The Bird

Minggu, 02 Juni 2013

Doa di Tiap Sholatku


Percaya terhadap kepada Qada dan Qadar merupakan salah satu rukun iman dalam Islam. Semua yang telah terjadi sesungguhnya telah digariskan sebelum kita terlahir di dunia. 

Hidup di dunia ini hanya sementara, hidup ini akan menjadi indah apabila kita menjalankannya dengan doa, senyum, dan keikhlasan. Hidup juga tak selalu mulus seperti apa yang ada dalam benak kita. Sesuai rencana kita.

Disti, adalah seorang yatim piatu yang kini tinggal di sebuah panti asuhan. Sedari ia mulai bisa berjalan, sejak saat itulah ia mulai mengerti tentang Ibu yang seharusnya ada bersamanya. Bapak yang selalu menjaganya. Pada usianya yang ke delapan, ia mulai menyisipkan doa pada setiap Sholat-nya. Meminta kepada Allah agar diperteimukan dengan orang tua kandungnya, walau hanya dalam mimpi sekalipun. Ia menanti dan menanti, tahun demi tahun terlewati, hingga kini ia mulai beranjak dewasa.

“Disti, ada telepon untukmu” panggil seorang penjaga panti kepadanya.
“Iya” sahut Disti singkat, namun dalam hatinya ia bertanya-tanya, siapa gerangan yang menghubunginya. Sambil berlarian kecil menuju ke ruangan kantor panti asuhan, hatinya tak henti mengucap tasbih.

“Halo?” sapa Disti dengan gagang telepon yang telah menempel di telinga.
Perlahan matanya berair. Lalu menitik air mata dari kedua bola matanya. Pelan meletakkan gagang telepon kembali pada tempatnya. Ibu pemilik panti asuhan menatap Disti penuh tanya.

“Disti masih memiliki seorang Ayah Bu...” ungkap Disti lirih sambil sesenggukan. “Ayah selamat dari maut saat terjadi kecelakaan di jurang sembilan belas tahun lalu, selama itu pula Ayah berusaha mencariku, data persalinan almarhum Ibu ditemukan Ayah disalah satu rumah sakit, Ibu meninggal saat melahirkanku...”

“Lalu Ibu datang untuk merawatmu sayang,” sahut Ibu pemilik panti memotong cerita Disti. Keduanya lalu berpelukan. “Allahu Akbar. Allah tidak pernah tidur sayang, Allah mendengar doa-doamu, berkat kesabaranmu, Allah mempertemukanmu dengan Ayah kandungmu”

Tiga hari kemudian, Disti berlari menghampiri seorang dengan rambut yang mulai tumbuh uban. Ia lalu memeluk orang itu dengan sangat erat.

“Kaukah itu Ayah?”

“Iya Nak, Ini Ayah, maaf karena Ayah baru menemukanmu sekarang. Maaf Ayah tidak mendampingi masa-masa disaat kamu mulai bisa berjalan. Maafkan Ayah” sahut lelaki tua itu sambil menangis dan mengecup kening Disti.

“Sudahlah tidak apa-apa Ayah, Disti beruntung karena masih di takdirkan untuk bertemu dengan Ayah dan menemani hari tua Ayah.”

Aku sayang Ayah... Dunia, kini aku bersama seorang Ayah...

Angin semilir dan suara gemerisik rumput yang bergoyang seolah menjawab kata hati Disti. Bekat doa dan kesabaranmu Disti. Bahagiakanlah Ayahmu...























Nama dan Akun Facebook : Diah Ratna Puspa Ramadhan
No. HP : 089678666665
Seorang karyawan swasta yang selalu meluangkan waktu untuk menulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar