The Bird

Rabu, 29 April 2015

Ketika


Allah telah menyatukan kita, ketika kau mantap menggandeng tanganku. Ketika kau seberangi lautan untukku, ketika kau ucap ijab kabul di hadapan penghulu.
Allah telah menyatukan kita

Ketika kau menjadi suami, kau sadar bebanmu sungguh berat. Menyanding putri tunggal tak berharta apa lagi bertahta. Orang berpikir bahwa kau beruntung mengawini seorang putri tunggal. Nyatanya kau (mungkin) tak seberuntung itu. Allah telah menyatukan kita.

Ketika aku menjadi seorang istri. Aku sadar bebanku berat. Menjadi tiang rumah tangga. Menghidupkan obor untuk menerangi, menghangatkan, menjaga apinya agar tak membesar. Membakar. Aku putri tunggal dengan orang tua tunggal. Ibuku... Aku menjaga agar aku tak menjadi putri tunggal yang durhaka, dan aku pun menjaga agar tak menjadi istri yang tidak sholehah.

Ketika orang tuamu yang jauh di seberang melepasmu untukku. Untuk putri tunggal dari dunia antah berantah yang baru ditemuinya barang sekali saja. Aku tahu (mungkin) batin mereka berontak. Menolak. Aku (mungkin) tahu upaya untuk mencegahmu. Tapi kuasa Allah lebih besar. Allah telah menyatukan kita.

Ketika Ibuku melepasku. Aku tahu hatinya tak rela. Aku (mungkin) tahu ia tak cukup percaya diri menghantarkan si putri tunggalnya padamu tanpa kemewahan yang (mungkin) dimiliki oleh keluargamu. Aku menjaga kesucianku untukmu bukankah itu adalah harta yang lebih dari cukup untuk Ibuku berbangga hingga Allah telah menyatukan kita.

Ketika kau, aku dan Ibu tergabung dalam satu koloni. Aku tahu ini berat untukku secara psikis. Berat untukmu secara materi (mungkin). Obor yang aku jaga perlahan membesar. Oleh angin yang (mungkin) ditiupkan keluargamu.

Mereka melihat bebanmu. Seolah mereka merasa. Seolah kami menyiksa. Memaksa. Mereka mengasihimu, bukan kita atau bahkan kami!

Oh Allah,
Jauhkan semua prasangka dari dalam pikiran kami semua...

Aku tak sekuat karang, baja atau gajah!
Aku hanyalah aku... Istri, anak, menantu, calon ibu
Aku tak bisa sebijak hakim yang mengetukkan palu kebenaran untuk apa yang telah ia analisa

Aku takut obor ini semakin membesar!
Membakar seisi rumah. Memanggang hidup-hidup aku. Apa aku padamkan saja obornya?

Ketika gelap
Aku tak mengenal, aku jadi tak berakal, aku bakal kebal. Bebal.
Ketika gelap aku tak bisa melihat suamiku, aku (mungkin) juga tak bakal melihat surga-Mu.

Ketika kau menjadi suami. Kau sadar bebanmu berat. Kau tetap menjadi milik keluargamu (Ibumu), tapi kau juga memiliki tanggung jawab untuk tetap kokoh dan memutuskan hal agar menjadi sebijak hakim. Menekan kepentingan di atas kepentingan.

Ketika aku menjadi istri. Aku sadar bebanku berat. Aku tak lagi menjadi milik Ibuku, yang (mungkin) berpura sudah ikhlas melepasku nyatanya belum. Aku punya suara tapi lirih tak terdengar oleh digdayanya kedudukan suami dan Ibuku. Aku memiliki jiwaku tapi (mungkin) aku sebenarnya tidak pernah hidup.

Ketika kita menjadi pasangan. Kita tahu beban itu berat. Tapi Allah telah menyatukan kita...

Jalani
Hadapi

Aku ingin kita tumbuh besar. Aku ingin kita tumbuh dewasa. Aku ingin mereka benar-benar menjadi dewasa. Aku hanya ingin kau menggandeng tanganku selalu.

Karena Allah telah menyatukan kita

Ketika lidah lidah semakin tajam memburu kita, aku ingin kau tahu bahwa aku masih mematung bersayat berdarah olehnya. Selamatkan aku dengan digdayamu. Selamatkan aku dengan doa melalui lidahmu.
Ketika (mungkin) suatu saat aku mati karenanya, aku hanya ingin kau masih menjadi milikku.
Sungguh, karena Allah telah menyatukan kita...

Malam Tantangan Owop: Ujian


Aku menggelepar dalam amarah
Dalam aura merah, berdarah
Aku tertunduk resah
Mencaci takdir? Tak usah!

Kenari
Kemarin menari
Kemari
Kemana kau hendak lari?

Ini ujian
Tapi bukan penentuan
Ini ujian
Bisa jadi masa depan

Lelah marah
Mencari jawab tanpa arah
Lelah meratap
Ujian masih menetap

Bisa kau jawab ini?
Puluhan tanda lengkung bertitik bawah ini?
Haruskah aku abaikan ini?

Bias pelangi begitu indah
Tapi jawabanku masih mentah
Ke mana aku mencari? Entah!
Soal ujian ini masih tertawa gagah
Aku menyerah!

Mari kita bubar
Karena perut sudah lapar
Aku makin menggelepar
Ujian tertawa liar
Biar!

Selasa, 28 April 2015

Kau akan Tahu Rasanya


Percayalah.
Meski kau merasa bahwa masa kecilmu tidak bahagia, kau salah!
Masih berani lidahmu mengucap bahwa kau tidak beruntung saat kau belum pandai bicara?

Oke.
Lanjutkan saja bualan ini Dee...
Berapa dari kalian yang saat ini sudah menikah?
Bahagia bukan? Aku yakin jawabnya pasti "iya"
Tunggu hingga kau merasa jenuh dengan semua kewajiban seorang istri
Tunggu hingga kau mengidamkan seorang bayi kecil
Tunggu hingga bayimu hadir
Bahagia?
Pasti!
Sadar tidak? Semenjak kau memutuskan untuk berkeluarga kau harus lebih pintar berlapang dada.
Menomorsatukan suami
Menomorwahidkan anak
Berjuang untuk keduanya

Kau akan Tahu Rasanya...
Masa kecilmu begitu bahagia
Bapak Ibu memberimu segalanya
Mengesampingkan segalanya demi kamu

Masih mangkir? Masa kecilmu masih kau rasa tidak bahagia?

Mari kita lanjutkan lagi.

Ada diantara kalian yang masih belum berkeluarga? Kuliah? Sekolah?

Pikirkan
Berapa banyak usahamu untuk sampai ke fase ini?
Belajar saja? Berprestasi saja?
Itu hanya debu!
Pikirmu dari mana kau bisa belajar dengan nyaman hingga semua materi mampu kau lahap dengan rakusnya dan menghasilkan sebuah prestasi?
Orang tuamu!
Jika semasa kecil mereka tak merelakan seluruh waktunya untukmu apa jadinya?
Mungkin sekarang kau masih merangkak tak dapat berjalan!

Masih berpikir kau tak bahagia semasa kecil?

Kau punya motorkan?
Motor hasil jerih payah orang tuamu...
Ambil saja kuncinya, dan jalan saja ke panti asuhan.
Masuklah ke dalamnya.

Apa yang kau dapati?

SENYUMAN!

Bagaimana mereka bisa tersenyum selebar itu?
Sebagian dari mereka bahkan mengira dirinya terlahir dari batu seperti Sun Go Kong dalam film kera sakti

Kau akan Tahu Rasanya...
Masa kecilmu begitu bahagia
Bapak Ibu memberimu segalanya
Mengesampingkan segalanya demi kamu

Mereka?

Bahagia tanpa alasan

Jangan selalu melihat ke atas...
Ingatlah dari mana kamu berasal
Tanah
Tundukkan kepala dan mulailah bersyukur
SEKARANG!

Maka Kau akan Tahu Rasanya...

Senin, 27 April 2015

Asal Nulis


Sayang
Ikrar telah terucap
Membayang
Merayap

Pernikahan ini...
Kata orang sebuah bahtera
Di atas awan cinta
Bercengkrama berdua kini

Ah, bulan pun nampak begitu indah karena cinta
Kesunyian pun menjadi begitu sempurna karena cinta
Sayang...
Hanya fatamorgana

Terhenyak
Bahtera ini tak memiliki navigasi
Celakalah!

Jumat, 24 April 2015

Lomba Menulis FF DL mei 2015


Hai, jumpa lagi! Kemarin pada ikutan event bertema rindu dan pohon kenangan kan? Dan sekarang para kontributornya lagi nunggu buku terbit. Yap, sabar ya, bukunya sedang tahap penyusunan dalam antrian di meja editornya. Sambil menunggu buku bertema rindu dan pohon kenangan, ikutan event penerbit meta kata lagi yuk. Kali ini ada dua temanya adalah kisah putih abu-abu dan sahabat pena.
Sebagian dari teman-teman sudah mengalami indah-getirnya masa SMA kan? Bisa jadi masa cinta pertama, masa BFF, guru killer atau pelajaran matematika yang bikin sakit kepala. Oke deh, tak perlu berpanjang-panjang ya, berikut adalah persyaratannya :
  1. Lomba terbuka untuk umum.
  2. Lomba dibuka dari tanggal 19 April sampai dengan 15 Mei 2015 (pukul 23:59 WIB). 
  3. Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
  4. Like FansPage “Penerbit Meta Kata” dan bergabung dalam grup “Pena Meta Kata”.
  5. Naskah dalam bentuk  :
Flash Fiction : panjang naskah maksimal 500 kata, ditambah biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan.
  1. File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm, batas margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi.
  2. Tulis subjek email dan nama file: judul_nama penulis jika dikirim ke arvelristy13@gmail.com
  3. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya makanya tulis satu kisah putih abu-abumu yang sangat berkesan atau pun inspiratif.
  4. Update peserta bisa dilihat di dokumen grup “pena meta kata” dengan nama “Update Peserta Kisah Putih Abu-Abu” yang dilakukan oleh Risty Arvel setiap hari senin dan kamis.
10.  Akan dipilih 2 (dua) naskah pemenang masing-masing event yang akan mendapatkan hadiah berikut:
FF terbaik 1: mendapat pulsa sebesar 25 ribu rupiah plus voucher penerbitan sebesar 100.000 plus e-sertifikat.
FF terbaik 2: mendapatkan vouche penerbitan sebesar 100.000 plus e-sertifikat.
#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.
11.  Selain naskah pemenang, juga akan dipilih puluhan naskah nominator yang akan dibukukan bersamaan dengan naskah pemenang dan setiap nominator akan mendapatkan diskon 10% dalam pembelian buku terbit dan kontributor yang membeli akan memperoleh e-sertifikat yang dikirim ke e-mail.
12.  Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 28 mei 2015.


B. LOMBA BERTEMA SAHABAT PENA oleh Bunda Ocha Thalib
Pasti sebagian dari kalian memiliki sahabat pena, bisa jadi melalui surat-menyurat atau pun postcard seperti hobi Bunda Ocha Thalib. Di antara beberapa sahabat penanya pasti ada satu-dua cerita yang membuat kalian tersenyum geli atau pun terharu. Oke tak perlu berpanjang-panjang, ya, yuk ikutan dan simak aja persyaratannya sebagai berikut :
1. Lomba terbuka untuk umum.
2. Lomba dibuka dari tanggal 19 april sampai dengan 15 mei 2015 (pukul 23:59 WIB). 
3. Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
4. Like FansPage “Penerbit Meta Kata” dan bergabung dalam grup “Pena Meta Kata”.
4 Naskah dalam bentuk  : Flash Fiction panjang naskah maksimal 500 kata, ditambah biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan.
5. File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm, batas margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi.
6. Tulis subjek email dan nama file: judul_nama penulis dikirim ke pena.metakata@gmail.com
7. Setiap peserta hanya boleh mengirimkansatu naskah terbaiknya yang berkaitan dengan sahabat pena.
8. Update peserta bisa dilihat di dokumen grup “pena meta kata” dengan nama “Update Peserta event sahabat pena”.
9. Akan dipilih 2 (dua) naskah pemenang masing-masing event yang akan mendapatkan hadiah berikut:
FF terbaik 1 : memperoleh pulsa 25 ribu + Voucer Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat
FF terbaik 2 : voucher penerbitan senilai Rp 100.000 +e-sertifikat.
#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.
10. Selain naskah pemenang, juga akan dipilih puluhan naskah nominator yang akan dibukukan bersamaan dengan naskah pemenang dan setiap nominator akan mendapatkan diskon 10% dalam pembelian buku terbit dan kontributor yang membeli akan memperoleh dan e-sertifikat yang dikirim ke e-mail.
11. Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 28 Mei 2014



Oke, Mohon diperhatikan semua aturan yang ada dan Selamat berkarya….
NB: dilarang menanyakan pertanyaan yang sudah ada di pengumuman event, seperti kapan deadline, update peserta ada di mana, dsb. Dilarang menghubungi PJ secara personal (melalui inbox).

Salam,
a.n.
Penanggungjawab
Risty Arvel dan Bunda Ocha Thalib

Rabu, 22 April 2015

Badut


Selamat
Ulang tahun,
Kami ucapkan.

Selamat
Panjang umur!
Kita 'kan doakan.

Selamat
Sejahtera, sehat sentosa!!

Selamat panjang umur
dan bahagia!

Lagu yang sangat membumi itu merupakan pundi-pundi emas baginya
Coretan bedak di muka menjadi daya tariknya
Keceriaan yang dihadirkannya di dalam sebuah pesta kewajiban baginya
Namun, coba telisik lebih dalam lagi
Diantara tebalnya bedak yang mengelilingi matanya itu terdapat satu bias kepedihan yang mendalam
Perhatikan lagi lebih dalam
Bibirnya nyaris tanpa senyum kawan!
Polesan gincu merah nan tebal itu membantunya untuk terlihat selalu tersenyum
Keprofesionalannya menghadirkan nada dan intonasi ceria yang bergetar dari pita suaranya

Diantara semua riuh rendah tawa ceria anak-anak
Selalu mampu membawanya ke labirin masa lalu
Ia yang tak punya orang tua
Ia yang tidak pernah dicium oleh keduanya di depan kue dan lilin yang berderet rapi
Ia yang tak pernah betul-betul bergembira

Siapa peduli?
Cukup buat anak-anak itu tertawa
Cukup bertingkah bodoh di hadapan mereka
Berjoget
Bahkan dilempari permen oleh mereka
Ia rela!
Demi seiprit upah yang tak seberapa

Badut...
Hari ini aku nyaris menitikkan air mata untukmu
Sungguh!

Malam Tantangan Owop 21 April 2015


"Aduh sayang, muka kamu kenapa?"

"Habis masak!"

"Habis masak atau habis jadi montir? Belepotan gitu."

"Ih kesel! Ngeledekin mulu ah!"

Tomy mengecup mesra kening istri tercintanya. Tangannya lalu bergerak menggapai tisu basah yang ada di meja. Dengan lembut ia lalu menyeka bagian-bagian muka istrinya yang coreng moreng terkena jelaga.

"Aku capek ngikutin kemauan ibumu mas!" protes Dira ketus. "ini udah tahun 2015 lho, sampai kapan aku disuruh masak pakai kayu?" sambungnya.

"Kan kalau pakai kayu masakan kamu jadi lebih mantap rasanya sayang."  sahut Tomy menenangkan.

"Belain ibumu terus! Kalau masak pakai kayu rumah kita jadi kusam, bau asap, tembok item, muka item, masak juga jadi lebih lama, buang-buang waktu." sanggah Dira sambil memonyongkan bibirnya, lucu.

"Mau beli kompor gas?"

"Iya."

***

"Ya ampun sayaaang. Kamu beli daster di mana sih itu? Jelek banget."

"Beli katamu mas? Ini aku jahit sendiri! Susah payah aku buatnya, bukannya dipuji malah dihina, tega!"

"Wah kamu jahit sayang? Pandai istriku ini..." sahut Tomy sambil memberikan kecupan mesra di kening Dira.

"Ibumu tadi minta aku belajar jahit dan ini hasilnya. Buruk!"

"Tidak apa sayang, esok perbaiki lagi ya..."

Oh... Betapa bahagianya Dira menikah dengan Tomy. Meski ibunya super cerewet memintanya ini dan itu tapi ia tetap bisa mendinginkan emosi Dira yang meledak-ledak.

***

"Wah sayaang... Kau terlihat begiiitu cantik!" puji Tomy pada suatu sore.

"Baru saja ibumu menyuruh aku belajar merias diri, bukannya aku tak bisa, tapi aku tak sempat. Betapa repotnya jadi wanita jaman dulu yang harus melakukan semuanya. Mas, bolehkah aku kembali bekerja seperti dulu?"

"Apa uang dariku kurang sayang?" tanya Tomy cemas.

"Tidak. Tapi aku ingin punya teman. Aku bosan tiap hari di rumah. Aku janji aku akan tetap melayani mas seperti sekarang, masak, jahit, beresin rumah, dandan..."

"Baiklah. Kamu boleh kerja sayang, tapi aku yang memilih tempat kerjanya."

"Oke."

***

Raden Ajeng Kartini adalah tokoh yang begitu menginspirasi Dira. Ia senang ibu mertuanya menyuruh melakukan semua hal 'keputrian'. Tapi ia jadi sebal ketika semua itu harus dilakukan dengan cara yang kuno juga. Jaman sudah berubah.

Sudah kodrat wanita untuk menjadi makhluk yang dimuliakan. Boleh jadi ia menjadi seorang ibu rumah tangga tulen, tapi bukan untuk menjadi 'pesuruh' di dalam rumah. Boleh jadi ia bekerja di luar rumah, tapi sebagai wanita ia tetap harus memenuhi kewajiban yang melekat padanya sebagai seorang istri.

"Selamat hari kartini."

Selasa, 14 April 2015

Malam Tantangan Owop


Sepatu jingkatmu berpendar saat terkena cahaya. Matamu kadang menyala seperti kucing. Kulitmu mulus dan licin, lalat dan nyamuk pun pasti akan terpeleset jika hinggap di sana.
Jarimu lentik. Parasmu cantik.
Kakimu jenjang tubuhmu tinggi menjulang.
Bibirmu semerah tomat saudara!
Kuda besimu berbaris rapih bak tentara.
Istanamu megah menjulang di tengah mega.

Tapi sayang...
Pernah kah kau gunakan semua itu untuk sesamamu?
Pernah kau gunakan kaki dan sepatumu itu untuk melangkah ke posko pengungsian?
Pernahkah kau gunakan matamu untuk melihat kemiskinan?
Pernahkah kau gunakan jemarimu yang lentik itu untuk meraih mereka yang kesusahan? Menolongnya?
Satu senyuman saja dari bibirmu yang semerah tomat itu begitu berarti buat mereka saudara!

Hey! Jangan kau selalu melihat ke atas.
Di atas langit masih ada langit!
Kekayaanmu yang melimpah ruah itu tak sebanding dengan surga yang di tawarkan oleh Tuhan!

Berhentilah bersombong diri...
Mulailah berbaur dengan alam, dengan lingkungan, dengan sesama...
Kaya tapi kesepian apalah guna.
Jangan pernah kau pungkiri bahwa manusia itu adalah makhluk sosial...


~malamtantanganowop~
didedikasikan untuk para orang kaya yang sombong.
Sidoarjo, 14 April 2015

Senin, 13 April 2015

Siapa Dia Sebenarnya? (bagian. 3)


"Aku di mana ini?"

"Di rumah sakit, kau pingsan selama tiga hari setelah kejadian itu."

"Kejadian apa?"

"Kau dirasuki oleh arwah sayang, lelaki yang mati karena patah hati."

"Arwah?"

"Kau tidak pulang ke rumah selama berhari-hari. Kau melupakan aku dan anak-anakmu." jawab Angga.

"Kepalaku pusing sekali."

Sita melihat sekelilingnya sekilas, lalu ia kembali tak sadarkan diri. Tidak lama berselang, ia kembali tersadar. Namun dengan tatapan yang segar, mukanya tak lagi sepucat tadi. Bibirnya kembali merona. Ia nampak sangat sehat.

"Hahahaha...! Kau pikir mudah mengusirku hah?!!" ia berkelakar dengan nada dan suara yang aneh.

"Beraninya kau masuk ke tubuh istriku lagi?!" hardik Angga.

"Pergi dan bawa kemari Sarwah istriku! Jika tidak, aku akan selamanya ada di dalam raga istrimu ini! Hahaha...!"

Dua orang bocah meringkuk ketakutan mendengar suara Ibunya yang seperti seorang pria itu. Salah satu dari mereka lalu keluar kamar. Kembali lagi dengan seorang pria bersorban putih.

Pria itu hanya mengangguk-angguk sambil menatap Sita yang sedang kesurupan. Ia lalu berpaling dan meminta Angga untuk mencari orang yang dimaksud sementara ia menjaganya di sini bersama anak-anak.

Beruntung, selama tiga hari istrinya pingsan Angga sudah mencari Sarwah. Kini ia hanya tinggal pulang ke rumah, membuka kunci gembok kamar dan membawanya ke rumah sakit.

"Ini istrimu. Sekarang keluarlah dari raga istriku!"

"Kau semua manusia bodoh! Mana mungkin aku keluar dari raga ini. Jika aku keluar, aku tak dapat lagi berkumpul dengan istriku, Sarwah. Hahaha...!"

Tasbih di tangan pria bersorban putih mulai bergulir dari sela jemarinya. Semakin lama semakin cepat. Mulutnya berkomat-kamit. Matanya lurus menatap setan yang sedang merasuki tubuh keponakannya itu.

"Tolong kau bawa anak-anak keluar. Titipkan ia pada salah satu suster. Setelah itu cepat kau kembali ke sini." perintahnya.

Setelah menitipkan kedua anaknya pada salah satu suster di rumah sakit. Angga kembali ke dalam kamar.

"Kau pegangi istrimu yang kuat."

"Baik."

Pria bersorban itu lalu berjalan mendekat. Semakin dekat membuat setan semakin berontak. Ia lalu mengalungkan tasbihnya kepada keponakannya yang sedang kesurupan.

"Aaaarrgggg....!!! Tolong...!"

Telapak tangannya menutupi mata Sita yang sedang histeris. Ia melafalkan doa-doa. Lalu menangkupkan telapaknya seperti sedang menggenggam sesuatu. Saat itu juga Sita jatuh lemas dan pingsan.

"Carikan aku sebuah botol!"

Angga merebahkan tubuh istrinya di tempat tidur lalu dengan secepat kilat ia meraih sebuah botol air mineral yang sudah kosong.

Pria bersorban itu lalu memasukkan sesuatu yang tidak tampak itu ke dalam botol. Menutupnya rapat. Dan meletakkannya di lantai.

Botol itu melompat-lombat ke sana ke mari. Ia kadang menggembung dan kadang mengempis. Kadang tampak banyak sekali uap di dalamnya.

"Setan itu sudah aku kurung dalam botol."

"Terima kasih Pakde... Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Sita."

Dokter datang dalam sekejap. Memeriksa denyut nadi dan degupan jantung Sita. Dahinya mengernyit.

"Kondisinya drop. Kami harus memindahkannya ke ruang ICU."

"Lakukan jika memang itu dibutuhkan Dok," jawab Angga.

***

Dua hari kemudian.

Sita semakin membaik. Semua menarik nafas lega. Kejadian mengerikan itu sudah berlalu.

"Apakah kau ingin melihat sosok yang merasuki tubuh istrimu kemarin Angga?"

"Kalau memang bisa, saya ingin melihatnya Pakde."

Pria bersorban putih itu kemudian mengusap kedua kelopak mata Angga. Menyuruhnya untuk terpejam sesaat.

Ketika Angga mulai membuka matanya. Ia tidak melihat keanehan apa pun yang terjadi. Tetapi begitu ia melihat botol yang digunakan untuk mengurung setan kemarin. Ia langsung melompat kaget bukan kepalang.

Ia melihat sosok yang sangat mengerikan. Sesosok yang menyerupai manusia tapi leher dan lidahnya terjulur panjang. Matanya melotot, giginya bertaring dan kepalanya bercula.

"Hahaha... Begitu saja kau takut. Baru melihat aku begini kau kaget. Jika aku keluar dari sini aku akan membelit lehermu dengan lidahku."

"Hiiiyyy...!"

"Whahaha..." setan itu terus saja tertawa. Tiba-tiba, ia berubah menjadi seorang manusia. Manusia normal tanpa ada kengerian sama sekali yang tampak.

"Kau rupanya! Kurang ajar!"

"Kau kenal ia Angga?" tanya pria bersorban putih.

"Tidak Pakde... Hanya saja aku yang menangani kasus bunuh dirinya dulu. Seseorang melaporkan kematiannya di dalam rumah yang terkunci. Mayatnya membusuk. Sampai saat ini kasus bunuh dirinya masih menjadi tanda tanya besar di masyarakat sekitar. Setelah kejadian ini, aku baru tau..."

"..." pria bersorban itu mendengarkan.

"Bahwa ia mati bunuh diri karena wanita yang dicintainya, Sarwah. Adalah wanita yang tidak waras dan menyukai sesama jenisnya."

Masalah terselesaikan. Misteri terungkap. Sita sudah normal kembali dan bisa berkumpul dengan keluarganya, meski setiap seminggu sekali ia harus mengikuti trauma teraphy. Angga kembali bekerja dan mengenakan seragam kebanggaannya. Anak-anak bisa tersenyum riang lagi. Sementara Sarwah kini mendekam di rumah sakit jiwa karena ia terbukti gila.

"Terima kasih Pakde sudah membantu kami semua..." ucap Angga lagi.


- TAMAT -

Sidoarjo, 14 April 2015 / 11.15

Malam Narasi Owop


Hidupku hanya sebuah imaji bagimu
Terlantar asa dikurung rindu
Hidupku hanya bagai semilir angin bagimu
Kedinginan menanti kehangatan cinta.
Sunyi...
Biarlah aku sendiri di sini
Berkawan dengan awan dan burung liar
Sepi... Hanya gemerisik mahkotaku yang terdengar saat senja.
Sudah, biar aku sendiri di sini
Menatapmu dari kejauhan

Sidoarjo, 13 April 2015
by: Dee


Jumat, 10 April 2015

Superwoman


Memang apa salahnya kalau perempuan bersuami itu hanya di rumah saja? Toh, dari petang sampai jumpa petang perempuan itu bekerja teruuuusss. Meski dirinya sedang sakit.

Mengapa jaman ini serba terbalik? Lumrahnya. Pihak Perempuan lah yang banyak menuntut.

Tapi sudahlah... Biarlah hidupmu mengalir. Lakukan apa yang kau yakini. Asal itu baik dan benar. Semua yang benar itu tidak selamanya baik. Begitu pula sebaliknya.

Namun satu. Jangan pernah abaikan kewajiban sebagai seorang perempuan bersuami. Jika memang kau siap bekerja double (mengurus rumah tangga dan mencari uang), lakukanlah! Demi kebaikan yang benar. Dan jika itu terjadi pada hidupmu, semoga saja suamimu adalah orang yang penuh kasih, membantumu serta dalam berbagai kegiatan 'remeh' di dalam rumah. :)

Kamis, 09 April 2015

Dengerin Khotbah Jumat


Keuntungan tinggal di rumah yang dekat dengan masjid.
Bisa dengerin khotbah jumat

Kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.
1. Lisan yang selalu berdzikir kepada Allah. Mengingat Allah. Mengingat kebesaran Allah.
2. Lisan yang pandai bersyukur
Sedikit atau banyak rejeki. Kita harus bersyukur.
3. Bersabar terhadap cobaan.
Selalu bersabar, percaya dan mengingat Allah.
4. Istri yang sholehah
yang bisa mengingatkan selalu kepada kebaikan dan mengingatkan untuk selalu menjauhi keburukan.

Sekian.

Rabu, 08 April 2015

Aku Ingin Hidup!


Entah kapan aku akan menyesali tulisanku ini.

Aku adalah seorang istri sekarang. Aku tinggal dengan suamiku, orang baru dalam hidupku. Dan ibuku, orang yang telah lama ada dalam hidupku.

Hari ini, detik ini. Aku ingin tinggal berdua saja dengan suami.

Tidak. Tidak. Tidak.
Bukan karena aku anak yang tidak tahu balas budi dan tidak berbakti sehingga ingin meninggalkan ibu sendiri. Tidak.

Jujur, beberapa bulan yang lalu terbersit pikiran aku ingin mengakhiri hidup di usia pernikahanku yang baru seumur jagung. Tanganku sudah menggenggam sebuah silet kawan... Silet yang tajam dan bisa saja aku gunakan untuk mengiris nadi. Aku putus asa. Aku menangis dan histeris dikuasai oleh setan. Bukan karena suamiku tidak mencintai aku lagi atau karena aku telah menyesal memilihnya. Bukan.

Semua itu karena perseteruanku dengan ibu yang dimulai sejak hari ke tiga pernikahanku. Aku yang harusnya berbahagia. Aku yang seharusnya tertawa. Gembira. Justru murung jatuh ke dalam kesedihan.

Lantas mengapa perseteruan itu terjadi?

Entah.

Saat aku dilamar oleh suamiku dulu. Serta merta ibu menerima pinangannya. Menyetujui pernikahan kami dengan riang.

Pasca menikah. Tuhan hanya memberiku waktu tiga hari untuk berbahagia. Setelah itu semua meledak seperti bom waktu.

Ibuku mencela semua perilaku suamiku tanpa alasan. Menghardik setiap perkataanku tanpa sebab. Mencaci semua keputusan kami secara sepihak. Hingga mengungkapkan penyesalannya karena telah menikahkan aku dengan sang suami. Sungguh aku tak mengerti.

"Bu, apabila saya ada salah saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mengapa ibu hingga sedemikian murkanya?" tanya suamiku pada suatu hari. Yang hanya di jawab oleh celaan. Celaan. Dan hinaan. Tidak beralasan.

Hingga hari itu tiba. Pertengkaran hebat antara aku dan ibuku. Membuat aku menggenggam sebuah silet yang tadinya ingin aku sayatkan ke pergelangan tanganku. Tapi urung. Itu adalah sebuah dosa besar. Hingga aku lampiaskan kepada rambut panjangku. Aku potong rambutku tak beraturan. Aku menangis sendiri di kamar. Habis sudah rambutku berserakan di lantai. Aku jatuh di tempat tidur.

Sakit kepalaku muncul dengan hebat. Entah penyakit apa ini. Selalu muncul di saat aku merasa terlalu sedih, tertekan dan putus asa.

Lalu semuanya gelap. Aku tak ingat apa-apa lagi hingga aku terbangun dan mendapati wajah cemas suamiku. Aku memeluknya.

***

Hari ini aku ingin tinggal berdua saja dengan suami.

Aku lelah di setiap langkah aku selalu dihardik. Disalahkan. Dicaci.

Aku ingin kami tinggal di rumah yang berbeda dengan ibu. Cukup lima atau sepuluh kilometer saja jauhnya. Agar aku tetap bisa menengoknya. Memperhatikannya.

Aku ingin mendekor rumahku sendiri tanpa interupsi. Aku ingin belajar memasak sendiri tanpa tendency. Aku ingin menuangkan ide-ideku. Aku ingin bergaul tanpa prasangka. Aku ingin mematuhi perkataan suami tanpa harus berpikir keras. Aku ingin sedikit kebahagiaan.
Aku ingin hidup!

Hati


Cinta...
Jauh membuatku begitu rindu
Sungguh
Satu dering mampu mengukir senyumku

Sayang...
Kini kita satu
Dekat
Sangat dekat
Tanpa deringan dan tak ada rindu

Oh... Kekasih hatiku
Terkadang aku rindu suara tawamu lewat udara
Aku rindu membaca suratmu

Cinta memang gila
Jauh ingin dekat
Dekat pun terkadang rindu jarak

Tapi
Semua itu tidaklah penting!

Jiwa, raga dan hatimu telah aku miliki
Senyumku untukmu sayang

Aku sayang engkau...

Tapi hati ini belum mampu kau menangkan seluruhnya.
Ada secuil sisi gelap dalam hati yang masih terukir namanya
Maaf

Dia adalah cinta pertamaku yang sudah lama diambil orang



By. Dee ~
Sidoarjo 080415 ~ 20.35 

Selasa, 07 April 2015

Berlian


"Apa kamu sudah mantap menikah dengannya? Lihat keluarganya, jelas mereka memandang kita sebelah mata. Ibunya, semua perhiasan dia kenakan, persis seperti toko emas berjalan. Lihat bagaimana cara calon mertuamu itu memandangmu yang nyaris tanpa logam mulia yang menempel di badan."

"Aku sudah mantap. Tidak masalah aku yang tanpa harta ini Ma, asal restu dari mereka sudah aku kantongi. Meski mereka meremehkanku, yang penting dia selalu menghargai aku."

"Ya sudah. Mama cuma mengingatkan, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."

Percakapan itu terus terngiang-ngiang di pikiranku beberapa hari ini. Entah, bagaimana bisa orang tua itu bak seorang ahli nujum untuk anak-anaknya.

Kini sudah hampir sepuluh tahun usia pernikahanku. Aku merasa tidak dihargai oleh dia. Suamiku. Aku menemukan surat pembelian cincin kawin kami dulu. Bak tersambar petir. Di sana tertulis kadar emas di cincin kami ini hanya 50% saja.

Aku kecewa. Di saat ia mampu membeli berlian, ia hanya memberiku emas campuran. Kami bangkrut. Aku akan menjual cincin kawinku yang murah ini. Sedih, cincin ini menyimpan berjuta kenangan indah walau harganya murah.

Esoknya. Jemariku polos tanpa logam kuning yang melingkari. Padahal hari ini adalah hari jadi kami yang ke sepuluh. Dia masih di luar sana mencari nafkah.

"Sayang... Aku pulang..."

"Selamat datang cinta. Happy anniversary..." sahutku sambil menciumnya.

"Sayang... Selama sepuluh tahun aku terus merutuki diri. Mengapa dulu aku hanya memberimu barang murahan. Mengapa aku begitu pelit untuk sebuah cincin kawin. Maafkan aku sayang..."

"Aku memang kecewa. Sungguh. Tetapi sosokmu yang berdiri tegap dihadapanku dengan penuh peluh dan senyuman inilah yang mampu menghapus segala kekecewaan ini."

Ia merogoh ke dalam saku celana. Mengeluarkan sebuah kotak berbahan bludru yang begitu khas. Begitu kotaknya dibuka di sana terselip cincin kawin murahanku yang telah aku jual kemarin. Mengejutkan, terselip pula sebuah cincin berlian yang berpendar indah.

"Aku jamin yang ini asli sayang... Aku beli dengan keringat hasil jerih payah selama sepuluh tahun. Berlian untuk istriku yang cantik. Cincin murah ini aku beli kembali dari toko emas tempat kau menjualnya. Aku ingin kau tetap menyimpannya sampai kita tua. Aku sangat sayang kau... Melebihi apapun di dunia ini."

Kami pun berpelukan dalam keharuan.

Sidoarjo, 050415/22.00

Andai Aku jadi Presiden


Andai aku jadi presiden, aku akan mendapat kesempatan untuk berkeliling dunia dengan gratis.
Akan aku gunakan kesempatan itu untuk belajar dan fasih bercakap berbagai macam bahasa asing yang ada di dunia.

Andai aku jadi presiden, aku akan meluangkan sedikit waktuku untuk menulis, karena tentu akan banyak sekali hal yang akan aku lihat dan aku rasakan di setiap harinya. Meski aku presiden, akan aku luangkan waktu walau hanya sepuluh menit untuk melampiaskan hobbi menulisku.

Andai aku jadi presiden, akan ada kantung mata besar dan lingkaran hitam di sekitar mataku. Aku pastilah kurang tidur nantinya. Aku tidak mau rakyatku merana karena aku lebih banyak tidur dari pada melakukan sebuah terobosan untuk membuat mereka lebih aman, nyaman dan tentram.

Andai aku menjadi presiden, sesekali aku ingin menyemir sepatuku sendiri.

Andai aku jadi presiden, rambutku mungkin akan rontok lebih banyak dari sebelumnya. Guratan garis di dahiku pasti menjadi lebih jelas terlihat.

Andai aku jadi presiden, yang sukses, jujur dan bersih. Insya Allah aku akan masuk surga. Amiin.

Sekian.
Terima kasih.
- Dee -

Over Thinking


Bukan...
Aku bukan orang yang sombong tanpa sesungging senyum, tanpa bias sinar di mata. Mengapa orang lantas menganggapku demikian?

Tidak dapat ku pungkiri. Memang, sedikit senyum akan mampu memutar roda dunia. Meluruhkan hati yang keras. Merontokkan seluruh benteng diri, tidak dapat menolak untuk membalas senyum itu lalu menyebarkannya kepada yang lain.

Aku bukan orang yang sombong kawan... Seluruh energi positif yang dapat menghasilkan satu senyuman telah aku alihkan ke dalam otak. Entah, pekara sepele apa saja yang membuat warna-warna di pikiran ini menjadi tidak mempunyai nilai estetika.

Kawan. Maukah engkau tersenyum untukku malam ini? Menularkan satu tarikan senyuman kepadaku? Menambah energi positif dalam otak dan pikiranku ini? Agar ia mampu berubah dan terurai menjadi sesuatu yang lebih indah.

Seindah pelangi.

~DavirasR~
#firstpostatmalamnarasiOWOP

Cinta Buta


"Dia anak siapa?"

"Anak seorang janda pengangguran."

"Dia lulusan apa? Kerja apa? Pakaiannya selalu nampak lusuh. Seperti orang jalanan saja. Bagaimana ia akan mengurusmu kelak."

"Mama ini mau cari menantu atau mau cari pegawai sih?! Rere cinta sama dia Ma! Rere nggak peduli dia anak siapa, kerja apa dan lulusan apa. Yang penting dia adalah seorang perempuan dan Rere sayang padanya."

"Terserah kamu lah."

Ah~
Rasanya sungguh tak nyaman mendengar percakapan kekasihku dengan Mamanya itu. Hubungan kami bagai berjalan di atas duri. Restu kedua orang tua kami susah di dapat. Tetapi hal itu tak terlalu jadi masalah, karena kami yakin. Cepat atau lambat para orang tua kami akan luluh juga.

Hari berlalu dengan cepat. Cinta kami semakin tumbuh subur. Tidak mengenal status dan latar belakang yang selalu diributkan oleh para orang tua.

Hari ini, aku duduk bersimpuh di hadapan banyak orang. Menunggu sang mempelai lelaki datang dan duduk di sebelahku untuk mengucap ikrar suci.

Akhirnya ia datang... Ya Tuhan... Ia nampak sangat tampan dengan jas hitam dan peci bertengger di kepalanya. Aku sungguh mencintainya. Ia mendekat ke arahku, kemudian beberapa orang membantunya bangkit dan didudukkan di sampingku.

Kami saling melempar senyum mesra. Prosesi pernikahan pun berjalan lancar.

"Sayang... Teras rumah siapa yang kau pinjam untuk acara pernikahan kita ini?"

"Rumahku sayang. Rumah kita."

"Jangan kau bercanda dengan suamimu yang lumpuh ini sayang. Kau kira aku tidak tahu siapa kau? Hahaha." jawabnya sambil tertawa renyah.

"Maaf, aku tidak mengatakan yang sesungguhnya padamu. Sebenarnya aku bukanlah seorang pembantu rumah tangga. Mamaku memang seorang pengangguran, itu karena beliau sudah memiliki ribuan karyawan yang mengelola usahanya. Dan aku? Aku adalah seorang anak tunggal yang diharapkan menjadi penerus. Sayangnya aku buta... Aku tidak bisa melihat lelaki yang tampan. Aku tidak bisa memiliki suami yang sempurna. Aku tidak bisa memiliki suami yang kaya. Aku tidak bisa memiliki semuanya di dunia. Tapi, menikah denganmu membuatku lebih hidup. Membuatku lebih bahagia. Membuatku lebih bersemangat."

"..." ia hanya terdiam.

"Mungkin seluruh orang yang hadir dan menyaksikan pernikahan ini menganggap aku adalah wanita yang naif, bodoh dan buta karena telah memilih lelaki sepertimu. Sebenarnya mereka yang buta sayang... Mereka tak bisa melihat apa yang aku lihat pada dirimu. Aku melihat surga jika aku menjadi istrimu. Kau adalah lelaki pilihanku. Kau bukan sekedar seorang yang hidupnya bergantung pada kursi roda. Kau adalah berlian yang bersinar di lingkungan kumuhmu. Dan aku buta karena kilauannya. Aku sayang kau suamiku..."

~By. Dee~ 070414~20.26

Jumat, 03 April 2015

Siapa Dia Sebenarnya? (bagian. 2)

Orang asing yang ada di hadapanku ini malah pingsan. Tubuh kekarnya cukup menimbulkan suara berdebam saat ia terjatuh tak sadarkan diri.

Sejenak ada bayangan tentang aku dan dia saat kami duduk di pelaminan. Aku ingin menampilkan memory itu lagi di dalam otak. Memutar ulang dan melihat lebih jauh lagi. Tapi dalam seperdetik aku merasa ada yang mengacau di dalam otakku. Dan setelah itu, aku kembali memikirkan Sarwah. Wanita cantik yang sering muncul di dalam pikiranku belakangan ini. Terkadang muncul rasa cinta padanya, aku berusaha menolak rasa itu. Semakin kuat aku berusaha, badanku terasa begitu sakit. Seakaan jiwaku akan terpisah dari raga.

Seorang bersorban putih datang tiba-tiba entah dari mana. Mengacungkan tangannya padaku sejenak, lalu menghampiri orang yang mengaku suamiku itu. Mengusap matanya. Dan ia pun tersadar dari pingsannya.

Tersadar dari pingsan. Ia nampak bingung. Matanya kosong. Sementara di sebelahnya ada dua orang anak kecil yang sedang menangis. Mengira ayahnya sudah mati.

Seseorang bersorban putih lalu berpaling ke arahku. Berkomat-kamit. Tiba-tiba tubuhku terasa seperti di rajam oleh sejuta pisau. Perih. Sakit. Aku berontak. Berteriak.

"Pergi kau! Jangan ganggu aku. Aku tidak ada urusan denganmu. Aku tidak ingin bertarung!" tiba-tiba saja mulutku berkata demikian. Tanpa ku sadari.

Aku berteriak semakin keras saat tubuhku semakin terasa sakit. Dengan segala daya dan upaya aku mendekat ke arah orang bersorban putih.

Aku mendorongnya hingga ia terpental. Jauh. 

Ah, sial. Ternyata bukan ia yang terpental, tapi aku. Aku terpental saat menyentuhnya. Jauh. Sakit.

"Kurang ajar!" lagi-lagi mulutku berbicara tanpa kontrol.

Aku melihat sebuah tasbih dilemparkan padaku. 

Dhuaarr! Terdengar suara petir saat tasbih mengenai tubuhku. Lalu semuanya gelap.

***

(bersambung...)