The Bird

Selasa, 05 Mei 2015

Hobbies

Beberapa karya, hobi baru yang terkadang menghasilkan uang juga xixixixi >.<



 Taplak Meja Persegi Panjang

 Gelang Tali


 Bandana Setengah Jadi


 Sudah Jadi ^_^


 Taplak Meja Bundar

 Taplak Meja Bundar


 Bandana














Sisa Benang 

 
Jepit / Bros Pita

 
Pouch Rajut

 
Pouch HP

 
  In Progress; Tirai Pintu Manik Rajut


Belajar Jahit Dasar




Buku Antologiku
 













Live
Love 
Learn
Do and Pray

Tukang Tambal Ban

We weren't born to follow

Semua orang terlahir dengan keadaan dan situasi yang pasti tidak dapat ia rubah. Itu bukan salahnya, tapi jika ia mati dengan keadaan yang sama atau bahkan lebih buruk dari pada saat ia terlahir, itu baru salahnya.

Kemarin,
Saat langit tidak menampakkan semburat biru cerahnya. Aku melangkahkan kaki menuju kesebuah gubug. Dibangun ala kadarnya, masih beralaskan tanah. Di sana ada seorang lelaki tua yang aku perkirakan usianya sekitar enam puluh tahunan. Berpeluh berkutat roda. Ia adalah seorang tukang tambal ban.

Bahkan saat di jaman yang serba digital ini ia masih menggunakan pompa angin kuno. Mengandalkan kekuatan tangan dan badan serta kerjasama kaki untuk memompa angin ke dalam ban. Semua peralatannya serba kuno, karena itulah proses tambal ban di tempat bapak tua itu memakan waktu yang cukup lama.

Aku duduk mengantri dengan sabar. Sesekali melihat ke arah jalan, memandang kosong orang-orang yang sedang berlalu lalang. Sebentar kemudian aku memperhatikan sepeda ontel warna pink-ku. Kotor. Mungkin setelah ini aku akan mencucinya. Pandanganku beralih ke bapak tua itu. Ia sedang sibuk mengobrak-abrik kotak perkakasnya yang terbuat dari kayu. Entah apa yang dicarinya di sana. Ia nampak serius sekali, sambil sesekali menggaruk-garuk kepalanya dengan tangannya yang hitam, kotor.

Ah! Sayang, apa yang dicarinya tidak ketemu. Seorang pasien tambal ban nampak kecewa karena penyakit ban bocornya tidak dapat teratasi. Sayang, orang itu tak mau membayar upah bapak tua yang sebenarnya sudah cukup bekerja. Mungkin seribu atau dua ribu rupiah saja sudah cukup untuk mengukir senyum di wajah berkerutnya.

Belum rejeki. Mungkin itu yang ada didalam benak bapak tua si penambal ban.

Tiba giliranku. Dengan sedikit magic bapak tua itu akhirnya mampu menyelesaikan penyakit banku. Upahnya agak mahal menurutku. Lima ribu rupiah, tapi tak apalah. Kasian.

***

Hidup ini betapa penuh dengan perjuangan orang-orang di sekeliling kita. Aku tipe orang yang suka jajan. Suka nyemil. Kadang uang belanja makanan pokok jumlahnya jauh lebih kecil dari pada uang jajan. Sekarang aku lebih banyak melihat, merasa dan prihatin. Masih sangat sangat banyak orang di luar sana yang jauh dari kata normal. Jangankan untuk makanan nasi. Makan singkong pun mereka masih harus berusaha keras untuk mendapatkannya. Berpeluh di bawah matahari. Tenggorokan kering menahan dahaga. Semua demi upah rupiah yang tak seberapa.

Setiap bulan kita bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu untuk pulsa. Sesuatu yang tak bisa membuat kenyang di perut. Tapi kita bahkan tidak bisa menahan hasratnya untuk membeli. Melebihi rasa lapar yang kadang terasa di perut.

Tiap ingin jajan aku ingat mereka.
Kasian.

Semoga aku bisa lebih berhemat.
Semoga aku bisa lebih bersyukur.
Semoga kelak aku bisa berbagi dengan mereka...

Bagaimana dengan kalian??

060515

Bencana Buku Bisu

Oh Tuhan...
Kata orang langitMu seindah lautan
Tapi bagiku tetap segelap malam
Terang? Tidak! Padam...

Oh Tuhan
Kata orang pelangiMu alangkah indahnya
Bagiku tak sepadan
Masih saja padam

Orang sepertiku mana boleh bermimpi
Orang sepertiku tak punya nyali
Pun sekadar imaji
Hanya diuji, sepi...

Tuhan...
Meski semua gelap bagiku
Aku tahan
Cukup buatlah satu keajaiban untukku

Untuk aku agar dapat mengenal dunia
Untuk aku agar dapat merasa
tak ada beda...
Lewat suara
Mereka
Para serpihan pipih nan timbul yang selalu ku raba
Pada lembaran tebal nan timbul yang selalu ku bawa

Hanya beri satu keajaiban kecil untukku
Lewat mereka
Agar bersuara
Agar aku mendenger celotehnya dengan riang
Hingga aku tutup usia

Masih dalam gelapku
Masih dalam kebisuan mereka

Aku...
Tak apa-apa
Kini aku hanya ingin surgaMu
Kata mereka di sana oh indahnya

#gakjelasbanget
050515