Sayang
Ikrar telah terucap
Membayang
Merayap

Pernikahan ini...
Kata orang sebuah bahtera
Di atas awan cinta
Bercengkrama berdua kini

Ah, bulan pun nampak begitu indah karena cinta
Kesunyian pun menjadi begitu sempurna karena cinta
Sayang...
Hanya fatamorgana

Terhenyak
Bahtera ini tak memiliki navigasi
Celakalah!

Jumat, 24 April 2015

Lomba Menulis FF DL mei 2015


Hai, jumpa lagi! Kemarin pada ikutan event bertema rindu dan pohon kenangan kan? Dan sekarang para kontributornya lagi nunggu buku terbit. Yap, sabar ya, bukunya sedang tahap penyusunan dalam antrian di meja editornya. Sambil menunggu buku bertema rindu dan pohon kenangan, ikutan event penerbit meta kata lagi yuk. Kali ini ada dua temanya adalah kisah putih abu-abu dan sahabat pena.
Sebagian dari teman-teman sudah mengalami indah-getirnya masa SMA kan? Bisa jadi masa cinta pertama, masa BFF, guru killer atau pelajaran matematika yang bikin sakit kepala. Oke deh, tak perlu berpanjang-panjang ya, berikut adalah persyaratannya :
  1. Lomba terbuka untuk umum.
  2. Lomba dibuka dari tanggal 19 April sampai dengan 15 Mei 2015 (pukul 23:59 WIB). 
  3. Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
  4. Like FansPage “Penerbit Meta Kata” dan bergabung dalam grup “Pena Meta Kata”.
  5. Naskah dalam bentuk  :
Flash Fiction : panjang naskah maksimal 500 kata, ditambah biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan.
  1. File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm, batas margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi.
  2. Tulis subjek email dan nama file: judul_nama penulis jika dikirim ke arvelristy13@gmail.com
  3. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya makanya tulis satu kisah putih abu-abumu yang sangat berkesan atau pun inspiratif.
  4. Update peserta bisa dilihat di dokumen grup “pena meta kata” dengan nama “Update Peserta Kisah Putih Abu-Abu” yang dilakukan oleh Risty Arvel setiap hari senin dan kamis.
10.  Akan dipilih 2 (dua) naskah pemenang masing-masing event yang akan mendapatkan hadiah berikut:
FF terbaik 1: mendapat pulsa sebesar 25 ribu rupiah plus voucher penerbitan sebesar 100.000 plus e-sertifikat.
FF terbaik 2: mendapatkan vouche penerbitan sebesar 100.000 plus e-sertifikat.
#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.
11.  Selain naskah pemenang, juga akan dipilih puluhan naskah nominator yang akan dibukukan bersamaan dengan naskah pemenang dan setiap nominator akan mendapatkan diskon 10% dalam pembelian buku terbit dan kontributor yang membeli akan memperoleh e-sertifikat yang dikirim ke e-mail.
12.  Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 28 mei 2015.


B. LOMBA BERTEMA SAHABAT PENA oleh Bunda Ocha Thalib
Pasti sebagian dari kalian memiliki sahabat pena, bisa jadi melalui surat-menyurat atau pun postcard seperti hobi Bunda Ocha Thalib. Di antara beberapa sahabat penanya pasti ada satu-dua cerita yang membuat kalian tersenyum geli atau pun terharu. Oke tak perlu berpanjang-panjang, ya, yuk ikutan dan simak aja persyaratannya sebagai berikut :
1. Lomba terbuka untuk umum.
2. Lomba dibuka dari tanggal 19 april sampai dengan 15 mei 2015 (pukul 23:59 WIB). 
3. Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
4. Like FansPage “Penerbit Meta Kata” dan bergabung dalam grup “Pena Meta Kata”.
4 Naskah dalam bentuk  : Flash Fiction panjang naskah maksimal 500 kata, ditambah biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan.
5. File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm, batas margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi.
6. Tulis subjek email dan nama file: judul_nama penulis dikirim ke pena.metakata@gmail.com
7. Setiap peserta hanya boleh mengirimkansatu naskah terbaiknya yang berkaitan dengan sahabat pena.
8. Update peserta bisa dilihat di dokumen grup “pena meta kata” dengan nama “Update Peserta event sahabat pena”.
9. Akan dipilih 2 (dua) naskah pemenang masing-masing event yang akan mendapatkan hadiah berikut:
FF terbaik 1 : memperoleh pulsa 25 ribu + Voucer Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat
FF terbaik 2 : voucher penerbitan senilai Rp 100.000 +e-sertifikat.
#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.
10. Selain naskah pemenang, juga akan dipilih puluhan naskah nominator yang akan dibukukan bersamaan dengan naskah pemenang dan setiap nominator akan mendapatkan diskon 10% dalam pembelian buku terbit dan kontributor yang membeli akan memperoleh dan e-sertifikat yang dikirim ke e-mail.
11. Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 28 Mei 2014



Oke, Mohon diperhatikan semua aturan yang ada dan Selamat berkarya….
NB: dilarang menanyakan pertanyaan yang sudah ada di pengumuman event, seperti kapan deadline, update peserta ada di mana, dsb. Dilarang menghubungi PJ secara personal (melalui inbox).

Salam,
a.n.
Penanggungjawab
Risty Arvel dan Bunda Ocha Thalib