"Jangan banyak mengkhayal" kata Mama "konsep, terapkan, lakukan" sambungnya.
Sewaktu aku kecil. Dunia ini selalu nampak indah bagiku. Anak seorang pengusaha sukses, tak perlu aku pusing memikirkan menu makan di tiap harinya. Semua tersedia. Semua siaap dalam sekejab mata.
Sekolah, semua terjamin. Orang melihat aku adalah anak yang sangat beruntung. Dan aku tidak memungkiri itu, tetap dalam kerendahan hatiku.
Di dalam kelas seorang guru bertanya padaku ketika aku masih kelas 1 SD.
"Dinda, apa cita-citamu?"
Sungguh pertanyaan yang tak pernah terpikir olehku. Bagiku cita-cita adalah tujuan hidup yang paling besar yang biasanya dicapai dengan susah payah.
"Menjadi Sarjana" jawabku seketika. Aku berpikiran, bahwa Mama meraih suksesnya karena beliau adalah seorang yang berpendidikan. Tentu menjadi Sarjana sangatlah mudah kuraih. Betapa mahalnya harga pendidikan, pikirku.
Dua puluh tahun berselang. Aku hanyalah karyawan swasta di sebuah perusahaan kecil milik orang asing. Statusku, lulusan SMA. Tidak ada tambahan gelar di belakang namaku.
Apa yang tlah ku ucap, rupanya kini benar-benar menjadi sesuatu yang harus kuperjuangkan dengan keringatku sendiri.
Berkarya, belajar dan bekerja.
Dua puluh tahun, pendidikan tak terjalah olehku. Dua puluh tahun, kini kami hidup sederhana.
Selamat datang di zona kehidupan yang sesungguhnya. Roda itu berputar.
Akan kuraih mimpi masa kecilku itu. Segera.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar