We weren't born to follow
Semua orang terlahir dengan keadaan dan situasi yang pasti tidak dapat ia rubah. Itu bukan salahnya, tapi jika ia mati dengan keadaan yang sama atau bahkan lebih buruk dari pada saat ia terlahir, itu baru salahnya.
Kemarin,
Saat langit tidak menampakkan semburat biru cerahnya. Aku melangkahkan kaki menuju kesebuah gubug. Dibangun ala kadarnya, masih beralaskan tanah. Di sana ada seorang lelaki tua yang aku perkirakan usianya sekitar enam puluh tahunan. Berpeluh berkutat roda. Ia adalah seorang tukang tambal ban.
Bahkan saat di jaman yang serba digital ini ia masih menggunakan pompa angin kuno. Mengandalkan kekuatan tangan dan badan serta kerjasama kaki untuk memompa angin ke dalam ban. Semua peralatannya serba kuno, karena itulah proses tambal ban di tempat bapak tua itu memakan waktu yang cukup lama.
Aku duduk mengantri dengan sabar. Sesekali melihat ke arah jalan, memandang kosong orang-orang yang sedang berlalu lalang. Sebentar kemudian aku memperhatikan sepeda ontel warna pink-ku. Kotor. Mungkin setelah ini aku akan mencucinya. Pandanganku beralih ke bapak tua itu. Ia sedang sibuk mengobrak-abrik kotak perkakasnya yang terbuat dari kayu. Entah apa yang dicarinya di sana. Ia nampak serius sekali, sambil sesekali menggaruk-garuk kepalanya dengan tangannya yang hitam, kotor.
Ah! Sayang, apa yang dicarinya tidak ketemu. Seorang
pasien tambal ban nampak kecewa karena penyakit ban bocornya tidak dapat teratasi. Sayang, orang itu tak mau membayar upah bapak tua yang sebenarnya sudah cukup bekerja. Mungkin seribu atau dua ribu rupiah saja sudah cukup untuk mengukir senyum di wajah berkerutnya.
Belum rejeki. Mungkin itu yang ada didalam benak bapak tua si penambal ban.
Tiba giliranku. Dengan sedikit
magic bapak tua itu akhirnya mampu menyelesaikan penyakit banku. Upahnya agak mahal menurutku. Lima ribu rupiah, tapi tak apalah. Kasian.
***
Hidup ini betapa penuh dengan perjuangan orang-orang di sekeliling kita. Aku tipe orang yang suka jajan. Suka nyemil. Kadang uang belanja makanan pokok jumlahnya jauh lebih kecil dari pada uang jajan. Sekarang aku lebih banyak melihat, merasa dan prihatin. Masih sangat sangat banyak orang di luar sana yang jauh dari kata normal. Jangankan untuk makanan nasi. Makan singkong pun mereka masih harus berusaha keras untuk mendapatkannya. Berpeluh di bawah matahari. Tenggorokan kering menahan dahaga. Semua demi upah rupiah yang tak seberapa.
Setiap bulan kita bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu untuk pulsa. Sesuatu yang tak bisa membuat kenyang di perut. Tapi kita bahkan tidak bisa menahan hasratnya untuk membeli. Melebihi rasa lapar yang kadang terasa di perut.
Tiap ingin jajan aku ingat mereka.
Kasian.
Semoga aku bisa lebih berhemat.
Semoga aku bisa lebih bersyukur.
Semoga kelak aku bisa berbagi dengan mereka...
Bagaimana dengan kalian??
060515