The Bird

Senin, 14 September 2015

Surat Kecil


surat kecil ini aku tulis saat aku merasa sangat tidak sempurna menjadi seorang istri.

Meski aku tidak tau persis apa yang kau bayangkan tapi aku mungkin tidak seperti yang kau bayangkan. Sosok seorang istri yang idealis bagi semua pria aku rasa sama. Ia haruslah pandai memasak, pandai berhias diri, pandai bergaul, pandai menata rumah, bijak mengurus anak, tidak suka mengeluh, ulet, bisa membantu suami mencari uang jika dibutuhkan, cantik, molek, elok, pandai mengaji, taat, patuh dan penuh kasih sayang.

Aku tidak pandai memasak, aku bahkan takut menghabiskan banyak biaya untuk bereksperimen. Entah mengapa dalam hati aku merasa bahwa kau rindu masakan ibumu yang nun jauh di sana. Aku tidak bisa sepertinya. Maaf.

Aku tidak pandai mengurus rumah, aku hanya mampu menjaganya agar tetap bersih dan rapi, tidak bisa seperti ibumu yang nun jauh di sana. Jeli melihat sudut pandang indah untuk mengisinya dengan sesuatu yang menarik namun tetap membuat rumah tampak lapang.

Suamiku.
Tubuhmu nampak lebih kurus hari ini. Itu pasti karena aku yang tidak pandai mengatur keuangan sehingga berapapun yang kau berikan selalu kurang meski kita tlah hidup hemat apa adanya. Maaf. Aku yang hanya lulusan SMA ini bahkan tidak cukup kompeten untuk bersaing dengan mereka yang membawa ijazah S1 dan S2 di luar sana. Terimakasih atas kebesaran hatimu menjawab setiap tanya teman dan saudaramu yang rata-rata telah menempuh pendidikan S2-nya bahwa aku hanyalah wanita biasa saja. Tidak cukup kuat pula fisikku untuk memenuhi keinginanmu membukakan aku kedai kaki lima di pinggir jalan.

Sayang, sesungguhnya aku cemburu dengan ibumu. Tapi apalah aku ini. Hanya seseorang yang baru kau temui. Tidak sebanding dengan ibumu yang selalu ada untukmu dari kau bisa bernafas. Maaf aku berkata demikian. Aku cemburu. Disetiap ketidakmampuan atau ketidaktahuanku muncul, kau selalu berkisah tentang ibumu.

Andai ibumu ada di sini. Pasti kau akan minta dibuatkan aneka ragam makanan. Mengajaknya mengobrol lama, lama sekali. Jalan-jalan. Membuatku cemburu.

Tak apa asal bahtera ini tetap kau nahkodai. Tidak menceritakan hal pribadi kepada keluarga atau ibumu. Tidak juga memaksakan keadaaan untuk menjadi seperti yang mereka mau. Ini bahtera kita dan kau nahkodaku. Aku harap engkau cukup bijak sehingga kita bahagia bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar