Kalau tidak ada
yang namanya cinta, maka aku pun tak akan ada di dunia ini. Aku ada
karena cinta, karena cinta aku ada. Cinta mama ke papa. Cinta papa ke
mama.
Usiaku kini telah
menginjak di angka dua puluh satu tahun. Statusku masih single,
sebenarnya bukan hal yang memalukan dan masih dapat dibilang wajar.
Hanya saja, belum juga punya pacar itulah yang sangat tidak wajar
bagiku. Bagaimana tidak, hampir semua orang seumur aku pasti telah
memiliki pacar.
Entah apa yang
salah pada diriku. Secara fisik aku cukup cantik. Bahkan beberapa
bilang bahwa aku sangat cantik. Mungkin aku kurang menarik.
Aku lalu memutuskan
untuk melakukan penelitian kecil kecilan. Semua teman yang seumuran
dan sudah punya pacar akan aku catat sifat, watak dan penampilan
mereka.
Tari, gadis
hitam manis, rambut hitam sebahunya sangat menawan, senyum selalu
menghiasi wajahnya. Pribadi yang supel dan ramah. Sangat disayangkan,
meski ramah dan supel, sangat jelas terlihat kalau dia suka
pilih-pilih dalam berteman dengan seseorang.
Dian, cewek alim
super bawel. Berjilbab. Lesung di kedua pipinya adalah daya tarik
terbesarnya. Tanpa itu kurasa ia biasa saja. Ceriwis dan suka merasa
kalau dirinya adalah cewek paling oke di seantero dunia, Kadar
PeDe-nya sedikit di atas normal.
Vina, gadis
berkulit putih yang sangat suka sekali menyapa tiap orang yang ia
temui di jalan. Penampilannya biasa saja.
Diah, gadis
dengan kulit gelap ini tidak begitu cantik, tapi senyumnya sungguh
membuat meleleh hati siapapun orang yang melihatnya. Sama halnya
dengan Vina, ia adalah gadis dengan penampilan biasa-biasa, kacamata
selalu setia bertengger di hidungnya. Ia adalah seorang pendengar dan
problem solver yang handal. Mungkin itulah yang selalu membuatnya
menjadi idola.
Sejauh
ini ada empat orang, aku menemukan satu persamaan yang ada pada diri
mereka berempat. Senyum dan selalu menjaga hubungan baik dengan
sesama walau hanya sekedar basa-basi.
Aku
akui kalau diriku memang sedikit tertutup dan sangat jarang bicara
jika tidak perlu. Mungkin itu yang membuat cowok jadi segan untuk
mendekatiku. Tetapi dengan sikap itu juga aku jadi lebih aman dari
para cowok-cowok jahil yang kerjanya suka iseng.
Hasil
analisa singkat yang ku buat ini membuat aku memutuskan untuk mencoba
merubah diri mulai besok. Mencoba untuk sedikit 'bersuara' lebih
banyak dari pada biasanya.
Semoga
aku berhasil.
***
“Hai
pagi Tari,”
“Oh.
Hai pagi juga Dinda” Tari menjawab sapaanku dengan pandang mata
aneh, mungkin karena sikap cuek aku selama ini yang membuat suara
sapaanku terdengar begitu berbeda di telinganya.
“Hai
Dinda” kali ini Levi yang menyapaku. Seorang cowok berpawakan kurus
tinggi, entah ia berkerja di bagian mana di kantor ini aku tidak
tahu. Aku tahu nama dia pun dari gosip. Banyak yang membicarakannya,
tentang dia yang selama ini diam-diam memendam rasa cinta padaku.
“Hai
juga mas Levi” jawabku sambil tersenyum “Apa kabar pagi ini mas?”
tambahku mulai sedikit berbasa-basi.
“Baik
Dinda, mau teh?” tawarnya sambil sedikit mengangkat cangkir yang
sedang dibawanya.
“Makasih
mas, nanti Dinda bikin sendiri aja tehnya” tolakku, karena memang
aku tidak suka minum teh yang hanya akan membuat kepalaku pusing dan
perut terasa mual setelah meneguk teh jenis apapun.
“Kopi?”
“Hmm,
boleh juga tuh kopi mas, nanti deh Dinda bikin kopi yah”
“Mas
buatin deh” jawab Levi lalu melangkah ke dapur kantor. Buru-buru
kususul langkahnya di belakang. Aku tidak mau merepeotkannya.
“Udah,
sini mas. Yang kayak gini kerjaan cewek” kataku sambil merebut
cangkir yang ada dalam pegangannya. Ia hanya tersenyum. Tangannya
lalu meraih toples kecil berisi bubuk kopi dan gula.
“Kopi
buatan mas yang paling enak di kantor ini, Dinda mesti cobain”
jelasnya. “jadi biar mas aja yang tuangin takarannya ya, Dinda
tuangin airnya aja nanti dari dispenser”
“Oke”
bingung aku harus berkata apa lagi. Susah juga belajar jadi orang
yang supel. Baru kali ini aku merasa sedikit lebih dekat dengan
teman-teman di kantor. Rasanya lumayan nyaman. Mungkin ini pertanda
bahwa sebenarnya aku bisa berubah menjadi lebih menarik lagi, lebih
dari pada sekedar cantik di wajah.
***
Namanya
adalah Benny. Ia adalah satu-satunya teman dekatku di kantor ini.
Badannya tambun. Ia suka sekali makan. Dia sekarang duduk tepat di
hadapanku.
“Bagi
coklat donk Din... gue ada info bagus buat lo nih” katanya mulai
memerasku. Memang biasanya jika ia minta makanan pasti ada sesuatu
yang berhubungan denganku yang lumayan penting dan harus dia
sampaikan. Pendek kata ia adalah informanku yang pendiam ini.
“Nih”
kataku sambil memberinya satu kotak potongan coklatku. “Emang ada
apaan Ben?”
“Yaelah
cuma segini doank. Segini sih nyangkut di tenggorokan doank Din...
Nggak sampai masuk ke dalem perut”
“Nih
nih nih, ambil semua tu” kataku sambil cemberut. “Apaan infonya?”
“Nah
ini baru pas” jawab Benny sambil melumat coklat pemberianku satu
per satu. “Nih, ada surat buat lo, gue nggak tau tuh isinya apaan,
gue juga nggak bisa kasih tau siapa yang ngasih surat itu buat lo”
Dengan
rasa penasaran aku buka surat itu. Isinya sederet tulisan, semacam
undangan. Setelah aku baca dengan teliti, ternyata itu adalah
undangan kunjungan bakti sosial ke suatu Panti Asuhan yang lokasinya
tidak jauh dari tempatku kerja. Jelas sekali undangan ini tidak
resmi, karena ditulis dengan tulisan tangan, dibawahnya tidak ada
tanda tangan siapa pun. Hanya saja, ada pesan khusus yang menarik
hatiku di akhir surat itu.
Datanglah,
mungkin sepertinya kita yang membantu mereka, tapi sesungguhnya
mereka lah yang sangat membantu kita.
Pesan
terakhir itu begitu menarik hatiku. Mungkin tidak ada salahnya kalau
aku datang kesana. Toh juga sepulang kerja aku tidak ada jadwal
apa-apa.
Sorenya,
tanpa pulang kerumah aku langsung menuju ke tempat Panti Asuhan yang
ditunjuk di dalam surat. Berjalan kaki sepuluh menit saja sudah
sampai.
Di
depan berdiri pagar besi tinggi berwarna putih yang sudah lusuh dan
mengelupas catnya. Aku membuka pagar perlahan, melongok sedikit ke
dalam. Sungguh berbeda dengan apa yang ditampakkan oleh pagar lusuh
ini. Keadaan di dalam sana sugguh indah. Tanaman dan bunga-bunga
dirawat dengan baik. Tertata rapi dan cantik. Sesekali kulihat anak
berusia lima tahunan berlarian. Akhirnya aku melangkah masuk ke
dalam. Mendekat ke arah bangunan yang nampak sebagai kantor. Disana
aku bertemu dengan wanita paruh baya yang mengenakan jilbab, dan ia
tersenyum sambil memangdang ke arahku.
“Permisi
Bu, saya kesini mau sedikit berbagi rejeki buat anak-anak” kataku
memulai pembicaraan sambil menyerahkan satu kantong plastik besar
berisi makanan.
“Iya
Dik, wah terimakasih banyak ya, anak-anak pasti senang”
“Maaf
Bu, boleh saya tanya? Selain saya hari ini ada yang berkunjung kemari
tidak? Karena saya dapat surat undangan Bu, entah dari siapa
datangnya”
“Ada
Dik, baru saja ada yang kesini, dia memang sudah sangat sering
kemari”
“Boleh
saya ketemu Bu? Sekalian mau lihat adik-adik yang ada di dalam juga”
“Boleh
silahkan. Ibu antar ya, o ya, ini nanti diberikan langsung saja sama
anak-anak” jawab Ibu itu sambil menyerahkan kembali kantong plastik
pemberianku tadi.
“Iya
Bu, o iya Bu, kenalkan nama saya Dinda” kataku kemudian.
“Nama
saya Citra Dik Dinda” jawab Ibu Citra sambil menyambut uluran
tanganku.
Kami
lalu berjalan menuju ke dalam melewati lorong, setelah itu sampailah
kami dalam satu ruangan besar, di dalamnya terdapat banyak sekali
anak-anak. Tapi ada satu sosok yang jelas bukan lagi anak-anak
disana. Ia mengenakan kemeja putih, sedang asyik bercanda dengan
anak-anak yang duduk mengitarinya. Mungkinkah dia yang menulis surat
undangan itu padaku? Siapa? Aku masih belum dapat melihat wajahnya
karena ia duduk membelakangi pintu.
“Anak-anak...
Kakak ini datang bawa sesuatu buat kalian” seru Ibu Citra, sontak
membuat mereka terdiam kemudian menoleh ke arah kami.
“Horee....”
teriak mereka girang. Langsung saja aku diserbu oleh mereka. Aku
mengira bahwa mereka akan merebut kantongku dan mengoyak isinya.
Tapi
ternyata tidak, satu per satu mereka mngulurkan tangan sambil
menyebutkan nama mereka masing-masing. Indahnya...
Selesai
berkenalan tanpa ada yang memerintah mereka langsung berbaris
memanjang ke belakang di hadapanku. Hm... Aku tahu apa ini maksudnya.
Itu artinya sudah waktunya aku untuk membagikan makanan ini kepada
mereka. Baiklah...
Sungguh
membahagiakan rasanya melihat binar mata bahagia dari mereka, hanya
satu bungkus makanan ringan yang kubagikan ini sudah begitu membawa
rasa bahagia dan senang juga di hatiku. Antrian mulai memendek, dan
akhirnya habis. Sebagian dari mereka kembali bermain, sebagian lagi
tetap berada di dekatku. Mereka mengajakku bermain.
“Kakak,
ikutan juga ya, yang kalah nanti telinganya dijepit pakai ini” ucap
seorang anak perempuan sambil menunjukkan satu buah jepit jemuran.
Auw... Sakit banget rasanya kalau kalah.
“Oke,
siapa takut” jawabku. “Mau main apa? Gimana cara mainnya?”
Secara
bergantian mereka menjelaskan cara permainannya. Ternyata bermain
cerdas cermat. Masing-masing dari kami secara bersamaan akan
mengeluarkan beberapa jari, kemudian salah satu yang dapat menghitung
jumlah jari dari semua peserta akan dinyatakan sebagai pemenang dan
berhak menentukan siapa yang akan dikenai hukuman. Cukup mudah
pikirku.
“Lima
puluh lima!” pekikku saat permainan berlangsung.
“Yaaaah...”
seru mereka kecewa. Tanpa menghitung kebenaran hasil hitunganku
mereka langsung bertanya apa hukuman yang akan diterima.
“Siapa
yang mau dihukum Kak?”
“Ada
yang namanya Bagus?” tanyaku sambil melihat muka mereka satu per
satu.
“Saya”
seorang anak laki-laki mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi.
“Yap
kamu. Hukumannya Kakak tanya. Satu ditambah duabelas sama dengan
berapa?”
Lucu
sekali tingkahnya, usianya belum genap enam tahun. Menggunakan
bantuan jari di kaki ia mencoba menyelesaikan soal dariku.
“Tigabelas
Kak.”
“Horee...
Betul, tepuk tangan buat Bagus”jawabku sambil bertepuk tangan lalu
diikuti dengan tepuk tangan yang lainnya.
Pada
permainan berikutnya yang kalah akan dicoret bedak tabur di wajah,
aku sengaja mengalah, biar makin seru dan mereka senang. Dan benar
saja, kini wajahku penuh oleh coretan bedak-bedak mereka.
“Ih
muka Kakak lucu banget deh, hahaha” ejek salah seorang dari
mereka.
“Hahaha,
tapi Kakak tetap cantik kan?” tanyaku sambil berpose. Tawa mereka
makin menggelegar.. Tanpa terasa langit mulai gelap, sudah hampir dua
jam lamanya aku bermain-main dengan mereka tapi rasanya seperti baru
satu menit. Sungguh menyenangkan dan pengalaman baru bagiku.
Ahirnya
aku memutuskan untuk pulang. Seusai membersihkan cemong di mukaku tentunya. Setelah berpamitan pada anak-anak itu aku
pamit kepada Ibu Citra. Lalu melangkah keluar, berdiri di depan
pagar, menunggu angkutan umum disana.
Tin.
Tin. Terdengar bunyi klakson yang membuatku menoleh ke belakang.
Seorang pengendara bermotor muncul, ia mengenakan kemeja biru. Ah.
Mungkinkah ia adalah orang yang berada di dalam tadi? Saking asyiknya
bermain membuatku lupa tentang dirinya.
“Mas
antar pulang yok” seru orang itu sambil membuka kaca helmnya.
Ternyata ia adalah Levi, teman sekantorku. Mungkinkah ia juga yang
telah memberiku undangan misterius itu?
“Makasih
Mas, Dinda naik angkot aja pulangnya”
“Eh...
Bener? Cewek pulang malam-malam bahaya, lagian jam segini angkot udah
jarang yang lewat, udah sini Mas anter. Gratis kok tenang aja. Lagian
rumah kita satu arah” jelasnya, sementara aku masih membisu. “Ayo
naik”
“Nggak
ngerepotin?” tanyaku ragu.
“Nggak
kok tenang aja, sama Mas dijamin aman dan nyaman. Hehehe” candanya.
Dengan
pertimbangan karena situasi yang tidak aman kalau naik angkutan pada
malam hari, aku pun menyetujui tawarannya untung diantar pulang.
Sepanjang perjalanan kami hanya membisu.
“Gimana?
Asyik kan main disana?”
“Oh..
Iya mas lumayan buat ngilangin stres habis kerja”
“Mas
paling suka main kesana, dari pada duit habis buat jajan sendiri,
mending bawain sesuatu buat mereka”
“Iya
bener mas. Dinda tadi bercandaan sama mereka sampai lupa waktu, lepas
banget, kayak nggak ada beban sama sekali. Lain waktu mau kesana
lagi”
“Nanti
kita barengan aja kesananya.”
“Gampang
lah Mas, bisa diatur itu.”
Baru
kali ini aku bisa lepas. Levi sosok yang cukup menyenangkan, dan
sangat menarik perhatianku kini. Jauh dalam hati aku berharap semoga
gosip yang beredar tentangnya itu memang benar. Hanya dalam waktu
satu hari ia dapat membuatku tersenyum dan merasa lebih baik dari
pada sebelumnya. Ia juga mengajarkan aku bagaimana cara agar aku bisa
tertawa lepas tanpa harus berpura-pura. Tanpa memaksa.
Dalam
satu hari ini ia mengajarkanku tentang cinta dan tawa secara alami.
Dengan cara yang berbeda, dengan cara yang sederhana.
“Makasih
ya Mas undangannya, Dinda suka” cetusku tanpa bertanya, karena aku
yakin ia adalah sang pengirim undangan misterius itu.
Levi
hanya diam, dan menganggukkan kepalanya. Meski tertutup helm, aku
yakin, ada segaris senyum di balik sana...
Terimakasih kini aku tahu bagaimana caranya untuk menjadi lebih menarik secara natural. Mungkin kisah hari ini akan menjadi awal yang indah untuk kehidupanku yang selanjutnya. Lebih bermakna dan penuh cinta.
Ditulis oleh :
1. Diah Ratna Puspa Ramadhan @davirasr
2. Muhammad Reza Fahlevi @mrejapahlepi
Dalam Event #ALoveGiveaway oleh @WordsofPoetica