The Bird

Selasa, 15 September 2015

Enyah Saja!


Darah mengalir deras
Berputar-putar
Mengaduk tiap jengkal pembuluh
Panas

Darahku mengalir deras
Keras
Tidak, aku tak tewas
Hanya marah!

karena asap
Pekat
Membuat jalanan senyap
Kuat
berhembus lewat angin

Oh A...ku.
ingin kau para pembakar segera lenyap!!!
Muak
Kau siksa kami demi rupiah
yang bahkan semakin tak berharga

Hai kau para menyulut
Kau tak saja membakar lahan
tapi kau!
Membakar amarah seluruh negeri ini!

Bayiku menangis sesak
Pagiku tak lagi cerah ceria
Aku muak!
Enyahlah saja!

1,38 Cm


Berbagai rasa penasaran memenuhi hati dan pikiran. Seperti apa isi dalam perutku ini? Setelah tujuh minggu tidak kedatangan si merah.

Berbekal info dari internet aku dan dia berangkat menuju ke sebuah alamat yang telah kami catat sebelumnya. Alamat seorang dokter SpOG. Ini adalah pengalaman pertamaku.

Setelah sampai di tempat tujuan kami tidak menyangka bahwa antrian pasiennya akan sepanjang itu. Sebenarnya kami mendapat nomor antrian sebelas, tapi karena datang terlambat akhirnya kami harus menunggu satu atau dua pasien dulu memasuki ruang periksa. Dan ketika namaku dipanggil oleh para perawat.

"Nyonya Adinda Kumala, silakan."

Jantungku berdebar. Akan seperti apa pemeriksaannya nanti.

"Assalamualaikum," sapa dokter SpOG itu. Ia seorang wanita berjilbab yang cantik dan anggun. Meski mukanya terkesan agak dingin padahal senyum menghias di bibirnya.

"Wa'alaikumsalam bu dokter," sahutku dan dia bebarengan.

"Ada keluhan apa bu?"

"Nggak, cuma mau periksa kehamilan awal. Sudah tes sendiri hasilnya positif, terakhir mens tanggal 3 Juni 2015 bu dokter," jelasku panjang lebar.

"Umm, oke... Kita USG dulu ya... Mari silakan di ruangan ini bu."

Aku, dia, bu dokter dan seorang perawat berjalan menuju ke sebuah bilik bertirai gorden tebal. Di dalamnya ada sebuah TV plasma 29" yang digantung di tembok, sementara persis di bawah TV ada sebuah kasur dari busa yang membujur dalam satu garis lurus. Di sebelah kasur ada sebuah alat yang aku duga itu adalah alat USG.

"Silakan baring di sini bu," kata sang suster, ia lalu melumuri perutku dengan cairan gel.

Bu dokter lalu menempelkan alat seperti spatula di atas perutku yang telah dilumuri gel tadi. Voila! Terpampanglah isi dalam perutku.

"Bu Adinda, ini dalam perut ibu sudah terlihat kantong janinnya... Mari kita perbesar gambarnya ya..." kata dokter sambil mengulik mesin di depannya dan menekan-nekan lembut perutku.

Aku lirik dia. Dia hanya tersenyum padaku sekilas lalu kembali fokus memperhatikan layar plasma. Aku mengikuti pandangannya.

"Nah... Selamat, ibu memang hamil, di sini sudah terlihat janinnya. Ini dia janin ibu dan bapak. Panjangnya sudah mencapai 1,38cm, usia kandungan tujuh minggu lima hari. Oya, mari kita cek apa sudah ada denyut jantungnya."

Dug dug dug dug dug dug

"Nah sudah ada denyutnya, 165denyut per menit. Dari perkembangan ini berarti kondisi ibu dan janinnya normal. Ada yang di tanyakan?"

"Nggak bu dokter, cukup jelas. Terimakasih."

Aku merasa cukup dan tidak ada pertanyaan. Hasil USG sudah cukup jelas, karena masih sangat kecil aku tidak mau merepotkan dokternya untuk bertanya-tanya yang mana kepala dan lain sebagainya. Lanjut ke sesi konsultasi saja. Bahagia rasanya mengetahui ada sesuatu yang paling ditunggu sudah ada di dalam perut. Nggak sabar untuk menanti perut ini membesar dan melihat perkembangannya di dalam.

Suara denyut jantung tadi terngiang-ngiang di telinga hingga terbawa mimpi. Sehat terus sayang...

Sampai jumpa di layar plasma bulan depan dedek... Baik-baik dalam perut bunda yaa.

Sekian.

Ami

Semilir angin terasa menyapu kulit Ami. Satu jam lamanya ia berdiri menanti angkutan umum yang akan mengantarnya ke sekolah. Namun yang di nanti tak datang juga. 

"Ya ampun!" pekik Ami sambil menepuk dahinya keras, "sekarang kan hari minggu. Ngapain aku mesti capek-capek dari subuh nungguin angkot ya," lanjutnya.

Ia lalu melangkahkan kaki menuju ke rumahnya kembali. Minggu ini terasa begitu lain. Senyap. Dingin. Tidak begitu banyak orang yang lalu lalang di jalanan. Aneh.

"Eh Bimo! Ngapain kamu di situ sendirian?" sapa Ami kepada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di pembatas jembatan. Menatap dingin ke bawah. Ke arah sungai yang mengalir deras. Namun yang ditanya diam saja. Membuat Ami bergidik ngeri melihat ekspresinya yang angker. 

"Ya ampun," lagi-lagi Ami menepuk dahinya keras. Kebiasaan buruk yang selalu dilakukannya jika ia tiba-tiba menyadari sesuatu. "itu bukannya Bimo anak RT sebelah yang kemarin meninggal karena hanyut di sungai ya?" gumamnya lirih. Ia lalu mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah.

Dari kejauhan ia melihat rumahnya begitu ramai. Seperti sedang kedatangan tamu rombongan yang entah dari mana. Dibakar rasa penasaran Ami berlari.

Ketika sampai persis di depan rumahnya. Matanya melotot ngeri. Bibirnya mangap selebar-lebarnya. Apa yang sedang ia lihat saat ini sangatlah tidak mungkin. 

"Nenek?" bisik Ami kepada dirinya sendiri ketika matanya tertumbuk pada satu sosok tua nan ringkih yang sedang tersenyum ke arahnya.


Nenek itu lalu berjalan menghampiri Ami yang baru tiba di rumah. Tapi secara reflek Ami memundurkan langkahnya menjauh.

"Nggak. Nggak mungkin, nenek kan udah lama meninggal, kenapa nenek ada di sini?"

"Nenek dan saudara-saudara yang lain datang ke sini untuk menjemput kamu sayang..." jawab nenek lembut.

"Jemput?"

Nenek mengangguk lalu melambaikan tangan ke belakang. Memanggil rombongan penjemput itu untuk mendekat kepada Ami. 

"Bude? Kakek? Amin? Om Aris? Ayah???" Ami seolah sedang mengabsen mereka semua dengan nada tak percaya.

Ami sangat bingung sekali, mengapa sehari ini ia melihat begitu banyak hal yang aneh dan bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal senyata ini, sedekat ini.

"Anak yang malang... Sini ayah peluk, kita kan belum pernah ketemu. Sini peluk ayah nak,"

"Ayah aku kangen."

"Sini sayangku,"

Ami berjalan mendekat ke arah laki-laki yang ia panggil ayah itu. Ia memang belum pernah bertemu dengan ayah sebelumnya. Ayahnya meninggal saat Ami masih berusia dua tahun. Ia hanya tahu sosok dan rupa ayahnya melalui foto.

"Sayang, ayah akan bantu kamu. Nanti ayah akan memberi mamamu petunjuk untuk menemukan jasad kamu sayang,"

"Jasad aku Yah? Maksudnya?"

"Kamu menghilang sayang. Tapi tidak ada yang tahu kamu sekarang di mana. Dan kamu sudah meninggal sayang... Jasad kamu ada di hilir sungai. Kamu tenggelam saat mengikuti para relawan untuk mengarungi sungai mencari Bimo, anak kecil yang tadi kamu temui di jembatan," jelas nenek.

"Namun sayangnya, tidak ada yang menyaadari kalau kamu tenggelam sayang," timpal ayah.

"Jadi aku sudah mati?" tanyanya sambil menangis. Diikuti oleh anggukan kepala serempak para rombongan penjemput.

Sekian.

Mantan Supervisor


"What? Kenapa ayah resign dari kerjaan ayah? Nanti cicilan rumah dan belanja dari mana yah? Bunda kan udah nggak kerja, dagangan juga untungnya segini aja."

"Bunda... Sejak awal kita menikah kita punya kan dana darurat? Sementara kita pakai dulu dana darurat itu ya bun... Ayah mau cari kerja yang lainnya."

"Iya tapi kenapa ayah tiba-tiba keluar? Ada masalah?"

"Nggak ada, hanya saja ayah merasa kalau jadi supervisor di pabrik ini, ayah nggak bisa berpenghasilan lebih, ayah ingin kita punya tabungan lebih buat anak kita kelak," jawab Sukirman sambil mengusap perut istrinya yang sedang mengandung anak pertama mereka.

"Lalu ayah mau cari kerja di mana?"

"Di mana saja bisa bun, doakan ayah ya..."

Sungguh hal yang sangat tidak wajar dan aneh. Sukirman melepas begitu saja karirnya yang sedang memucak, ia bahkan akan dinaikkan jabatannya menjadi seorang manager. Tapi ia malah memilih utuk mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain. Sebenarnya pekerjaan macam apa yang diinginkan oleh Sukirman?

"Selamat anda di terima dan bisa mulai bekerja besok."

"Terimakasih Pak."

Tak begitu lama Sukirman mendapatkan pekerjaan baru. Ia bekerja sebagai Sales. Bukan sembarang sales. Barang yang dijualnya tidak ada yang berharga murah. Pelanggannya bukan perorangan melainkan suatu perusahaan atau pabrik. Ia bekerja menjual berbagai macam kebutuhan peralatan pabrik.

Sejak saat itu Sukirman merasa menjadi lebih hidup. Ia tidak lagi merasa bekerja dalam penjara. Ia mempunyai banyak relasi dan kenalan baru dalam pekerjaannya yang baru ini, dimana relasi dan kenalan barunya ini juga membuka rejeki dan memperluas peluang usaha rumahan istrinya.

Ia senang meski ia tidak memiliki tahta atau jabatan, tetapi gaji, penghasilan, pengetahuan, kenalan dan pengalamannya bertambah.

"Oh, suamimu cuma kerja jadi sales sekarang? Bukannya dulu supervisor? Korupsi ya?"

Tidak sedikit tetangga yang suka usil dengan komentarnya yang pedas. Seulas senyum cukup untuk menjawab perkataan mereka yang selalu ingin tahu.

Sekian...

Inilah Kau


Kau tak lagi pernah bilang sayang
Tak lagi pernah melantunkan lagu nina bobo untukku
Tidak pernah memberiku hadiah

tapi kau kini selalu mengecup keningku untuk membangunkanku
kau selalu mengecup pipiku untuk mengantarku tidur
senyummu menghiasi mataku saat aku terbangun
pelukanmu selalu menghangatkanku di tengah embun pagi

Kau tidak pernah ucap kata cinta
tapi jelas kau cinta, aku tahu!
Kau tak pernah bilang kau peduli
tapi jelas kau peduli, aku pun tahu!
Kau tak memberi apa yang aku inginkan, tapi kau selalu mampu memenuhi apa yang aku butuhkan.

Kau tahu?
Ratusan hari telah kita lalui
Kau selalu mampu membuatku jatuh cinta, lagi... dan lagi...
Itulah kau...

Senin, 14 September 2015

Mitos atau Fakta


Guys.
Aku adalah orang jawa yang hidup dengan unggah-ungguh (baca: peraturan) yang tak tertulis. Saya rasa di daerah lain pun seperti itu, entah. Saya belum pernah pergi ke luar Pulau Jawa (kecuali Bali dan Madura) meski suami saya adalah seorang yang berasal dari Sumatera.

Tidak sedikit juga mitos-mitos yang berkembang bahkan diyakini oleh sebagian besar orang di sini. Entah dari mana sebenarnya mitos-mitos itu berasal. Di sini saya akan menuliskan beberapa mitos yang pernah saya dengar dari kerabat maupun dari sahabat. Yang beberapa hal saya yakini kalimat tersebut sangat tidak ilmiah dan tidak beralasan. Sehingga saya merasa itu memang hanya sebuah mitos belaka.

Silakan bantu menjawab atau memberi ulasan di kolom komentar ya :) karena posisi saya sedang hamil anak pertama, so, sebagian besar mitos yang saya tulis di bawah ini berhubungan dengan dunia kehamilan dan sejenisnya.
Cekidot ;)

1. Orang hamil dilarang mandi di atas jam empat sore. Nanti pas melahirkan bisa kembar dara. (pendarahan lebih banyak dari pada normalnya)

Apa menurut kalian tentang kalimat di atas? Jujur secara medis saya belum pernah menanyakan hal ini kepada dokter saya, jadi untuk sementara saya turuti saja, bukan karena saya percaya tapi karena saya memang suka gerah di musim kemarau ini. Jam tiga atau empat udah mandi deh. Segeeerrrr!

2. Kalau lagi hamil nggak boleh minum es. Nanti bayinya besar, susah keluarnya.

Hm~ ini mitos yang cukup mengganggu karena saya adalah orang yang selalu minum air dalam keadaan dingin. Setelah berkonsultasi dengan dokter dan browsing sana sini. Akhirnya saya tahu bahwa yang menyebabkan bayi besar adalah glukosa yang berlebih dalam makanan ibu hamil. Bukan karena suhu.

Tapi, saya merasa sangat tertekan setelah kena omelan dari ibu dan dari bude. Pasalnya, bude dulu bayinya besar di dalam karena beliau suka minum air putih dingin. Katanya meski tanpa sirup dan sejenisnya, bayinya tetep besar karena minum es. Usut punya usut, bude dulu ngidamnya makan mangga. Mangga kan manis tu, lumayan juga kadar glukosanya, apa lagi sekali makan bisa habis sekilo. Dan bude makannya tiap hari tiada henti. So, mangga lah biang keroknya, bukan si air es -__-

Tapi kalau di debat tetep keukeuh. Ngalah aja deh, kalau mau minum dingin ngumpet-ngumpet.

Kata suami, orang dulu begitu kuat percayanya sama mitos karena minimnya pengetahuan dan informasi yang mereka dapat jaman dulu. Jaman dulu juga serba tradisional, nggak pakai ke dokter kandungan cukup pakai dukun beranak. Selesai.

3. Orang hamil nggak boleh pindah rumah. Nanti bayinya muda lagi. (maksudnya, misalkan kita pindah saat usia kandungan enam bulan, maka menurut mereka nanti bayi dalam kandungan kita jadi muda lagi seperti baru usia kandungan lima atau empat bulan. Jadi nanti bisa lahir pas sepuluh atau bahkan sebelas bulan)

Ini yang sangat mengganggu pikiran. Karena dalam waktu dekat saya berencana pindah tidur (baca: pindah rumah) ke rumah lain. Kondisinya sangat tidak memungki kan saya untuk tetap tinggal di tempat yang lama hingga persalinan.
Saya sih mantap aja. Niat baik pasti berbuah baik. Dan mencoba untuk berpikiran positip. Mungkin orang jaman dulu melarang pindah rumah saat hamil karena takut bumil capek hingga menyebabkan keguguran. Untuk hal ini saya sudah sepakat dengan suami. Bahwa, nanti saya cukup menjadi mandor saja, tidak usah ikut angkat-angkat atau jalan kesana-kemari.
Dari sisi psikologi mungkin bisa juga, dikhawatirkan bumil stres karena harus beradaptasi dengan rumah dan lingkungan yang baru. Karena stres pada bumil juga beresiko tinggi untuk bumil dan janin yang ada di dalam perut.

Untuk mitos yang satu ini, saya keep smile aja dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Toh, banyak juga orang yang pindah rumah saat hamil. Berdoa semoga Allah melindungi kami sekeluarga. Amiin.

Jempol udah mulai pegel karena postingnya pakai HP. Sementara tiga mitos itu dulu ya, disambung lagi lain waktu.

See you...

My First Pregnancy


Kalian pasti sudah sering mendengar atau bahkan pernah menjalani suatu hubungan jarak jauh. Long Distance Relationship (LDR).

Selama masa pacaran, aku dan suami menjalani LDR. Dia sedang menjalani studinya di Yogyakarta saat itu, sedangkan aku kerja di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Bukan waktu yang singkat saat itu aku rasa, tapi terasa berlalu begitu saja. Lima tahun pacaran jarak jauh, akhirnya kami mantap untuk memutuskan menikah. Saat itu aku tidak terlalu berambisi untuk langsung mempunyai momongan. Inginnya sih pacaran dulu secara langsung.

Empat bulan pertama berlalu. Aku mulai merasa sepi dan merasa tidak lengkap saat sendiri di rumah ditinggal suami kerja.

"Sayang. Aku pengen hamil."

Satu kalimat sederhanaku itu hanya ditanggapi seulas senyum oleh suamiku, dan sejak saat itu kami mulai serius dan berambisi untuk segera memiliki momongan. Namun Allah tidak langsung memberi kami kepercayaan itu. Setiap bulan selalu harap-harap cemas, berharap 'tamu merah' itu tidak datang, tapi ia selali datang tepat waktu bak tukang tagih utang.

Hingga bulan suci ramadhan tiba. Aku berdoa dan tiada henti memohon agar diberi kepercayaan dan amanah yang besar itu. Alhamdulillah. Tamu merah tak lagi datang setelah itu. Allahu Akbar.

Awalnya aku tidak sadar, hingga akhirnya suamiku yang mengingatkanku dengan bertanya, "tanggal berapa ini kok nggak datang tamunya?"

Sesegera mungkin aku membeli alat tes kehamilan mandiri. Menghadiahkan dua garis merah jelas kepada suamiku sesudah menjalankan sholat subuh.

"Alhamdulillah," ucap suamiku lalu ia memeluk dan mencium keningku. Momen yang cukup membuat hatiku terharu.

Sekian.

Pengamen


Siapa yang tidak kenal alat transportasi darat yang satu ini. Memiliki roda, jendela dan penumpang yang banyak. Bus. Semua orang saya rasa pernah menggunakan alat transportasi yang satu ini.

Bus kelas biasa pastilah sangat akrab dan erat hubungannya dengan para pedagang asongan, pengamen, bahkan peminta-minta. Kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman, tentang beberapa orang pengamen yang naik dan turun di sepanjang perjalanan saya bersama bus antar kota.

Tiga jam perjalanan lumayan membuat bosan. Untungnya aksi para pengamen sedikit memberi hiburan, pengusir rasa jenuh. Setidaknya ada lima orang pengamen yang naik turun di sepanjang jalan.

Pengamen pertama, tampilannya biasa saja. Sederhana cenderung dekil dan lusuh. Seorang perempuan yang aku taksir usianya sekitar kepala tiga. Ia bernyanyi dengan sebuah ukulele kecil. Lagu yang dinyanyikan tidak pernah ada di televisi ataupun radio, mungkin ciptaan mereka sendiri para perkumpulan pengamen. Suaranya biasa saja dan terdengar cukup mengganggu di telinga, tapi ia nampak begitu bersemangat. Sungguh. Meski wajahnya nyaris tanpa senyum, aku cukup terhibur. Aku putuskan untuk memberinya sekeping uang logam kuning dan disusul oleh ucapan terimakasih olehnya.

Pengamen kedua.
Dua orang anak muda bertato, yang satu plontos. Sedangkan yang satu lagi berambut gondrong. Dan yang paling mengejutkan aku. Pemuda gondrong itu sangat sangat mirip sekali dengan wajah saudara sepupuku yang lama menghilang entah kemana. Ingin aku sapa ia sekedar untuk memastikan. Tapi lidah ini kelu. Ciut nyali gara-gara tato dan tampangnya yang berubah sangar. Aku urungkan niat dan kembali mengamati dalam-dalam wajahnya. Aku tidak seberapa menggubris nyanyian dan suaranya. Di akhir pertemuan aku putuskan untuk memberinya selembar uang gambar pahlawan muda membawa sebilah parang. Disambut oleh senyum dingin yang terkembang dari bibirnya. Apa benar dia saudaraku itu? Entahlah. Belasan tahun ia menghilang. Mungkin ia juga lupa dengan wajahku.

Pengamen ketiga.
Lagi-lagi seorang perempuan. Menggendong seorang anak kecil. Bermodal kricikan dari beberapa tutup botol yang dipipihkan. Ia bernyanyi seadanya. Suaranya nyaris tidak terdengar. Lesu. Aku liat orang-orang di bangku depan banyak yang tidak memberinya uang. Aku jadi kasian melihat kantong permen yang ia sodorkan masih kosong melompong. Aku beri ia sekeping uang. Semoga mampu menjadi pelipur laranya.

Pengamen keempat.
Aku nyaris tidak menyangka bahwa ia naik bus ini dengan tujuan untuk mengamen. Ia perempuan. Mungkin sebaya denganku. Berpakaian rapi. Bahkan sangat rapi dan layak. Warna bajunya masih terlihat cerah, tidak pudar, ia mengenakan pashmina ala hijabers masa kini. Aku mengira ia adalah seorang pegawai atau mahasiswa.

Ia berdiri, lalu mengeluarkan satu botol bekas minuman yougurt yang terkenal itu. Botol bekas tersebut diisinya oleh bulir beras. Dan ia mulai bernyanyi sambil menggerakkan tangannya yang menggenggam botol. Pelan. Suaranya yang tak bersemangat sangat kontras dengan wajah dan penampilannya. Ah~ entah apa maksud ia menjadi pengamen dengan penampilan seperti itu. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku enggan mendengar suaranya. Aku bahkan tidak menoleh dan cuek ketika ia menyodorkan kantong permen ke arahku untuk meminta uang. Biar. Masih muda mengamen. Mau jadi apa, ngamen buat mempercantik penampilan? Ah, gila!

Aku liat sekelebat, selesai mengamen ia tidak langsung turun dari bus seperti ketiga pengamen sebelumnya. Ia berdiri di belakang dekat pintu. Hmm... Mungkin sekalian nebeng ke suatu tempat pikirku. Aku biarkan saja.

Saat mata mulai mengantuk, tiba-tiba mataku tertuju pada satu penumpang laki-laki yang sedang berdiri tak jauh di dekatku. Beberapa menit aku mengamatinya. Matanya selalu terpejam. Apa ia sedang tidur? Ah tidak, barusan kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri sambil mulutnya berkomat-kamit tidak jelas. Apa ia buta? Lantas dengan siapa ia naik bus ini? Pasti ada seseorang yang mendampinginya. Aneh.

Ia adalah pengamen kelima. Ternyata tak lama setelah itu tangannya mengeluarkan benda serupa dengan pengamen ke empat. Ugh. Sepanjang nyanyiannya yang tidak jelas ia tetap memejamkan matanya. Hm... kasian juga kalau ia memang buta. Aku siapkan lagi sekeping uang logam untuknya. Tapi... ketika ia selesai bernyanyi, matanya terbuka. Normal bisa melihat. Oh tidak. Aku jadi malas memberinya uang. Apa pula maksudnya memejamkan mata di sepanjang bus tadi? Aku urung memberinya uang.

Ketika selesai berkeliling, ia bergabung dengan perempuan pengamen ke empat dan beberapa pedagang asongan lain di belakang. Mereka nampak terlibat percakapan seru. Aku tajamkan telinga untuk mencuri dengar. Semua percakapan dalam bahasa jawa khas surabaya yang sudah aku terjemahkan ke dalam bahasa indonesia ya...

"Enak ya kalian ngamen, nggak pakai modal bisa dapet duit," seorang pengasong membuka obrolan.

"Lumayan mas," sahut hijabers pengamen ke empat.

"Sehari dapat berapa?"

"Kalau sepi sehari cuma dua lima ribu bang," kali ini pengamen kelima ikut nimbrung.

"Wah gede juga, sepi aja dua lima, kalau rame bisa cepek donk?"

"Nggak sampe mas, kalau rame paling cuma enam puluh," jawab si hijabers.

"Wah, gede itu. Saya aja jualan sehari belum tentu ada yang laku, pakai modal lagi. Pantesan orang ngamen di bus makin banyak."

"Iya, saya malas jualan. Susah laku. Belum tentu dapat uang."

"Bener, enakan ngamen. Nggak modal aja bisa dapet uang," hijabers malah menimpali.

Kuping dan hatiku mulai merasa panas. Ini pemikiran yang nggak bener, malas. Padahal mereka masih dalam usia yang produktif. Masih jauh lebih baik pedagang asongan itu, setidaknya ia mencari rizki dengan cara berdagang. Berusaha. Ah~

"Udah ngamen aja mas kayak kita, nanti aku kasih lagu-lagu,"

"Wah nggak mas... Saya dagang aja."

"Eh dikasih tau cara yang enak dan instan kok nggak mau, aneh," hijabers mencibir.

Huft... Bukan tukang asongan itu yang aneh, tapi kamu! Masih muda kok ngamen.

Rupanya aku nggak ngasih mereka uang tadi adalah keputusan yang tepat. Kedua pengamen itu bukan orang yang butuh. Tapi mereka adalah orang yang malas.

Naudzubillah.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita

Nikah Yuk!


Dengar
Gelombang cintaku
Mengalun merdu
dari degupan jantungku

Sayang
Kau selalu mampu
membuatku jatuh cinta
Lagi... lagi... dan lagi

Mengapa?
Parasmu biasa
Hartamu pun tak melimpah
Datang dari negeri yang tak ku kenali
Mengapa?
Kau genggam hati ini erat

Sayang...
Cinta aku cinta padamu
Jangan siksa aku dengan jarak dan waktu
Akhiri saja semua
dengan satu ucapan SAH yang membahana

Sissy


Seperti yang sudah kalian ketahui. Di era global ini semakin banyak kecanggihan teknologi yang ditawarkan dengan harga yang relatif murah. Hampir semua hal bisa dilakukan dengan gadget. Mulai dari mencari resep masakan, penunjuk jalan, mencari jodoh hingga transaksi jual beli pun bisa dilakukan melalui dunia maya. Hebat kan?

Salah satu atau bahkan beberapa diantara kalian yang membaca tulisan ini pasti tahu dengan istilah "Olshop" atau "Online Shop".
Berikut ini saya akan menuliskan hasil percakapan antara penjual dan pembeli yang bertransaksi di dunia maya. Contoh percakapan yang sangat sangat membuat hati para pelaku bisnis online ingin tertawa, sebal hingga marah.
Check this out ;)

Hari Rabu, 19.45 WIB

PING!!!
sis. jam yg di dp bgs. brp hrgax?

Halo, Siang sissy... Jam yang ada di display picture BBM kami harganya 70k. Belum termasuk ongkir yah ;) diorder yuk...

Ih~ km kq tw klo nma q sissy?

Hah? Maksudnya sis?:)

Td km pnggil aq sissy. nma q emg sissy. kok tw sih?!

Oh. Hehe kebetulan aja sis... :)

Aq mau donk jamx. yg wrna putih yah.

Oke sis... Jamnya mau dikirim ke alamat mana? Kita cek ongkirnya dulu.

Sby.

Lengkapnya sis??

Jln. ry rwrw rntk no 111 kc rntk kt sby

PING!!!
Tolong alamat nulisnya jangan disingkat sis. saya nggak paham, nanti bisa salah kirim loh kalau salah :)
(dalam hati seller mulai dongkol tapi berusaha tetap sabar)

aduh km rbet bgt sih gtu aja nggak ngrti. Jalan Rawarawa Rontek no 111 kecamatan rontek kota surabaya.

Ongkirnya 8ribu sis via J*E. totalnya 78ribu. mau transfer via rek apa?? BCA, Mandiri, BRI?

lho td ktax 70k. kok jd 78k.

70k harga sebelum kena ongkos kirim sis.

aduh g usah dkrm pke J*E. km aj antr k rmh q lgsg.

Maaf nggak bisa sis. Kami lokasi di Malang.

Oh. gitu. oke. eh tp q nggak punya rekening. gmn trfx y?

bisa setor tunai langsung di bank sis.

g bs aq kan krja

mungkin bisa pinjem rek temennya sis:)

oh y bnr jg. aq pnjm rek tmn q aj.

rek bca an. Abecede nomor 1234567890 ditunggu transferannya :)

PING!!!
rekx ats nma spa? ni mw d trf.
PING!!!
PING!!!
PING!!!

itu diatas kan sudah tertera sis :) an. abecede

oke. ni udh di trf. cek ya. aq pke rek tmn q nmax efgeha

Oke sis. sudah masuk sis. terimakasih.

ok sm2. bsk brgx smpe kn? klo bs smpe jm 11 siang aj y. krn klo pg n sore g ad org drmh.

Maaf sis. estimasi waktu pengiriman paling cepat 2 hari.

ok brti hr jumat y? jm 11. ingt. jm 11.

maaf sis. mungkin sabtu baru sampai. karena sekarang kan sudah malam, jadi barang sissy kita kirim besok.

knp g dkrm skrg aja biar cpt smpe?

Siss... mana ada J*E buka malam-malam jam 9 gini?

o iya. oke sbtu gppa tp klo sbtu. pagi aj antrx. sblm jam 11

sis. yang antar kurir, bukan kami. jadi kami nggak bisa nentuin jam sampainya.

oh gtu. oke deh. oya jamx tu gmpg pcah g klo jtuh dr meja?

jam kan terbuat dari kaca, pasti bisa pecah donk sis. Jangan dijatuh2in terlalu sering ya.

yah bs pch donk

...

oke.

hari sabtu 00.03 WIB

PING!!!
sis nnti pket smpe y? klo bs sruh pg donk kurirx
PING!!!
PING!!!
PING!!!
ih kok g dbls.

Sabtu 08.06 WIB
pagi, ditunggu aja.

sabtu 08.56 WIB
PING!!!
blm smpe jg nih.

...

Sabtu 09.11 WIB
PING!!!
PING!!!
sis msh lma y?

cek resi aja ini nomor resinya
btwkmnybelin125488265389926

ok

sabtu 10.00 WIB
udh jm 10 g nympe jg jam q :'(

sabar

Sabtu, 10.19 WIB
PING!!!
aq krj sis. nnti kurirx sruh ntipn ttngga sblh rmh aj.

...
(wtf26:###:883#~€~+'§%%§€^)

sabtu 12.00 WIB
sis kra2 jm q dh smpe drmh blm y

gak tau.
(seller udah dongkol banget ngeladenin pembeli tipe peneror dan bebal macam ini, padahal dia udah ngerti cara cek resi, tapi kenapa susah banget dikasih taunya).

ih kq gtu sih. jgn2 km slh tls almt atau nma q y sis.

nggak..

tp kq lama y.

tunggu aja.

19.35
blm dtg jg ni

maaf sis, kalau soal keterlambatan pengiriman bukan wewenang kami lagi ya sis. barang bisa dilacak di web ekspedisinya.

ok.

PING!!!
PING!!!
kapan nih sampe jamx? udh hr snin ni.

silakan tracking di web atau langsung telepon ke ekspedisi untuk komplain. terimakasih.

PING!!!
sis udh smpe brusn. tp ini jamx kq nggak nyambung y? kq ptus?

putus gimana ya maksudnya? kemarin kami kirimnya 100% dalam kondisi baik.

klo mau pake kdu dsmbung dlu sis.

Gubrak!!!
sis, jam emang kayak gitu kali. kamu nggak pernah beli jam ya sebelumnya?

ih enk aj. prnah donk. tp jam aq enk kyk gelang. nggk ptus gni.

hadehhh. itu model jam kayak gitu udah biasa kali sis... kamu aja yang kudet . oke, kalau nggak ada komplain lain. makasih udah belanja.

ok

:)

sis km jual sptu kn? aq liat donk modelnya.

maaf. silakan beli sepatu langsung di mall aja sis. nanti kamu ribet nggak nyampe2 paketnya, atau ukurannya nggak pas. atau komplain2 nggak jelas yg lainnya.makasih.
(seller lalu memilih opsi "delete contact" dan ia menghembuskan napas lega, fiuh.)

Terkadang menjadi pelaku bisnis online tidak semudah yang engkau bayangkan sobat. Itu baru contoh kecil, masih banyak lagi pengalaman-pengalaman para penjual online yang mungkin belum kalian ketahui. Ungkapan pembeli adalah raja itu benar adanya, tetapi raja yang baik akan berlaku bijak dan pintar sebelum dan sesudah bertransaksi.

Sekian.

Surat Kecil


surat kecil ini aku tulis saat aku merasa sangat tidak sempurna menjadi seorang istri.

Meski aku tidak tau persis apa yang kau bayangkan tapi aku mungkin tidak seperti yang kau bayangkan. Sosok seorang istri yang idealis bagi semua pria aku rasa sama. Ia haruslah pandai memasak, pandai berhias diri, pandai bergaul, pandai menata rumah, bijak mengurus anak, tidak suka mengeluh, ulet, bisa membantu suami mencari uang jika dibutuhkan, cantik, molek, elok, pandai mengaji, taat, patuh dan penuh kasih sayang.

Aku tidak pandai memasak, aku bahkan takut menghabiskan banyak biaya untuk bereksperimen. Entah mengapa dalam hati aku merasa bahwa kau rindu masakan ibumu yang nun jauh di sana. Aku tidak bisa sepertinya. Maaf.

Aku tidak pandai mengurus rumah, aku hanya mampu menjaganya agar tetap bersih dan rapi, tidak bisa seperti ibumu yang nun jauh di sana. Jeli melihat sudut pandang indah untuk mengisinya dengan sesuatu yang menarik namun tetap membuat rumah tampak lapang.

Suamiku.
Tubuhmu nampak lebih kurus hari ini. Itu pasti karena aku yang tidak pandai mengatur keuangan sehingga berapapun yang kau berikan selalu kurang meski kita tlah hidup hemat apa adanya. Maaf. Aku yang hanya lulusan SMA ini bahkan tidak cukup kompeten untuk bersaing dengan mereka yang membawa ijazah S1 dan S2 di luar sana. Terimakasih atas kebesaran hatimu menjawab setiap tanya teman dan saudaramu yang rata-rata telah menempuh pendidikan S2-nya bahwa aku hanyalah wanita biasa saja. Tidak cukup kuat pula fisikku untuk memenuhi keinginanmu membukakan aku kedai kaki lima di pinggir jalan.

Sayang, sesungguhnya aku cemburu dengan ibumu. Tapi apalah aku ini. Hanya seseorang yang baru kau temui. Tidak sebanding dengan ibumu yang selalu ada untukmu dari kau bisa bernafas. Maaf aku berkata demikian. Aku cemburu. Disetiap ketidakmampuan atau ketidaktahuanku muncul, kau selalu berkisah tentang ibumu.

Andai ibumu ada di sini. Pasti kau akan minta dibuatkan aneka ragam makanan. Mengajaknya mengobrol lama, lama sekali. Jalan-jalan. Membuatku cemburu.

Tak apa asal bahtera ini tetap kau nahkodai. Tidak menceritakan hal pribadi kepada keluarga atau ibumu. Tidak juga memaksakan keadaaan untuk menjadi seperti yang mereka mau. Ini bahtera kita dan kau nahkodaku. Aku harap engkau cukup bijak sehingga kita bahagia bersama.