Prok! Prok! Prok!
Gemuruh tepuk tangan membahana memenuhi seisi ruang. Sebagian orang yang sedang duduk lantas berdiri sambil mengusap-usap mata mereka yang berair. Setelah itu satu per satu dari mereka berhamburan keluar dengan perasaan senang.
Panggung drama yang diadakan setiap bulan secara rutin oleh kelas seni itu selalu sukses mendulang keuntungan. Untuk menyaksikan pentas mereka, para penonton harus menyumbang secara sukarela ke dalam kotak yang telah tersedia.
Dide dan Juli selalu menjadi tokoh utama dalam pentas. Mereka bak Romeo dan Juliet yang selalu bersama dan tak terpisahkan.
"Dide...! Selamat yah, akting kamu tadi keren banget" ucap Cindy salah seorang fans Dide.
"Makasih Ndi, aku sama Juli pulang dulu yah" jawab Dide sambil berlalu dari hadapan Cindy. Mendengar jawaban Dide yang kaku, membuat mata Cindy menitikkan air mata. Sedih.
Seminggu berlalu, seperti biasa Dide dan Juli kembali berpasangan dalam peran yang akan dipentaskan.
"Sayang... Aku pulang..."
Dide masuk ke dalam set panggung, seharusnya saat itu Juli menyusul masuk. Sampai beberapa detik tak nampak tanda-tanda Juli akan naik panggung.
"Aku minta CERAI" teriak Juli tiba-tiba muncul dari balik pintu. Namun ia mengucapkan kalimat di luar dialog yang seharusnya. Membuat Dide kelabakan dan berimprovisasi.
"Mengapa kau berkata demikian?"
"Cindy! Keluar kamu! Ini Cindy selingkuhanmu kan? Kau anggap aku apa?! Teman kamar saja?!"
"Bukan sayang... Cindy adalah.."
"Cukup! Aku pergi dari sini"
Prok! Prok! Prok!
Tepuk tangan kembali membahana. Tanpa mereka tahu, yang terjadi saat itu adalah nyata.
"Maafkan aku Kak" ucap Cindy lirih "Aku mengaku sebagai selingkuhanmu, karena aku tak mau kakak kecewa nantinya, diluar sana, Juli berpacaran dengan setiap lawan main dramanya" sambung Cindy.
Dide memeluk tubuh Cindy dan berkata "Tak perlu kau begitu, cinta pasti akan memilih, berani mencintai kakak juga siapp untuk sakit hati"
Selesai.
Gemuruh tepuk tangan membahana memenuhi seisi ruang. Sebagian orang yang sedang duduk lantas berdiri sambil mengusap-usap mata mereka yang berair. Setelah itu satu per satu dari mereka berhamburan keluar dengan perasaan senang.
Panggung drama yang diadakan setiap bulan secara rutin oleh kelas seni itu selalu sukses mendulang keuntungan. Untuk menyaksikan pentas mereka, para penonton harus menyumbang secara sukarela ke dalam kotak yang telah tersedia.
Dide dan Juli selalu menjadi tokoh utama dalam pentas. Mereka bak Romeo dan Juliet yang selalu bersama dan tak terpisahkan.
"Dide...! Selamat yah, akting kamu tadi keren banget" ucap Cindy salah seorang fans Dide.
"Makasih Ndi, aku sama Juli pulang dulu yah" jawab Dide sambil berlalu dari hadapan Cindy. Mendengar jawaban Dide yang kaku, membuat mata Cindy menitikkan air mata. Sedih.
Seminggu berlalu, seperti biasa Dide dan Juli kembali berpasangan dalam peran yang akan dipentaskan.
"Sayang... Aku pulang..."
Dide masuk ke dalam set panggung, seharusnya saat itu Juli menyusul masuk. Sampai beberapa detik tak nampak tanda-tanda Juli akan naik panggung.
"Aku minta CERAI" teriak Juli tiba-tiba muncul dari balik pintu. Namun ia mengucapkan kalimat di luar dialog yang seharusnya. Membuat Dide kelabakan dan berimprovisasi.
"Mengapa kau berkata demikian?"
"Cindy! Keluar kamu! Ini Cindy selingkuhanmu kan? Kau anggap aku apa?! Teman kamar saja?!"
"Bukan sayang... Cindy adalah.."
"Cukup! Aku pergi dari sini"
Prok! Prok! Prok!
Tepuk tangan kembali membahana. Tanpa mereka tahu, yang terjadi saat itu adalah nyata.
"Maafkan aku Kak" ucap Cindy lirih "Aku mengaku sebagai selingkuhanmu, karena aku tak mau kakak kecewa nantinya, diluar sana, Juli berpacaran dengan setiap lawan main dramanya" sambung Cindy.
Dide memeluk tubuh Cindy dan berkata "Tak perlu kau begitu, cinta pasti akan memilih, berani mencintai kakak juga siapp untuk sakit hati"
Selesai.