Orang asing yang ada di hadapanku ini malah pingsan. Tubuh kekarnya cukup menimbulkan suara berdebam saat ia terjatuh tak sadarkan diri.
Sejenak ada bayangan tentang aku dan dia saat kami duduk di pelaminan. Aku ingin menampilkan memory itu lagi di dalam otak. Memutar ulang dan melihat lebih jauh lagi. Tapi dalam seperdetik aku merasa ada yang mengacau di dalam otakku. Dan setelah itu, aku kembali memikirkan Sarwah. Wanita cantik yang sering muncul di dalam pikiranku belakangan ini. Terkadang muncul rasa cinta padanya, aku berusaha menolak rasa itu. Semakin kuat aku berusaha, badanku terasa begitu sakit. Seakaan jiwaku akan terpisah dari raga.
Seorang bersorban putih datang tiba-tiba entah dari mana. Mengacungkan tangannya padaku sejenak, lalu menghampiri orang yang mengaku suamiku itu. Mengusap matanya. Dan ia pun tersadar dari pingsannya.
Tersadar dari pingsan. Ia nampak bingung. Matanya kosong. Sementara di sebelahnya ada dua orang anak kecil yang sedang menangis. Mengira ayahnya sudah mati.
Seseorang bersorban putih lalu berpaling ke arahku. Berkomat-kamit. Tiba-tiba tubuhku terasa seperti di rajam oleh sejuta pisau. Perih. Sakit. Aku berontak. Berteriak.
"Pergi kau! Jangan ganggu aku. Aku tidak ada urusan denganmu. Aku tidak ingin bertarung!" tiba-tiba saja mulutku berkata demikian. Tanpa ku sadari.
Aku berteriak semakin keras saat tubuhku semakin terasa sakit. Dengan segala daya dan upaya aku mendekat ke arah orang bersorban putih.
Aku mendorongnya hingga ia terpental. Jauh.
Ah, sial. Ternyata bukan ia yang terpental, tapi aku. Aku terpental saat menyentuhnya. Jauh. Sakit.
"Kurang ajar!" lagi-lagi mulutku berbicara tanpa kontrol.
Aku melihat sebuah tasbih dilemparkan padaku.
Dhuaarr! Terdengar suara petir saat tasbih mengenai tubuhku. Lalu semuanya gelap.
***
(bersambung...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar