Luka lama karena ditinggal begitu saja tanpa alasan masih terasa
perih dan lekat diingatan. Membuatku tidak lantas begitu saja menyukai
seorang wanita.
"Dinda"
Seorang gadis mengulurkan tangannya padaku sambil tersenyum. Senyumnya bahkan lebih hangat dari pada sinar matahari pagi. Tetapi tetap saja tidak bisa melumerkan hatiku yang masih beku ini.
"Bisa tolong rental ini?" Tanyanya sambil menyerahkan setumpuk kertas yang penuh dengan tulisan tangan di atasnya. "Bisa nggak saya ambilnya besok?"
"Gila, segini banyak nggak bakal kelar besok mbaak. Maaf yah cari rentalan lain aja" tolakku lugas.
"Yaaah... Tolong donk mas nggak ada rentalan yang buka malam-malam begini" rajuknya sambil memperlihatkan wajah murungnya. "Tolong yaaaa... Aku bayar dua kali lipat deh"
"Hmm... Kalau ada duit sih beres mbak"
Akhirnya aku menerimanya. Dikasih bayaran lebih siapa yang nolak, lagi pula ini bisa jadi pengisi waktu malamku, daripada membayangkan kenangan-kenangan manis yang kini terasa sangat menyakitkan.
Semalaman aku mengetik. Begadang. Minum kopi. Ngetik lagi. Sampai samar-samar ku dengar ayam berkokok. Ketika matahari mulai menampakkan sinarnya. Saat itu pula aku telah menyelesaikan pekerjaanku.
"Permisi, mas aku mau ngambil rentalannya semalam, udah jadi kan?"
"Udah kok, nih"jawabku sambil menyerahkan tumpukan kertas kepada gadis itu.
Ia lalu membuka tasnya, mencoba mengambil dompet.
"Ɣα̇̇̇̊ª ampun, dompet aku ketinggalan"
"Udah bawa aja, gampang bayarnya mbak" cetusku tiba-tiba. Sungguh tak dapat kupercaya apa yang telah kukatakan barusan.
Mulutku mengatakannya begitu saja. Ia membuatku merasa jatuh cinta. Ah yang benar saja, ini pertama kalinya kita bertemu.
"Pos! Permisi ada surat" pak pos dengan kostum serba orange itu melangkah masuk ke dalam warnetku dan menyerahkan surat.
Kulihat tidak ada nama pengirimnya. Langsung saja ku buka amplop putih itu. Dan betapa terkejutnya aku saat tau isi dari surat itu.
"Maafkan aku, bukannya aku meninggalkanmu, tapi aku harus bermetamorfosa menjadi wujud lain setiap 10 tahun sekali, dan aku ucapkan terimakasih atas kado ulang tahunku yang ke dua puluh kemarin. Aku sangat menyukainya, temukan aku secepatnya"
Langsung saja aku berlarian ke luar mencoba mengejar gadis yang baru saja keluar.
"Dindaaa...!" Teriakku "itu pasti wujud kamu yang baru, aku tau itu, karena cinta ini berbicara saat kau memohon padaku semalam"
Dinda langsung berbalik dan berlari ke arahku. Aku menyambutnya dengan pelukan.
"Dinda"
Seorang gadis mengulurkan tangannya padaku sambil tersenyum. Senyumnya bahkan lebih hangat dari pada sinar matahari pagi. Tetapi tetap saja tidak bisa melumerkan hatiku yang masih beku ini.
"Bisa tolong rental ini?" Tanyanya sambil menyerahkan setumpuk kertas yang penuh dengan tulisan tangan di atasnya. "Bisa nggak saya ambilnya besok?"
"Gila, segini banyak nggak bakal kelar besok mbaak. Maaf yah cari rentalan lain aja" tolakku lugas.
"Yaaah... Tolong donk mas nggak ada rentalan yang buka malam-malam begini" rajuknya sambil memperlihatkan wajah murungnya. "Tolong yaaaa... Aku bayar dua kali lipat deh"
"Hmm... Kalau ada duit sih beres mbak"
Akhirnya aku menerimanya. Dikasih bayaran lebih siapa yang nolak, lagi pula ini bisa jadi pengisi waktu malamku, daripada membayangkan kenangan-kenangan manis yang kini terasa sangat menyakitkan.
Semalaman aku mengetik. Begadang. Minum kopi. Ngetik lagi. Sampai samar-samar ku dengar ayam berkokok. Ketika matahari mulai menampakkan sinarnya. Saat itu pula aku telah menyelesaikan pekerjaanku.
"Permisi, mas aku mau ngambil rentalannya semalam, udah jadi kan?"
"Udah kok, nih"jawabku sambil menyerahkan tumpukan kertas kepada gadis itu.
Ia lalu membuka tasnya, mencoba mengambil dompet.
"Ɣα̇̇̇̊ª ampun, dompet aku ketinggalan"
"Udah bawa aja, gampang bayarnya mbak" cetusku tiba-tiba. Sungguh tak dapat kupercaya apa yang telah kukatakan barusan.
Mulutku mengatakannya begitu saja. Ia membuatku merasa jatuh cinta. Ah yang benar saja, ini pertama kalinya kita bertemu.
"Pos! Permisi ada surat" pak pos dengan kostum serba orange itu melangkah masuk ke dalam warnetku dan menyerahkan surat.
Kulihat tidak ada nama pengirimnya. Langsung saja ku buka amplop putih itu. Dan betapa terkejutnya aku saat tau isi dari surat itu.
"Maafkan aku, bukannya aku meninggalkanmu, tapi aku harus bermetamorfosa menjadi wujud lain setiap 10 tahun sekali, dan aku ucapkan terimakasih atas kado ulang tahunku yang ke dua puluh kemarin. Aku sangat menyukainya, temukan aku secepatnya"
Langsung saja aku berlarian ke luar mencoba mengejar gadis yang baru saja keluar.
"Dindaaa...!" Teriakku "itu pasti wujud kamu yang baru, aku tau itu, karena cinta ini berbicara saat kau memohon padaku semalam"
Dinda langsung berbalik dan berlari ke arahku. Aku menyambutnya dengan pelukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar