The Bird

Kamis, 18 Juni 2015

(Tidak) Jujur!


Hey kau anak muda, berambut klimis, bertubuh ceking, berkulit hitam nan dekil. Apa yang orang bisa lihat dari kau?

Kau tak sedap dipandang mata.

Tak sedap pula aromamu!

Jujur... Aku katakan. Aku malu mengakuinya. Entah. Aku jatuh hati padamu!

Mengapa? Kau tanya mengapa?

Cuek!

Itu hal yang paling aku cinta. Lantas mengapa kau hanya berdiam diri mematung di sudut ruang itu?

Kemari dan rengkuh aku. Agar aku dapat mencium aromamu. Aroma uang yang menguar dari balik dompet tebalmu.

Kemari. Aku ingin merampas seluruh kedekilanmu dompetmu! Menguras habis isinya hingga bersih, agar ia tak lagi dekil seperti kamu! Masa bodoh kerja keras! Berpeluh dalam deru mencari uang!

Kau dapat cintaku. Dan aku dapat uangmu!

Miris. Lebih dari seperempat abad sudah kita bersanding. Ketika kau jatuh sakit, separuh nyawaku serasa hilang.

Kemari, sandarkan kepalamu di pundakku. Ini ambil saja uangmu, yang aku rampas bertahun lamanya darimu. Aku tak butuh itu.

Miris. Ternyata kau dan aku telah setua ini. Butuh waktu lama untuk membuatku sadar. Kau benar. Cinta tak butuh uang.

Hanya kejujuran untuk mengakui. Bahwa kita lemah tanpa pasangan.

Aku jatuh cinta padamu untuk pertama kalinya saat usiaku di awal enam puluh tahun ini.

Awal dan akhir cinta yang aku rasakan begitu tragis. Kau pergi ke surga dengan merampas seluruh hatiku.

Di sini. Aku hanya bisa mengelus pusaramu.

Tumpukan uang dan sederet rumah tak lagi berarti untukku tanpa hadirmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar