"Dia anak siapa?"
"Anak seorang janda pengangguran."
"Dia lulusan apa? Kerja apa? Pakaiannya selalu nampak lusuh. Seperti orang jalanan saja. Bagaimana ia akan mengurusmu kelak."
"Mama ini mau cari menantu atau mau cari pegawai sih?! Rere cinta sama dia Ma! Rere nggak peduli dia anak siapa, kerja apa dan lulusan apa. Yang penting dia adalah seorang perempuan dan Rere sayang padanya."
"Terserah kamu lah."
Ah~
Rasanya sungguh tak nyaman mendengar percakapan kekasihku dengan Mamanya itu. Hubungan kami bagai berjalan di atas duri. Restu kedua orang tua kami susah di dapat. Tetapi hal itu tak terlalu jadi masalah, karena kami yakin. Cepat atau lambat para orang tua kami akan luluh juga.
Hari berlalu dengan cepat. Cinta kami semakin tumbuh subur. Tidak mengenal status dan latar belakang yang selalu diributkan oleh para orang tua.
Hari ini, aku duduk bersimpuh di hadapan banyak orang. Menunggu sang mempelai lelaki datang dan duduk di sebelahku untuk mengucap ikrar suci.
Akhirnya ia datang... Ya Tuhan... Ia nampak sangat tampan dengan jas hitam dan peci bertengger di kepalanya. Aku sungguh mencintainya. Ia mendekat ke arahku, kemudian beberapa orang membantunya bangkit dan didudukkan di sampingku.
Kami saling melempar senyum mesra. Prosesi pernikahan pun berjalan lancar.
"Sayang... Teras rumah siapa yang kau pinjam untuk acara pernikahan kita ini?"
"Rumahku sayang. Rumah kita."
"Jangan kau bercanda dengan suamimu yang lumpuh ini sayang. Kau kira aku tidak tahu siapa kau? Hahaha." jawabnya sambil tertawa renyah.
"Maaf, aku tidak mengatakan yang sesungguhnya padamu. Sebenarnya aku bukanlah seorang pembantu rumah tangga. Mamaku memang seorang pengangguran, itu karena beliau sudah memiliki ribuan karyawan yang mengelola usahanya. Dan aku? Aku adalah seorang anak tunggal yang diharapkan menjadi penerus. Sayangnya aku buta... Aku tidak bisa melihat lelaki yang tampan. Aku tidak bisa memiliki suami yang sempurna. Aku tidak bisa memiliki suami yang kaya. Aku tidak bisa memiliki semuanya di dunia. Tapi, menikah denganmu membuatku lebih hidup. Membuatku lebih bahagia. Membuatku lebih bersemangat."
"..." ia hanya terdiam.
"Mungkin seluruh orang yang hadir dan menyaksikan pernikahan ini menganggap aku adalah wanita yang naif, bodoh dan buta karena telah memilih lelaki sepertimu. Sebenarnya mereka yang buta sayang... Mereka tak bisa melihat apa yang aku lihat pada dirimu. Aku melihat surga jika aku menjadi istrimu. Kau adalah lelaki pilihanku. Kau bukan sekedar seorang yang hidupnya bergantung pada kursi roda. Kau adalah berlian yang bersinar di lingkungan kumuhmu. Dan aku buta karena kilauannya. Aku sayang kau suamiku..."
~By. Dee~ 070414~20.26
Tidak ada komentar:
Posting Komentar