The Bird

Rabu, 29 Mei 2013

Dinda

Luka lama karena ditinggal begitu saja tanpa alasan masih terasa perih dan lekat diingatan. Membuatku tidak lantas begitu saja menyukai seorang wanita.

"Dinda"

Seorang gadis mengulurkan tangannya padaku sambil tersenyum. Senyumnya bahkan lebih hangat dari pada sinar matahari pagi. Tetapi tetap saja tidak bisa melumerkan hatiku yang masih beku ini.

"Bisa tolong rental ini?" Tanyanya sambil menyerahkan setumpuk kertas yang penuh dengan tulisan tangan di atasnya. "Bisa nggak saya ambilnya besok?"

"Gila, segini banyak nggak bakal kelar besok mbaak. Maaf yah cari rentalan lain aja" tolakku lugas.

"Yaaah... Tolong donk mas nggak ada rentalan yang buka malam-malam begini" rajuknya sambil memperlihatkan wajah murungnya. "Tolong yaaaa... Aku bayar dua kali lipat deh"

"Hmm... Kalau ada duit sih beres mbak"

Akhirnya aku menerimanya. Dikasih bayaran lebih siapa yang nolak, lagi pula ini bisa jadi pengisi waktu malamku, daripada membayangkan kenangan-kenangan manis yang kini terasa sangat menyakitkan.

Semalaman aku mengetik. Begadang. Minum kopi. Ngetik lagi. Sampai samar-samar ku dengar ayam berkokok. Ketika matahari mulai menampakkan sinarnya. Saat itu pula aku telah menyelesaikan pekerjaanku.

"Permisi, mas aku mau ngambil rentalannya semalam, udah jadi kan?"

"Udah kok, nih"jawabku sambil menyerahkan tumpukan kertas kepada gadis itu.

Ia lalu membuka tasnya, mencoba mengambil dompet.

"Ɣα̇̇̇̊ª ampun, dompet aku ketinggalan"

"Udah bawa aja, gampang bayarnya mbak" cetusku tiba-tiba. Sungguh tak dapat kupercaya apa yang telah kukatakan barusan.

Mulutku mengatakannya begitu saja. Ia membuatku merasa jatuh cinta. Ah yang benar saja, ini pertama kalinya kita bertemu.

"Pos! Permisi ada surat" pak pos dengan kostum serba orange itu melangkah masuk ke dalam warnetku dan menyerahkan surat.

Kulihat tidak ada nama pengirimnya. Langsung saja ku buka amplop putih itu. Dan betapa terkejutnya aku saat tau isi dari surat itu.

"Maafkan aku, bukannya aku meninggalkanmu, tapi aku harus bermetamorfosa menjadi wujud lain setiap 10 tahun sekali, dan aku ucapkan terimakasih atas kado ulang tahunku yang ke dua puluh kemarin. Aku sangat menyukainya, temukan aku secepatnya"

Langsung saja aku berlarian ke luar mencoba mengejar gadis yang baru saja keluar.

"Dindaaa...!" Teriakku "itu pasti wujud kamu yang baru, aku tau itu, karena cinta ini berbicara saat kau memohon padaku semalam"

Dinda langsung berbalik dan berlari ke arahku. Aku menyambutnya dengan pelukan.

First Love

Kini statusku bukanlah jomblo, aku telah miliki seorang pacar. Ia sempurna bagiku. Kulit sawo matang, senyum menawan, otak pintar, religius, tinggi, dan yang paling penting dia sangat suka memanjakan aku, dengan caranya yang sederhana.

Aku sangat senang dipertemukan oleh Tuhan dengannya. Syukurku tiada berhenti.

Setiap sebelum tidurr kupanjatkan do'a. Tak lupa kusisipkan do'a juga untuknya, agar ia senantiasa dapat menjaga hatinya untukku selalu.

Aku selalu rindu untuk bertemu dengannya. Rindu untuk bermanja. Rindu untuk selalu mencurahkan rasa sayangku kepadanya.

Rindu itu selalu kubawa dalam tidurku, mengantarkan aku untuk kembali bermimpi. Bertemu dengannya walau di dalam mimpi merupakan anugerah. Karena rindu ini semakin menggunung, tak terhingga.

Sayang, yang kutemui setiap malam dalam mimpiku bukanlah dia. Melainkan seorang dari masa laluku, cinta pertama yang tak pernah kumiliki. Selalu ia yang hadir. Meski telah belasan tahun lamanya kita tidak bertemu.

Entahlah...

Saat aku terbangun selalu ku peluk boneka pemberian kekasihku. Membuatku merasa lebih dekat dengannya.

Tok. Tok. Tok...

Sepagi ini ada orang datang untuk bertamu. Aku turun dari ranjangku. Berjalan keluar dan kubuka pintu.

"Diraa...!" Teriak Putri sahabatku sambil menangis dan langsung memelukku.

"Sstt... Ada apa Put? Masuk dulu yuk"

"Rendy... Rendy meninggal"

"Innalillahi..."

"Tadi pagi," Putri memotong ucapan belasungkawaku. Sesenggukan.

Aku pun turut merasa sedih, amat sangat sedih. Rendy adalah sosok yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku beberapa minggu terakhir ini. Dan Putri adalah sahabatku, mereka berdua berpacaran. Itulah mengapa aku takkan pernah dapat cinta pertamaku. Aku tidak mau bersaing konyol dengan sahabatku sendiri.

Setelah bersiap-siap. Aku dan Putri berangkat menuju ke rumah duka. Sesampainya disana, jenazah baru saja selesai di sholati.

Tanpa terasa menetes bulir air mata di pipiku. Entah mengapa ini terasa begitu menyakitkan. Belasan tahun tidak bertemu, karena ia bekerja di luar kota. Kini justru aku menemuinya, yang terbujur kaku tak dapat membalas senyumanku seperti dulu.

Tak lama berselang, jenazah dibawa ke pemakaman. Saat akan dimasukkan ke liang lahat, aku merasa lunglai, pandanganku perlahan mulai kabur. Dan setelah itu semua terasa gelap.

***

"Sayang..."
Samar-samar kudengar suara kekasihku, tapi rasanya aku hanya bermimpi, karena ia jauh sekali dari tempatku berada.

"Sayang bangun,"

Perlahan kelopak mataku mulai terbuka. Kudapati kekasihku di hadapanku dan tersenyum. Membelai keningku.

"Maafin aku Diraaa... Aku baca diary Rendy, dan barusan Reza baca diary kamu juga. Kamu dan Rendy saling mencintai" ucap Putri sambil memelukku.

"Itu dulu Put, aku punya Reza sekarang, hanya Reza yang ada dihatiku" jawabku.

"Sisakan sedikit untuk Rendy aku nggak keberatan kok sayang" sahut Reza pacarku.

Aku hanya tersenyum lemah sambil menggenggam tangannya.

Selasa, 28 Mei 2013

Mencintai Itu Mudah #ALoveGiveaway

Kalau tidak ada yang namanya cinta, maka aku pun tak akan ada di dunia ini. Aku ada karena cinta, karena cinta aku ada. Cinta mama ke papa. Cinta papa ke mama.

Usiaku kini telah menginjak di angka dua puluh satu tahun. Statusku masih single, sebenarnya bukan hal yang memalukan dan masih dapat dibilang wajar. Hanya saja, belum juga punya pacar itulah yang sangat tidak wajar bagiku. Bagaimana tidak, hampir semua orang seumur aku pasti telah memiliki pacar.

Entah apa yang salah pada diriku. Secara fisik aku cukup cantik. Bahkan beberapa bilang bahwa aku sangat cantik. Mungkin aku kurang menarik.
Aku lalu memutuskan untuk melakukan penelitian kecil kecilan. Semua teman yang seumuran dan sudah punya pacar akan aku catat sifat, watak dan penampilan mereka.

Tari, gadis hitam manis, rambut hitam sebahunya sangat menawan, senyum selalu menghiasi wajahnya. Pribadi yang supel dan ramah. Sangat disayangkan, meski ramah dan supel, sangat jelas terlihat kalau dia suka pilih-pilih dalam berteman dengan seseorang.

Dian, cewek alim super bawel. Berjilbab. Lesung di kedua pipinya adalah daya tarik terbesarnya. Tanpa itu kurasa ia biasa saja. Ceriwis dan suka merasa kalau dirinya adalah cewek paling oke di seantero dunia, Kadar PeDe-nya sedikit di atas normal.

Vina, gadis berkulit putih yang sangat suka sekali menyapa tiap orang yang ia temui di jalan. Penampilannya biasa saja.

Diah, gadis dengan kulit gelap ini tidak begitu cantik, tapi senyumnya sungguh membuat meleleh hati siapapun orang yang melihatnya. Sama halnya dengan Vina, ia adalah gadis dengan penampilan biasa-biasa, kacamata selalu setia bertengger di hidungnya. Ia adalah seorang pendengar dan problem solver yang handal. Mungkin itulah yang selalu membuatnya menjadi idola.

Sejauh ini ada empat orang, aku menemukan satu persamaan yang ada pada diri mereka berempat. Senyum dan selalu menjaga hubungan baik dengan sesama walau hanya sekedar basa-basi.

Aku akui kalau diriku memang sedikit tertutup dan sangat jarang bicara jika tidak perlu. Mungkin itu yang membuat cowok jadi segan untuk mendekatiku. Tetapi dengan sikap itu juga aku jadi lebih aman dari para cowok-cowok jahil yang kerjanya suka iseng.

Hasil analisa singkat yang ku buat ini membuat aku memutuskan untuk mencoba merubah diri mulai besok. Mencoba untuk sedikit 'bersuara' lebih banyak dari pada biasanya.
Semoga aku berhasil.

***
“Hai pagi Tari,”

“Oh. Hai pagi juga Dinda” Tari menjawab sapaanku dengan pandang mata aneh, mungkin karena sikap cuek aku selama ini yang membuat suara sapaanku terdengar begitu berbeda di telinganya.

“Hai Dinda” kali ini Levi yang menyapaku. Seorang cowok berpawakan kurus tinggi, entah ia berkerja di bagian mana di kantor ini aku tidak tahu. Aku tahu nama dia pun dari gosip. Banyak yang membicarakannya, tentang dia yang selama ini diam-diam memendam rasa cinta padaku.

“Hai juga mas Levi” jawabku sambil tersenyum “Apa kabar pagi ini mas?” tambahku mulai sedikit berbasa-basi.

“Baik Dinda, mau teh?” tawarnya sambil sedikit mengangkat cangkir yang sedang dibawanya. 

“Makasih mas, nanti Dinda bikin sendiri aja tehnya” tolakku, karena memang aku tidak suka minum teh yang hanya akan membuat kepalaku pusing dan perut terasa mual setelah meneguk teh jenis apapun.

“Kopi?”

“Hmm, boleh juga tuh kopi mas, nanti deh Dinda bikin kopi yah”

“Mas buatin deh” jawab Levi lalu melangkah ke dapur kantor. Buru-buru kususul langkahnya di belakang. Aku tidak mau merepeotkannya.

“Udah, sini mas. Yang kayak gini kerjaan cewek” kataku sambil merebut cangkir yang ada dalam pegangannya. Ia hanya tersenyum. Tangannya lalu meraih toples kecil berisi bubuk kopi dan gula.

“Kopi buatan mas yang paling enak di kantor ini, Dinda mesti cobain” jelasnya. “jadi biar mas aja yang tuangin takarannya ya, Dinda tuangin airnya aja nanti dari dispenser”

“Oke” bingung aku harus berkata apa lagi. Susah juga belajar jadi orang yang supel. Baru kali ini aku merasa sedikit lebih dekat dengan teman-teman di kantor. Rasanya lumayan nyaman. Mungkin ini pertanda bahwa sebenarnya aku bisa berubah menjadi lebih menarik lagi, lebih dari pada sekedar cantik di wajah.

***

Namanya adalah Benny. Ia adalah satu-satunya teman dekatku di kantor ini. Badannya tambun. Ia suka sekali makan. Dia sekarang duduk tepat di hadapanku.

“Bagi coklat donk Din... gue ada info bagus buat lo nih” katanya mulai memerasku. Memang biasanya jika ia minta makanan pasti ada sesuatu yang berhubungan denganku yang lumayan penting dan harus dia sampaikan. Pendek kata ia adalah informanku yang pendiam ini.

“Nih” kataku sambil memberinya satu kotak potongan coklatku. “Emang ada apaan Ben?”

“Yaelah cuma segini doank. Segini sih nyangkut di tenggorokan doank Din... Nggak sampai masuk ke dalem perut”

“Nih nih nih, ambil semua tu” kataku sambil cemberut. “Apaan infonya?”

“Nah ini baru pas” jawab Benny sambil melumat coklat pemberianku satu per satu. “Nih, ada surat buat lo, gue nggak tau tuh isinya apaan, gue juga nggak bisa kasih tau siapa yang ngasih surat itu buat lo”

Dengan rasa penasaran aku buka surat itu. Isinya sederet tulisan, semacam undangan. Setelah aku baca dengan teliti, ternyata itu adalah undangan kunjungan bakti sosial ke suatu Panti Asuhan yang lokasinya tidak jauh dari tempatku kerja. Jelas sekali undangan ini tidak resmi, karena ditulis dengan tulisan tangan, dibawahnya tidak ada tanda tangan siapa pun. Hanya saja, ada pesan khusus yang menarik hatiku di akhir surat itu.

Datanglah, mungkin sepertinya kita yang membantu mereka, tapi sesungguhnya mereka lah yang sangat membantu kita.

Pesan terakhir itu begitu menarik hatiku. Mungkin tidak ada salahnya kalau aku datang kesana. Toh juga sepulang kerja aku tidak ada jadwal apa-apa.
Sorenya, tanpa pulang kerumah aku langsung menuju ke tempat Panti Asuhan yang ditunjuk di dalam surat. Berjalan kaki sepuluh menit saja sudah sampai.

Di depan berdiri pagar besi tinggi berwarna putih yang sudah lusuh dan mengelupas catnya. Aku membuka pagar perlahan, melongok sedikit ke dalam. Sungguh berbeda dengan apa yang ditampakkan oleh pagar lusuh ini. Keadaan di dalam sana sugguh indah. Tanaman dan bunga-bunga dirawat dengan baik. Tertata rapi dan cantik. Sesekali kulihat anak berusia lima tahunan berlarian. Akhirnya aku melangkah masuk ke dalam. Mendekat ke arah bangunan yang nampak sebagai kantor. Disana aku bertemu dengan wanita paruh baya yang mengenakan jilbab, dan ia tersenyum sambil memangdang ke arahku.

“Permisi Bu, saya kesini mau sedikit berbagi rejeki buat anak-anak” kataku memulai pembicaraan sambil menyerahkan satu kantong plastik besar berisi makanan.

“Iya Dik, wah terimakasih banyak ya, anak-anak pasti senang”

“Maaf Bu, boleh saya tanya? Selain saya hari ini ada yang berkunjung kemari tidak? Karena saya dapat surat undangan Bu, entah dari siapa datangnya”

“Ada Dik, baru saja ada yang kesini, dia memang sudah sangat sering kemari”

“Boleh saya ketemu Bu? Sekalian mau lihat adik-adik yang ada di dalam juga”

“Boleh silahkan. Ibu antar ya, o ya, ini nanti diberikan langsung saja sama anak-anak” jawab Ibu itu sambil menyerahkan kembali kantong plastik pemberianku tadi.

“Iya Bu, o iya Bu, kenalkan nama saya Dinda” kataku kemudian.

“Nama saya Citra Dik Dinda” jawab Ibu Citra sambil menyambut uluran tanganku.

Kami lalu berjalan menuju ke dalam melewati lorong, setelah itu sampailah kami dalam satu ruangan besar, di dalamnya terdapat banyak sekali anak-anak. Tapi ada satu sosok yang jelas bukan lagi anak-anak disana. Ia mengenakan kemeja putih, sedang asyik bercanda dengan anak-anak yang duduk mengitarinya. Mungkinkah dia yang menulis surat undangan itu padaku? Siapa? Aku masih belum dapat melihat wajahnya karena ia duduk membelakangi pintu.

“Anak-anak... Kakak ini datang bawa sesuatu buat kalian” seru Ibu Citra, sontak membuat mereka terdiam kemudian menoleh ke arah kami.

“Horee....” teriak mereka girang. Langsung saja aku diserbu oleh mereka. Aku mengira bahwa mereka akan merebut kantongku dan mengoyak isinya. 

Tapi ternyata tidak, satu per satu mereka mngulurkan tangan sambil menyebutkan nama mereka masing-masing. Indahnya...

Selesai berkenalan tanpa ada yang memerintah mereka langsung berbaris memanjang ke belakang di hadapanku. Hm... Aku tahu apa ini maksudnya. Itu artinya sudah waktunya aku untuk membagikan makanan ini kepada mereka. Baiklah...

Sungguh membahagiakan rasanya melihat binar mata bahagia dari mereka, hanya satu bungkus makanan ringan yang kubagikan ini sudah begitu membawa rasa bahagia dan senang juga di hatiku. Antrian mulai memendek, dan akhirnya habis. Sebagian dari mereka kembali bermain, sebagian lagi tetap berada di dekatku. Mereka mengajakku bermain.

“Kakak, ikutan juga ya, yang kalah nanti telinganya dijepit pakai ini” ucap seorang anak perempuan sambil menunjukkan satu buah jepit jemuran. Auw... Sakit banget rasanya kalau kalah.

“Oke, siapa takut” jawabku. “Mau main apa? Gimana cara mainnya?”

Secara bergantian mereka menjelaskan cara permainannya. Ternyata bermain cerdas cermat. Masing-masing dari kami secara bersamaan akan mengeluarkan beberapa jari, kemudian salah satu yang dapat menghitung jumlah jari dari semua peserta akan dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menentukan siapa yang akan dikenai hukuman. Cukup mudah pikirku.

“Lima puluh lima!” pekikku saat permainan berlangsung.

“Yaaaah...” seru mereka kecewa. Tanpa menghitung kebenaran hasil hitunganku mereka langsung bertanya apa hukuman yang akan diterima.
“Siapa yang mau dihukum Kak?”

“Ada yang namanya Bagus?” tanyaku sambil melihat muka mereka satu per satu.

“Saya” seorang anak laki-laki mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi.

“Yap kamu. Hukumannya Kakak tanya. Satu ditambah duabelas sama dengan berapa?”

Lucu sekali tingkahnya, usianya belum genap enam tahun. Menggunakan bantuan jari di kaki ia mencoba menyelesaikan soal dariku.

“Tigabelas Kak.”

“Horee... Betul, tepuk tangan buat Bagus”jawabku sambil bertepuk tangan lalu diikuti dengan tepuk tangan yang lainnya.

Pada permainan berikutnya yang kalah akan dicoret bedak tabur di wajah, aku sengaja mengalah, biar makin seru dan mereka senang. Dan benar saja, kini wajahku penuh oleh coretan bedak-bedak mereka.

“Ih muka Kakak lucu banget deh, hahaha” ejek salah seorang dari mereka. 

“Hahaha, tapi Kakak tetap cantik kan?” tanyaku sambil berpose. Tawa mereka makin menggelegar.. Tanpa terasa langit mulai gelap, sudah hampir dua jam lamanya aku bermain-main dengan mereka tapi rasanya seperti baru satu menit. Sungguh menyenangkan dan pengalaman baru bagiku.
Ahirnya aku memutuskan untuk pulang. Seusai membersihkan cemong di mukaku tentunya. Setelah berpamitan pada anak-anak itu aku pamit kepada Ibu Citra. Lalu melangkah keluar, berdiri di depan pagar, menunggu angkutan umum disana.

Tin. Tin. Terdengar bunyi klakson yang membuatku menoleh ke belakang. Seorang pengendara bermotor muncul, ia mengenakan kemeja biru. Ah. Mungkinkah ia adalah orang yang berada di dalam tadi? Saking asyiknya bermain membuatku lupa tentang dirinya.

“Mas antar pulang yok” seru orang itu sambil membuka kaca helmnya. Ternyata ia adalah Levi, teman sekantorku. Mungkinkah ia juga yang telah memberiku undangan misterius itu?

“Makasih Mas, Dinda naik angkot aja pulangnya”

“Eh... Bener? Cewek pulang malam-malam bahaya, lagian jam segini angkot udah jarang yang lewat, udah sini Mas anter. Gratis kok tenang aja. Lagian rumah kita satu arah” jelasnya, sementara aku masih membisu. “Ayo naik”

“Nggak ngerepotin?” tanyaku ragu.

“Nggak kok tenang aja, sama Mas dijamin aman dan nyaman. Hehehe” candanya.

Dengan pertimbangan karena situasi yang tidak aman kalau naik angkutan pada malam hari, aku pun menyetujui tawarannya untung diantar pulang. Sepanjang perjalanan kami hanya membisu.

“Gimana? Asyik kan main disana?”

“Oh.. Iya mas lumayan buat ngilangin stres habis kerja”

“Mas paling suka main kesana, dari pada duit habis buat jajan sendiri, mending bawain sesuatu buat mereka”

“Iya bener mas. Dinda tadi bercandaan sama mereka sampai lupa waktu, lepas banget, kayak nggak ada beban sama sekali. Lain waktu mau kesana lagi”

“Nanti kita barengan aja kesananya.”

“Gampang lah Mas, bisa diatur itu.”

Baru kali ini aku bisa lepas. Levi sosok yang cukup menyenangkan, dan sangat menarik perhatianku kini. Jauh dalam hati aku berharap semoga gosip yang beredar tentangnya itu memang benar. Hanya dalam waktu satu hari ia dapat membuatku tersenyum dan merasa lebih baik dari pada sebelumnya. Ia juga mengajarkan aku bagaimana cara agar aku bisa tertawa lepas tanpa harus berpura-pura. Tanpa memaksa.

Dalam satu hari ini ia mengajarkanku tentang cinta dan tawa secara alami. Dengan cara yang berbeda, dengan cara yang sederhana.

“Makasih ya Mas undangannya, Dinda suka” cetusku tanpa bertanya, karena aku yakin ia adalah sang pengirim undangan misterius itu.

Levi hanya diam, dan menganggukkan kepalanya. Meski tertutup helm, aku yakin, ada segaris senyum di balik sana...

Terimakasih kini aku tahu bagaimana caranya untuk menjadi lebih menarik secara natural. Mungkin kisah hari ini akan menjadi awal yang indah untuk kehidupanku yang selanjutnya. Lebih bermakna dan penuh cinta.

Ditulis oleh :
1. Diah Ratna Puspa Ramadhan @davirasr
2. Muhammad Reza Fahlevi @mrejapahlepi

Dalam Event #ALoveGiveaway oleh @WordsofPoetica

Senin, 27 Mei 2013

Rintihan Hati

Awan kelabu menutupi
Teriknya sinar mentari
Hatiku saat ini kelabu…
Selalu kunanti datangnya cahaya sang surya
Yang menerangi bumi
Dan hatiku yang kelabu ini
Diriku sangat haus akan kasih saying
Aku pun ingin dicintai
Aku rindu rindu kehangatan, keharmonisan
Dalam hidupku ini…
Berantakan…
Mungkin seperti itulah kehidupabku saat ini
BErgelombang tak menentu
Terombang-ambing di atas badai ombak
Menerjang dan menghempaskanku
Yang tak berdaya ini
Kucoba tuk berdiri
Namun ku terjatuh…tersungkur
Ku terus menatap langit kelabu
Terus berharap
Mentari kan dating menerangi
Jalan hidupku yang tertutup kabut tebal

Peri

Musim berganti
Terik matahari t’lah terganti
Tapi hati yang penuh cinta ini
Takkan pernah terganti
Ketika semua berlalu
Kita terpisah tanpa satu kata cinta
Jarak dan waktu
Tanpa ampun memisahkan kita…
Kini kau tak lagi disini
Bersamaku, menemaniku
Mengisi hari-hariku
Dengan canda dan tawamu yang manis
Hingga musim kembali berganti
Kau tetap tak ada disini
Aku rindu paras cantikmu, senyum manismu…
Aku rindu semua…
Peri kecilku…
Dimanakah engkau sekarang?
Diriku tetap disini seperti dulu
Selalu menantimu kau yang kucintai…

DeJavu

Kesunyian yang ada di hati ini
Tak akan terobati tanpa kehadiranmu
Engkau pergi meninggalkanku
Disaat kita hampir menggapi semua
Air mata ini hanya untukmu
yang telah terbujur di kandung tanah
aku takkan bisa mengganti hatiku
yang terlalu cinta pada dirimu
Di keramaian kucoba tuk hilangkan rasa sepi
Dengan hati tetap sepi kuterus berjalan
Menapaki jalanan yang tak berharga diri
Di injak-injak oleh banyak orang, tapi itulah takdir
Saat kucoba tuk tegakkan kepala
mencoba untuk tegar
Tapi...
bayangmu selalu hadir bagai nyata
Kau bentangkan tanganmu...
kau bimbing aku ke dalam pelukmu
Aku yang penuh kerinduan memelukmu dengan derai air mata
Tapi... bayang dirimu menghilang di saat kau dalam pelukan
Sekali lagi aku merasakan Dejavu...
tentang sosokmu...

Miliki Aku

Aku mulai menyukaimu
Caramu mencintaiku
melindungiku, dan menyayangiku.
Kau buat aku selalu tersenyum dengan caramu
coba melupakan semua kesahku.
kau peluk aku erat, saat ku butuh sandaran.
Ku menangis di dalam pelukanmu yang hangat.
yang mengalirkan kekuatan cinta lewat genggaman tanganmu, hangat penuh kasih.
Kau belai rambutku lembut
kau sapu air mata yang mengalir di pipi dengan jemarimu...
Kau menguatkannku disaat aku rapuh.
Entah sejak kapan debar jantungku menjadi kencang jika kau peluk erat aku.
Entah sejak kapan hatiku terasa sakit
dan dadaku terasa sesak jika melihatmu berada di dekat orang lain selain aku.
entah mengapa aku selalu ingin kau berada di sampingku
dan takkan pernah berlalu dari hadapanku.
Tatapan matamu yang teduh seakan menyihirku.
Membuatku selalu ingin memilikimu.
Kurasa aku telah jatuh cinta kepadamu

Ayah

Kurasakan angin bertiup semilir
Menerbangkan debu-debu yang perlahan menyapu wajahku
Menyusup hingga ke sela mataku
Hingga kurasakan pedih dan perlahan kurasakan air mata mulai menggenang dipelupuk mata
Mengalir melewati pipi, meninggalkan jejak basah
Mungkin air mata ini mewakili perasaan sedih yang tengah kurasakan
Luka yang amat menyakitkan
Menyesakkan dada…
Sangat menyiksa…
Dan kini membuatku menghabiskan air mata…
Aku kehilangan seseorang yang sangat kusayangi
Seseorang yang bahkan belum pernah kulihat
Walau hanyha dalam mimpi sekalipun…
Aku takkan pernah merasakan kasih sayangnya…
Belaiannya…
Semuanya itu benar-benar mimpi
Dan aku sadar akan itu
Aku rindu padamu…
Ayahku…

Tak Pantaskah...?

Tidak bolehkah aku menggapai cita-citaku?
Tidak bolehkah aku berusaha untuk itu?
Tidak pantaskah aku untuk semua itu?
Tidak layakkah aku mendapatkan semua...?
Mengapa? mengapa...
Aku tak boleh mencapai semua itu
Tidakkah cukup kau sakiti hatiku...
Setelah puas kau injak harga diriku?
sakit !
Perih sekali hati ini merasakan
Tiap kata yang terucap dari bibirmu itu...
Kau...!
Kau hanyalah pecundang
Tak punya nyali untuk bersaing
Pengecut...!
benarkah semua ucapku ini...?
Dan kurasa memang benar
Mulai saat ini ku kan berusaha
Menggapai cita-citaku
Berusaha dengan segenap daya dan upaya
Selama aku mampu...
Ku kan menggapai semua asaku
Meraih semua ke dalam pelukku...






Cinta

Ku memandang kerlip bintang
Yang berserak indah di langit malam ini
di antaranya ku melihat wajahmu
Yang tersipu menatap ke arahku
Parasmu bak kilauan bintang malam ini
Bahkan mungkin bagiku kau lebih indah
Dari kilauan gemintang dan...
Sinar rembulan malam ini
Ku ingin dapat membelai wajahmu lagi
Aku rindu senyummu kasih...
Aku ingin mendekapmu dalam pelukku
aku ingin selalu bersamamu... selalu...
Aku cinta kamu... kekasihku...



Pikiranku

Ada saat aku ingin tertawa
Bergembira menikmati hidupku
Tersenyum melihat senyumanmu
Menikmati segala nikmat untuk diriku
Ada saat aku ingin menangis
Bersedih merasakan kehilangan seseorang
Menangis merasakan semua cobaan ang menimpa aku, tapi aku sadar
Bersedih dan menangis adalah satu hal yang tak berguna
Hingga suatu saat aku ingin merenung
Memikirkan semua yang telah terjadi
Memutar kembali semua yang terjadi di otakku
Mengambil semua yang manis dan...
Mengunci semua hal yang menyakitkan
Kubiarkan diriku tertawa dan tersenyum
Saat kenangan indah menari-nari di pikiranku
Kubiarkan air mata mengalir
Saat semua kenangan pahit berkelebat
Kubiarkan semua berlalu
Mengubur dan mengunci semua dalam peti memori
Kujalani semua yang ada hari ini
Tanpa memikirkan esok ataupun yang telah lalu...



Kamis, 23 Mei 2013

Lomba Menulis by BEM FIP UNJ

Hello FIPers, punya minat dan bakat menulis tapi masih bingung dan malu mau buat di publish?
Yuk! Gabung di Lomba Menulis DepDik BEM FIP.
Temanya banyak, loh! Kamu bisa pilih sesuai selera.
Pilihan Tema:
  • Hardiknas = maks. 21 Mei 2013 = Ketika Pendidikan Tak Jadi Prioritas!
  • Proklamasi = maks. 17 Agustus 2013 = Benarkah Negara Indonesia Sudah Merdeka?
  • Sumpah Pemuda = maks. Oktober 2013 = Pemuda Sang Pelukis Peradaban.
  • Hari Guru = maks. November 2013 = Guruku, Teladanku!
  • Hari Ibu = maks. 22 Desember 2013 = Aku & Ibu.
Persyaratannya:
Tulisan asli dan belum pernah di posting diamanapun.
Jenis tulisan : ARTIKEL (A4, Arial, 12, spasi 1.5).
Maksimal 3 halaman penuh.
Menyertakan biodata penulis dan foto.
Like and share ke 20 orang via FB dan di like.
Kirim ke email unj_bemfip@yahoo.com atau website BEM FIP UNJ (www.bemfipunj.com)
Bentuk tulisan attachment Ms. Word asli.
Konfirmasi pengiriman via twitter @bemfipunj dan Facebook Skema Daksin.
Reward!!
  1. Sertifikat.
  2. Publikasi dan paper craft.
  3. Dan, hadiah menarik lainnya.
Jangan lewatkan!! Tuangkan Ide Kreatifitasmu Lewat Tulisan!
Untuk info lebih lengkap, hubungi : 08999336833
Tiada Kesan Tanpa Keikutsertaanmu.
HIDUP PENDIDIKAN INDONESIA!!!
#BerkaryaMelaluiPendidikan
Sumber: bemfipunj.com 

Lomba Menulis Cerpen "Kisah Cinta Remaja" DL 30 Juni 2013

Syarat dan Ketentuan :
Kompetisi ini terbuka untuk semua orang.
Naskah asli, tidak menyadur dan belum pernah dipublikasikan di media apapun.
Format penulisan: 5-10 halaman. Spasi 1,5, Times New Roman 12, A4. Margin 3-3-3-3. File: .doc atau .docx.
Tema : Kisah Cinta Remaja
Boleh mengirimkan naskah lebih dari satu.
EYD sangat diutamakan. Juga diharapkan agar cerita tidak klise.
Tulis biodata di bawah naskah berupa:
  • Nama Lengkap:
  • Nama Pena (bila perlu):
  • Facebook:
  • Email:
  • Alamat Lengkap:
  • Nomer Telepon :
Kirim naskahmu ke coauthorsind@gmail.com.
Format subject email dan file: (JUDUL NASKAH) - (NAMA PESERTA)
Naskah paling lambat diterima pada tanggal 30 Juni 2013 pukul 23:59 WIB.
Kami akan memilih 15 naskah terbaik untuk diproses menuju penerbit Mayor.
Pengumuman pemenang pada tanggal 28 Juli 2013.
Peserta diharapkan memfollow atau mengikuti blog Community of Authors Indonesian (coauthorsindo.blogspot.com), dan menyebarkan luaskan info seleksi ini.
Masing-masing pemenang akan mendapat bukti terbit, dll.
Sumber: coauthorsind.blogspot.com 

Lomba Menulis DL 14 Juni 2013

Bagikan pengalamanmu dengan mengikutsertakannya dalam lomba menulis ini. Tulis kenangan tak terlupakan soal obrolan dengan ayah atau ibumu yang menyentuh dan memberi pelajaran penting dalam hidupmu. lomba ini diadakan oleh pesona, yang masuk group femina.

nama kompetisi:  share your stories best conversation with parents

batas akhir (deadline):  14 juni

hadiahnya:  hadiah menarik bagi 5 pemenang berupa paket kosmetik Clarins senilai Rp 1.265.000

kalau ingin ikut: tuliskan pengalaman Anda dalam bahasa Indonesia maksimal 3000 karakter
kirim ke redaksi pesona via email pesona.redaksi@feminagroup.com dg subjek "Lomba conversation with parents"
cantumkan nama,email, alamat lengkap, nomor ktp, dan nomor telpon/hp

Lomba Menulis Cerpen DL 3 Juni 2013


Selamat siang sahabat cerpen,alhamdulillah kali ini saya admin Kishi ingin berbagisedikit kesenangan. Kali ini aku ingin mengadakan lomba menulis cerpen. Untuk syaratnya bisa di simak ya! :
  1. Lomba terbuka untuk umum, mulai tanggal 3 Mei 2013 s.d 3 Juni 2013 (pukul 23:59 WIB).
  2. Membagikan info lomba ini ke minimal 25 teman di jejaring sosial facebook, twitter atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
  3. Jangan lupa untuk tag ke akun saya juga ya! https://www.facebook.com/kishi.putri?ref=tn_tnmn
  4. Tema lomba: “CERMIN” .
  5. Naskah dalam bentuk Word dengan format file Ms Word 2003, kertas ukuran A4, font TNR 12pt, spasi 1.5,margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi dan dengan panjang cerita minimal 8 - 10 halaman.
  6. Naskah merupakan karya asli penulis dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk buku.
  7. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim 1 naskah terbaiknya, lengkap dengan biodata narasi, maksimal 30 kata.
  8. Naskah yang telah memenuhi ketentuan di atas, dikirim ke email: kishiaprilia@gmail.com (berupa attachmant, bukan di badan email),  dengan subyek email: CERMIN_JUDUL NASKAH_NAMA PENULIS dan nama file sesuai dengan nama penulis.

Untuk hadiah :

PEMENANG PERTAMA : Pulsa sebesar Rp. 50.000
PEMENANG KEDUA     : Pulsa sebesar Rp. 20.000
PEMENANG KETIGA    : Pulsa sebesar Rp. 10.000

Ayok menulis lagi! :)

Mau Apa?!

Gemeletuk gerahamku tahan rasa
Berdebar jantung
Darah naik ke ubun-ubun
Kepalan tangan makin merapat
Kuat
Bergetar hebat
Ego
Perintah alam bawah sadar
tuk sembur sederet makian
Otak menghimpit nurani tuk ledakkan cacian melalui mulut dengan segera!
Apa maumu!
Katakan saja padaku
Adu otak atau otot?!
Ku layani sekarang!
Asal, jangan salahkan aku jika kau harus menangis menanggung malu
atas kekalahanmu.
Menangis malu, karena lakumu ternyata tak semanis tuturmu!
Katakan!
Apa maumu!!
Kulayani kau saat ini dengan tangan kosong
Setelahnya
Ku ingin kau ENYAH dari hadapku
Selamanya!

Berontak

Kenapa susah sekali?
Mengapa ringan sekali?
Terantuk. Pasung.
Belati tertanam.
Persegi.
Bising aku dgn doktrin.
Lelah aku akan batin.
Pikirku.
Baik. Baiklah...
Kan mulai ku cekoki jiwa dgn aturan.
Kan ku pasrahkan langkah dlm pasungan.
Karena aku...
Kecapku tak dpt merasa.
Asaku tak teraba.
Dan mereka...
Gelaknya membahana.
Seakan SAKIT JIWA!
Baik. Baiklah...
Kan ku turut langkah mereka, dgn paksa,
Jgn salahkan SAYA
Bila akhirnya ku SAKIT JIWA!
Karena aku...
Hanya sesosok tanpa nyawa bagi mereka.

Kebodohan



Aku ingin sekali merangkulmu kini. Benar apa kata orang, penyesalan selalu datang pada akhirnya.

Rasa kehilangan kini menjalar diseluruh rongga hatiku. Kau yang selalu mengisi, menghiasi dan mewarnai hatiku. Baru kusadari semua, betapa kau sangat mencintai aku.

"Aku nggak minta emas, berlian, uang. Aku hanya minta perhatianmu. Kalau memang kau keberatan, lebih baik selesai sampai disini saja. Jadikan aku sebagai kenanganmu" kalimat terakhirmu yang sungguh membuat pertahananku runtuh.

Air mata yang begitu ku jaga semenjak aku berusia 5 tahun karena kehilangan Ibu, akhirnya kembali tumpah. Karena kehilanganmu.

Betapa bodohnya aku. Membiarkan kau begitu saja pergi dengan mudahnya dariku. Betapa bodohnya aku, sebongkah cinta dan kasih sayangmu ku acuhkan begitu saja. Betapa bodohnya aku membiarkan engkau, melenggang dalam tangis di pelukannya.

Semoga kau aman, tentram dan bahagiaa bersamanya. Karena jika kau merasakan hal yang sama saat bersamaku. Aku takkan memaafkan diriku lagi, untuk selamanya.
Karena tlah melepasmu...

Pandangan Pertama



Dunia sosial media akhir-akhir ini sangat marak. Bahkan anak SD pun kini tlah mahir memakai Facebook dan sejenisnya. Bukan salahku jika kemudian aku tertarik untuk berkecimpung didalamnya. Hanya sekedar mencari teman.

Rita, kau adalah yang pertama ku kenal, dari caramu berbicara dan bercanda, aku tahu bahwa kau adalah orang yang ramah dan pandai bergaul. Parasmu ayu. Wajahmu lugu. Ingin aku mengenalmu lebih dalam lagi.

Bulan ketiga sejak perkenalan pertama kita, kau setuju untuk kopi darat denganku. Sungguh senangnya hatiku. Akhirnya aku dapat menemui secara langsung sosok yang sering menggetarkan dadaku akhir-akhir ini.

Sore ini, langit senja kemerahan menjadi saksi. Pertemuan pertama kita. Jantungku serasa melompat dari tempatnya saat aku melihat sosok yang biasanya hanya ku lihat di foto.

Rambutmu hitam, panjang dan indah. Matamu bening, bulat dan lucu, kau sungguh anggun, beribu kali lipat cantiknya dari pada yang biasa ku pandangi saat malam.

"Hai, Rita" sapamu padaku.
"Eh.. Oh.. Hai, Roni" kerongkonganku tercekat, gelagapan. Pasti aku nampak sangat bodoh di hadapanmu saat ini.

Bagiku cinta datangnya dari otak, bukan dari hati. Otakku mengirim sinyal untuk hatiku dan memerintahkanku untuk menyatakan perasaan ini sekarang juga.

"Kamu mau nggak jadi pacarku?"

Plaaakkk!!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kananku.

"Baru kenal udah ngajak pacaran, emang Rita cewek macam apa?!"

Plaakkk!!! Tamparan kedua mendarat di pipi kananku. Lalu kau melenggang pergi dengan muka memerah dan ekspresi muka seram. Meninggalkanku yang masih diam mematung, melongo, tak mengerti.

Gubrak!!

Sudahlah, masa lalu adalah milikku... Masa depan juga milikku, tapi semua masih menjadi rahasia Illahi.

Kemenangan gemilang kuraih selama ini tentu dengan perjuangan. Tidak ada kata berhenti dan menyerah dalam sejarah hidupku.

Memiliki puluhan piala dari berbagai kejuaraan. Memiliki seorang pacar yang menjadi dambaan setiap orang.

Sayang, aku tak seberuntung mereka. Mengabadikan segalanya bersama orang tua mereka. Ibu yang selalu memberiku petuahnya kini sedang bekerja di luar negeri. Ayah? Pergi entah kemana tak pernah kembali semenjak usiaku baru tujuh tahun. Setiap selesai Sholat, aku selalu berdoa untuk dipertemukan lagi dengan mereka. Melihat sinar bangga di mata mereka. Merasakan pelukan mereka.

Pagi ini do'aku terjawab. Semalam, tiba-tiba Ibu menelepon, memintaku untuk menjemputnya di bandara pagi ini. Dengan mengenakan pakaian terbaikku aku berangkat.

"Sial, macet dimana-mana" gerutuku saat melihat deretan kendaraan yang berhenti di depan lajurku. Akhirnya kuputuskan untuk turun dari taksi dan naik ojek.

Croott!! Sebuah mobil mewah melintas di hadapanku. Seketika itu juga kubangan air memuntahkan airnya ke arahku.

Sial!

Saat hendak menyebrang aku menemukan sosok Ayah. Langsung saja tanpa pikir panjang aku berlari ke arahnya.

"Ayaaaahh!!!"

Tiiin... Tiiinn... Tiiinn...

Bruak! Kurasa aku telah tertabrak.

Byuuurrrr!!

"Ujaaangg!!! Mau tiduuurr sampai kapan? BANGUUN!!" Suara cempreng Ibu membangunkanku.

Ah, rupanya dunia yang hampir sempurna tadi hanya ada dalam mimpiku.

Bintang Ini Untukmu



"Jangan banyak mengkhayal" kata Mama "konsep, terapkan, lakukan" sambungnya.

Sewaktu aku kecil. Dunia ini selalu nampak indah bagiku. Anak seorang pengusaha sukses, tak perlu aku pusing memikirkan menu makan di tiap harinya. Semua tersedia. Semua siaap dalam sekejab mata.

Sekolah, semua terjamin. Orang melihat aku adalah anak yang sangat beruntung. Dan aku tidak memungkiri itu, tetap dalam kerendahan hatiku.

Di dalam kelas seorang guru bertanya padaku ketika aku masih kelas 1 SD.
"Dinda, apa cita-citamu?"

Sungguh pertanyaan yang tak pernah terpikir olehku. Bagiku cita-cita adalah tujuan hidup yang paling besar yang biasanya dicapai dengan susah payah.

"Menjadi Sarjana" jawabku seketika. Aku berpikiran, bahwa Mama meraih suksesnya karena beliau adalah seorang yang berpendidikan. Tentu menjadi Sarjana sangatlah mudah kuraih. Betapa mahalnya harga pendidikan, pikirku.

Dua puluh tahun berselang. Aku hanyalah karyawan swasta di sebuah perusahaan kecil milik orang asing. Statusku, lulusan SMA. Tidak ada tambahan gelar di belakang namaku.

Apa yang tlah ku ucap, rupanya kini benar-benar menjadi sesuatu yang harus kuperjuangkan dengan keringatku sendiri.

Berkarya, belajar dan bekerja.

Dua puluh tahun, pendidikan tak terjalah olehku. Dua puluh tahun, kini kami hidup sederhana.

Selamat datang di zona kehidupan yang sesungguhnya. Roda itu berputar.
Akan kuraih mimpi masa kecilku itu. Segera.

Senin, 20 Mei 2013

BATAS


Kukatakan dengan lugas
Ini cinta
Tapi kukatakan dengan keras
Ini adalah derita
Sepasang merpati tengah bermesraan
Aku hanya termangu menatapnya, iri
Betapa bahagianya

Bukan
Bukan ku tak punya tambatan hati
hanya saja
aku tak punya kesempatan untuk bertemu cinta
Sesering mereka, semesra mereka

Ku titipkan salam padamu
duhai cintaku
Melalui angin di senja ini
Ku titipkan kerling mataku padamu
wahai kasihku
Melalui gemintang di malam nanti

Jika kau merindukanku
katakanlah
"Aku sayang padamu"
Kala kau ingin bermanja, katakanlah...
"Aku rindu padamu"

Datang dan temui aku lagi...
Disini
Di stasiun kereta ini sayang
karena aku selalu menunggu
sosokmu melangkah keluar dari kereta

Berlari....
berlari...
berlari...
Peluk dan berikan aku kecupan sayang untukku