The Bird

Senin, 13 April 2015

Siapa Dia Sebenarnya? (bagian. 3)


"Aku di mana ini?"

"Di rumah sakit, kau pingsan selama tiga hari setelah kejadian itu."

"Kejadian apa?"

"Kau dirasuki oleh arwah sayang, lelaki yang mati karena patah hati."

"Arwah?"

"Kau tidak pulang ke rumah selama berhari-hari. Kau melupakan aku dan anak-anakmu." jawab Angga.

"Kepalaku pusing sekali."

Sita melihat sekelilingnya sekilas, lalu ia kembali tak sadarkan diri. Tidak lama berselang, ia kembali tersadar. Namun dengan tatapan yang segar, mukanya tak lagi sepucat tadi. Bibirnya kembali merona. Ia nampak sangat sehat.

"Hahahaha...! Kau pikir mudah mengusirku hah?!!" ia berkelakar dengan nada dan suara yang aneh.

"Beraninya kau masuk ke tubuh istriku lagi?!" hardik Angga.

"Pergi dan bawa kemari Sarwah istriku! Jika tidak, aku akan selamanya ada di dalam raga istrimu ini! Hahaha...!"

Dua orang bocah meringkuk ketakutan mendengar suara Ibunya yang seperti seorang pria itu. Salah satu dari mereka lalu keluar kamar. Kembali lagi dengan seorang pria bersorban putih.

Pria itu hanya mengangguk-angguk sambil menatap Sita yang sedang kesurupan. Ia lalu berpaling dan meminta Angga untuk mencari orang yang dimaksud sementara ia menjaganya di sini bersama anak-anak.

Beruntung, selama tiga hari istrinya pingsan Angga sudah mencari Sarwah. Kini ia hanya tinggal pulang ke rumah, membuka kunci gembok kamar dan membawanya ke rumah sakit.

"Ini istrimu. Sekarang keluarlah dari raga istriku!"

"Kau semua manusia bodoh! Mana mungkin aku keluar dari raga ini. Jika aku keluar, aku tak dapat lagi berkumpul dengan istriku, Sarwah. Hahaha...!"

Tasbih di tangan pria bersorban putih mulai bergulir dari sela jemarinya. Semakin lama semakin cepat. Mulutnya berkomat-kamit. Matanya lurus menatap setan yang sedang merasuki tubuh keponakannya itu.

"Tolong kau bawa anak-anak keluar. Titipkan ia pada salah satu suster. Setelah itu cepat kau kembali ke sini." perintahnya.

Setelah menitipkan kedua anaknya pada salah satu suster di rumah sakit. Angga kembali ke dalam kamar.

"Kau pegangi istrimu yang kuat."

"Baik."

Pria bersorban itu lalu berjalan mendekat. Semakin dekat membuat setan semakin berontak. Ia lalu mengalungkan tasbihnya kepada keponakannya yang sedang kesurupan.

"Aaaarrgggg....!!! Tolong...!"

Telapak tangannya menutupi mata Sita yang sedang histeris. Ia melafalkan doa-doa. Lalu menangkupkan telapaknya seperti sedang menggenggam sesuatu. Saat itu juga Sita jatuh lemas dan pingsan.

"Carikan aku sebuah botol!"

Angga merebahkan tubuh istrinya di tempat tidur lalu dengan secepat kilat ia meraih sebuah botol air mineral yang sudah kosong.

Pria bersorban itu lalu memasukkan sesuatu yang tidak tampak itu ke dalam botol. Menutupnya rapat. Dan meletakkannya di lantai.

Botol itu melompat-lombat ke sana ke mari. Ia kadang menggembung dan kadang mengempis. Kadang tampak banyak sekali uap di dalamnya.

"Setan itu sudah aku kurung dalam botol."

"Terima kasih Pakde... Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Sita."

Dokter datang dalam sekejap. Memeriksa denyut nadi dan degupan jantung Sita. Dahinya mengernyit.

"Kondisinya drop. Kami harus memindahkannya ke ruang ICU."

"Lakukan jika memang itu dibutuhkan Dok," jawab Angga.

***

Dua hari kemudian.

Sita semakin membaik. Semua menarik nafas lega. Kejadian mengerikan itu sudah berlalu.

"Apakah kau ingin melihat sosok yang merasuki tubuh istrimu kemarin Angga?"

"Kalau memang bisa, saya ingin melihatnya Pakde."

Pria bersorban putih itu kemudian mengusap kedua kelopak mata Angga. Menyuruhnya untuk terpejam sesaat.

Ketika Angga mulai membuka matanya. Ia tidak melihat keanehan apa pun yang terjadi. Tetapi begitu ia melihat botol yang digunakan untuk mengurung setan kemarin. Ia langsung melompat kaget bukan kepalang.

Ia melihat sosok yang sangat mengerikan. Sesosok yang menyerupai manusia tapi leher dan lidahnya terjulur panjang. Matanya melotot, giginya bertaring dan kepalanya bercula.

"Hahaha... Begitu saja kau takut. Baru melihat aku begini kau kaget. Jika aku keluar dari sini aku akan membelit lehermu dengan lidahku."

"Hiiiyyy...!"

"Whahaha..." setan itu terus saja tertawa. Tiba-tiba, ia berubah menjadi seorang manusia. Manusia normal tanpa ada kengerian sama sekali yang tampak.

"Kau rupanya! Kurang ajar!"

"Kau kenal ia Angga?" tanya pria bersorban putih.

"Tidak Pakde... Hanya saja aku yang menangani kasus bunuh dirinya dulu. Seseorang melaporkan kematiannya di dalam rumah yang terkunci. Mayatnya membusuk. Sampai saat ini kasus bunuh dirinya masih menjadi tanda tanya besar di masyarakat sekitar. Setelah kejadian ini, aku baru tau..."

"..." pria bersorban itu mendengarkan.

"Bahwa ia mati bunuh diri karena wanita yang dicintainya, Sarwah. Adalah wanita yang tidak waras dan menyukai sesama jenisnya."

Masalah terselesaikan. Misteri terungkap. Sita sudah normal kembali dan bisa berkumpul dengan keluarganya, meski setiap seminggu sekali ia harus mengikuti trauma teraphy. Angga kembali bekerja dan mengenakan seragam kebanggaannya. Anak-anak bisa tersenyum riang lagi. Sementara Sarwah kini mendekam di rumah sakit jiwa karena ia terbukti gila.

"Terima kasih Pakde sudah membantu kami semua..." ucap Angga lagi.


- TAMAT -

Sidoarjo, 14 April 2015 / 11.15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar