Allah telah menyatukan kita, ketika kau mantap menggandeng tanganku. Ketika kau seberangi lautan untukku, ketika kau ucap ijab kabul di hadapan penghulu.
Allah telah menyatukan kita
Ketika kau menjadi suami, kau sadar bebanmu sungguh berat. Menyanding putri tunggal tak berharta apa lagi bertahta. Orang berpikir bahwa kau beruntung mengawini seorang putri tunggal. Nyatanya kau (mungkin) tak seberuntung itu. Allah telah menyatukan kita.
Ketika aku menjadi seorang istri. Aku sadar bebanku berat. Menjadi tiang rumah tangga. Menghidupkan obor untuk menerangi, menghangatkan, menjaga apinya agar tak membesar. Membakar. Aku putri tunggal dengan orang tua tunggal. Ibuku... Aku menjaga agar aku tak menjadi putri tunggal yang durhaka, dan aku pun menjaga agar tak menjadi istri yang tidak sholehah.
Ketika orang tuamu yang jauh di seberang melepasmu untukku. Untuk putri tunggal dari dunia antah berantah yang baru ditemuinya barang sekali saja. Aku tahu (mungkin) batin mereka berontak. Menolak. Aku (mungkin) tahu upaya untuk mencegahmu. Tapi kuasa Allah lebih besar. Allah telah menyatukan kita.
Ketika Ibuku melepasku. Aku tahu hatinya tak rela. Aku (mungkin) tahu ia tak cukup percaya diri menghantarkan si putri tunggalnya padamu tanpa kemewahan yang (mungkin) dimiliki oleh keluargamu. Aku menjaga kesucianku untukmu bukankah itu adalah harta yang lebih dari cukup untuk Ibuku berbangga hingga Allah telah menyatukan kita.
Ketika kau, aku dan Ibu tergabung dalam satu koloni. Aku tahu ini berat untukku secara psikis. Berat untukmu secara materi (mungkin). Obor yang aku jaga perlahan membesar. Oleh angin yang (mungkin) ditiupkan keluargamu.
Mereka melihat bebanmu. Seolah mereka merasa. Seolah kami menyiksa. Memaksa. Mereka mengasihimu, bukan kita atau bahkan kami!
Oh Allah,
Jauhkan semua prasangka dari dalam pikiran kami semua...
Aku tak sekuat karang, baja atau gajah!
Aku hanyalah aku... Istri, anak, menantu, calon ibu
Aku tak bisa sebijak hakim yang mengetukkan palu kebenaran untuk apa yang telah ia analisa
Aku takut obor ini semakin membesar!
Membakar seisi rumah. Memanggang hidup-hidup aku. Apa aku padamkan saja obornya?
Ketika gelap
Aku tak mengenal, aku jadi tak berakal, aku bakal kebal. Bebal.
Ketika gelap aku tak bisa melihat suamiku, aku (mungkin) juga tak bakal melihat surga-Mu.
Ketika kau menjadi suami. Kau sadar bebanmu berat. Kau tetap menjadi milik keluargamu (Ibumu), tapi kau juga memiliki tanggung jawab untuk tetap kokoh dan memutuskan hal agar menjadi sebijak hakim. Menekan kepentingan di atas kepentingan.
Ketika aku menjadi istri. Aku sadar bebanku berat. Aku tak lagi menjadi milik Ibuku, yang (mungkin) berpura sudah ikhlas melepasku nyatanya belum. Aku punya suara tapi lirih tak terdengar oleh digdayanya kedudukan suami dan Ibuku. Aku memiliki jiwaku tapi (mungkin) aku sebenarnya tidak pernah hidup.
Ketika kita menjadi pasangan. Kita tahu beban itu berat. Tapi Allah telah menyatukan kita...
Jalani
Hadapi
Aku ingin kita tumbuh besar. Aku ingin kita tumbuh dewasa. Aku ingin mereka benar-benar menjadi dewasa. Aku hanya ingin kau menggandeng tanganku selalu.
Karena Allah telah menyatukan kita
Ketika lidah lidah semakin tajam memburu kita, aku ingin kau tahu bahwa aku masih mematung bersayat berdarah olehnya. Selamatkan aku dengan digdayamu. Selamatkan aku dengan doa melalui lidahmu.
Ketika (mungkin) suatu saat aku mati karenanya, aku hanya ingin kau masih menjadi milikku.
Sungguh, karena Allah telah menyatukan kita...