Reuni yang menurutku adalah sebuah ajang temu kangen dan media untuk menyambung tali silaturahmi sekarang sudah berubah. Bagi sebagian besar orang, reuni kini bergeser arah menjadi sebuah ajang pamer. Pamer pangkat, pamer harta, pamer pasangan, pamer fashion sampai pamer gigi emas.
Ironis memang tapi terkadang tujuan pamer itu lebih mendominasi dari pada sekedar melepas rindu.
Aku,
tidak ada harta yang patut aku unggah, tak ada jabatan, fashion ataupun gigi emas. Tidak. Tujuanku menghadiri acara itu murni untuk bertemu kalian semua kawan dan sahabat masa kecilku, karena aku memang rindu lama tak bertemu.
Tapi ketika topik pembicaraan beralih kepada dia yang tidak hadir saat itu. Dia yang selalu mampu merebut perhatian semua orang hanya dengan senyum berlesung pipinya itu. Dia yang menjadi idola sekaligus incaran hampir di seluruh kaum hawa penghuni sekolah saat itu. Dia yang hanya sebuah misteri bagi mereka semua. Ketika mereka mulai membicarakannya, perlahan-lahan tujuanku sedikit berubah. Ini yang akan aku pamerkan.
Tidak, dia bukan pasanganku. Dia adalah cinta pertamaku. Sungguh hanya dia yang mendominasi ruang di hati sebelum suamiku merebut hatiku darinya. Dia adalah sahabatku. Ini yang akan aku pamerkan. Saat semua sibuk bertanya-tanya tentangnya, aku dapat dengan mudah menjawab pertanyaan mereka. Kontaknya ada di semua sosial media milikku. Bukan hanya karena dia sahabatku, itu juga karena aku dulu mencintainya. Aku tahu semua tentangnya.
Sudah lama kami tak bertemu, dia semakin sibuk dengan profesinya. Andai dia hadir di acara ini. Sudah mesti dia akan menjadi bintang yang paling terang. Belasan tahun aku memendam rasa kepadanya, bersahabat dengannya. Tapi Tuhan menuliskan hal lain untuk kami, agar kami tetap bersahabat sampai lanjut usia. Mungkin kelak kami akan hadir bersama di reuni-reuni yang akan datang bersama anak cucu kami.
Aku rindu kamu, bukan sebagai cinta pertamaku, tapi sebagai sahabatku. Empat tahun berlalu... Dia tiba-tiba datang di ambang pintu rumahku dengan menggandeng seorang jagoan kecil berlesung pipi. Oh... mirip sekali mukanya dengan dia semasa kecil. Sebuah reuni kejutan antara kedua keluarga kami.
Dia menjabat tangan suamiku dan memeluknya ringan. Anaknya dan anakku tampak akrab. Istrinya sangat cantik. Semua terlihat bahagia di sini. Tanpa dia tahu bahwa aku dulu pernah mencintainya.
Dulu... Jauh sebelum semua reuni-reuni ini terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar