Kalian pasti sudah sering mendengar atau bahkan pernah menjalani suatu hubungan jarak jauh. Long Distance Relationship (LDR).
Selama masa pacaran, aku dan suami menjalani LDR. Dia sedang menjalani studinya di Yogyakarta saat itu, sedangkan aku kerja di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Bukan waktu yang singkat saat itu aku rasa, tapi terasa berlalu begitu saja. Lima tahun pacaran jarak jauh, akhirnya kami mantap untuk memutuskan menikah. Saat itu aku tidak terlalu berambisi untuk langsung mempunyai momongan. Inginnya sih pacaran dulu secara langsung.
Empat bulan pertama berlalu. Aku mulai merasa sepi dan merasa tidak lengkap saat sendiri di rumah ditinggal suami kerja.
"Sayang. Aku pengen hamil."
Satu kalimat sederhanaku itu hanya ditanggapi seulas senyum oleh suamiku, dan sejak saat itu kami mulai serius dan berambisi untuk segera memiliki momongan. Namun Allah tidak langsung memberi kami kepercayaan itu. Setiap bulan selalu harap-harap cemas, berharap 'tamu merah' itu tidak datang, tapi ia selali datang tepat waktu bak tukang tagih utang.
Hingga bulan suci ramadhan tiba. Aku berdoa dan tiada henti memohon agar diberi kepercayaan dan amanah yang besar itu. Alhamdulillah. Tamu merah tak lagi datang setelah itu. Allahu Akbar.
Awalnya aku tidak sadar, hingga akhirnya suamiku yang mengingatkanku dengan bertanya, "tanggal berapa ini kok nggak datang tamunya?"
Sesegera mungkin aku membeli alat tes kehamilan mandiri. Menghadiahkan dua garis merah jelas kepada suamiku sesudah menjalankan sholat subuh.
"Alhamdulillah," ucap suamiku lalu ia memeluk dan mencium keningku. Momen yang cukup membuat hatiku terharu.
Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar