The Bird

Minggu, 29 Maret 2015

Siapa Dia Sebenarnya?

"Mama di mana Ayah? Lama banget beli baksonya..."

"Adek udah laper ya sayang? Tunggu aja ya Mama sebentar lagi pulang." sahutku menenangkan. Anak bungsuku ini memang sangat dekat sekali dengan Mamanya, istriku.

Sayang yang ditunggu tak kunjung datang. Aku mulai khawatir. Sudah lima jam lamanya istriku belum juga menampakkan batang hidungnya. Si bungsu mulai gencar merengek dan menangis. Aku panik. 

Telepon genggamnya tidak dapat aku hubungi. Kini sudah empat hari lamanya istriku menghilang. Aku mencoba menghubungi rekan sejawatku yang tersebar di kota ini. Aku malu. Khawatir. Geram. Sedih. Entah, semua bercampur menjadi satu.

Seragam coklat muda dan coklat tua yang aku kenakan ini sekarang sama sekali tidak membuatku tampak gagah. Aku murung tak bergairah. Istriku tak pulang. Anak-anakku terlantar. Aku kepayahan.

Delapan hari.

Tepat di hari yang ke sembilan istriku kembali. Berdiri di ambang pintu. Tanpa ada rasa menyesal di wajahnya. Tapi juga tidak ada senyum di bibirnya. Ia berdiri di ambang pintu tanpa jilbabnya.

"Kamu siapa?"

"..." 

"Kamu siapa masuk ke rumah saya tanpa ijin."

"Aku suamimu!" jawabku setengah membentak. Tidak mengerti. Drama apa yang coba ia hadirkan di sini.

"Aku nggak punya suami. Aku punya seorang istri, namanya Sarwah. Keluar kamu dari rumah saya."

"Apa maksudmu Dik? Kau ini perempuan. Istriku. Apa maksudnya kau punya istri? Apa kau sudah gila? Ini anakmu." 

"Aku sudah menikah. Dengan Sarwah. Pekan lalu."

"Apa kau sudah gila?! Meninggalkan aku dan anak-anak dan menikah dengan sesama perempuan?"

"Huahahaha!!! Kau pikir aku tidak normal?"

"..."

"Aku cinta dengan Sarwah sedari dulu, tapi aku harus mengakhiri hidupku sendiri saat aku tahu bahwa Sarwah hanya suka kepada perempuan. Melalui raga orang ini, aku akhirnya bisa menikahi Sarwah. Hahaha!"

Aku merasa tubuhku sangat ringan dan semua tiba-tiba menjadi gelap.