Gita dan Hendro sedang asyik berduaan di taman.
"Sayang... Kamu lagi ngapain sih?"
"Bales-balesan komen di ef-bi nih sama temen-temen."
"Temen-temen siapa sih?"
"..."
"Sayang... Kau kok diem aja nggak jawab? Aku jauh-jauh dari Yogya ke Surabaya lho! Sampai sini malah dicuekin."
"Eh iya-iya sayang, maaf. Ini... Lagi ngobrol sama Karina, Dewi, Desy, Tasya."
"Ya ampun, tadi kan baru ketemu! Besok kalian juga ketemu, emang penting banget ya topiknya?"
"..."
"Hmm... Diem lagi."
"..."
"Ya sudah. Mulai saat ini kita putus!!! Aku mau pulang."
"Oke!"
"¥^££§§^^~~€^£]]¥¥^^€§$"
dan Gita pun tetap asyik melanjutkan obrolan di dunia maya dengan gadget kesayangannya.
===========================
Jenny. Gadis cantik nan kemayu sedang bersantai melepas lelah di kamar tidurnya.
Criingg...
Sayup-sayup terdengar bunyi suara handphone Mak Tun dari luar sana.
Jaman sekarang, bahkan orang setua apapun pasti mengenal benda kecil yang dapat menghantarkan pesan dan suara ini.
Kriieet...
Pintu kamar Jenny terbuka sedikit, nampak wajah Mak Tun mengi bgtip dari luar.
"Eneng manggil saya?"
"Nggak tuh! Aku tadi sms Mak Tun!"
"Iya maksud saya itu Neng. Ada yang bisa Mak bantu Neng?"
"..."
Jenny bukannya menjawab, malah asyik dengan HP barunya.
Criiing...
Handphone Mak Tun kembali berbunyi. Perempuan tua itu lalu merogoh kantong bajunya, membaca SMS yang baru saja masuk.
"Eneng mau dibuatin spageti?"
"Iya."
"Kenapa mesti sms Neng, ngomong langsung aja sama Mak kan lebih cepet Neng."
"Ngabisin bonusan SMS Mak."
"-#_(@6#3)}}%^'£^¥§…"
Mak Tun pergi meninggalkan kamar Jenny dengan sejuta perasaan dongkol.
============================
"Edi! Sini kamu cepat!"
"Iya bos, ada apa bos?"
"Kamu kan sudah saya larang pakai HP saat kerja kenapa kamu langgar?"
"Maaf bos, tadi dari Ibu saya, beliau nitip dibeliin ayam goreng nanti pulang kerja."
"Bukan urusan saya! Kalau kamu pakai HP lagi. Kamu akan saya pecat! Mengerti?"
"Iya bos, maaf."
Dddrrrt ddrrrtt ddrrrtt
HP Edi bergetar-getar di meja kerjanya. Tapi ia hanya berani melirik layarnya. Nama "Bos Besar" muncul di sana.
"Ini pasti jebakan, si bos sengaja nelepon ke HP aku buat ngetes aku pakai HP saat kerja atau tidak. Cih, aku tidak sebodoh itu bos. Sorry ye, aku nggak angkat teleponnya. Kalau aku angkat, nanti daku kau pecat. Makan apa anak dan istriku nanti."
Dddrrtt Dddrttt Dddrrrrttt
HP Edi kembali bergetar, dan nama yang sama masih muncul di layarnya. Ia jadi ragu, jangan-jangan ada sesuatu yang penting dari bos. Tapi demi gaji yang berkelanjutan, ia putuskan untuk tetap tidak menerima panggilan telepon itu.
Keesokan harinya.
"EDI!!!! SINI KAMU!!!"
"Iya bos," jawab Edi santai.
"KAMU SAYA PECAT!!!!"
"Lho, kenapa bos? Kan saya udah nggak pakai HP lagi pas kerja."
"KENAPA TELEPON SAYA NGGAK KAMU ANGKAT KEMARIN? SAYA KEMARIN NYARIS CELAKA KARENA DI KEJAR-KEJAR BENCONG!"
"..." Edi hanya terdiam mendengarkan.
"GARA-GARA KAMU NGGAK ANGKAT TELEPON SAYA, SAYA JADI KETANGKEP SAMA BENCONG, MALAMNYA ISTRI MINTA CERAI GARA-GARA ADA BEKAS LIPSTIK DI PIPI SAYA. LIPSTIK BENCONG! SEMUA GARA-GARA KAMU!!!"
"..."
"Coba kamu angkat telepon saya! Kamu tolongin saya! Kamu kan Bosnya mereka!"
"Sinting!" jawab Edi singkat lalu keluar ruangan dan membanting pintu.
===========================
Gadget oh gadget...