Percaya
terhadap kepada Qada dan Qadar merupakan salah satu rukun iman dalam
Islam. Semua yang telah terjadi sesungguhnya telah digariskan sebelum
kita terlahir di dunia.
Hidup
di dunia ini hanya sementara, hidup ini akan menjadi indah apabila
kita menjalankannya dengan doa, senyum, dan keikhlasan. Hidup juga
tak selalu mulus seperti apa yang ada dalam benak kita. Sesuai
rencana kita.
Disti,
adalah seorang yatim piatu yang kini tinggal di sebuah panti asuhan.
Sedari ia mulai bisa berjalan, sejak saat itulah ia mulai mengerti
tentang Ibu yang seharusnya ada bersamanya. Bapak yang selalu
menjaganya. Pada usianya yang ke delapan, ia mulai menyisipkan doa
pada setiap Sholat-nya. Meminta kepada Allah agar diperteimukan
dengan orang tua kandungnya, walau hanya dalam mimpi sekalipun. Ia
menanti dan menanti, tahun demi tahun terlewati, hingga kini ia mulai
beranjak dewasa.
“Disti,
ada telepon untukmu” panggil seorang penjaga panti kepadanya.
“Iya”
sahut Disti singkat, namun dalam hatinya ia bertanya-tanya, siapa
gerangan yang menghubunginya. Sambil berlarian kecil menuju ke
ruangan kantor panti asuhan, hatinya tak henti mengucap tasbih.
“Halo?”
sapa Disti dengan gagang telepon yang telah menempel di telinga.
Perlahan
matanya berair. Lalu menitik air mata dari kedua bola matanya. Pelan
meletakkan gagang telepon kembali pada tempatnya. Ibu pemilik panti
asuhan menatap Disti penuh tanya.
“Disti
masih memiliki seorang Ayah Bu...” ungkap Disti lirih sambil
sesenggukan. “Ayah selamat dari maut saat terjadi kecelakaan di
jurang sembilan belas tahun lalu, selama itu pula Ayah berusaha
mencariku, data persalinan almarhum Ibu ditemukan Ayah disalah satu
rumah sakit, Ibu meninggal saat melahirkanku...”
“Lalu
Ibu datang untuk merawatmu sayang,” sahut Ibu pemilik panti
memotong cerita Disti. Keduanya lalu berpelukan. “Allahu Akbar.
Allah tidak pernah tidur sayang, Allah mendengar doa-doamu, berkat
kesabaranmu, Allah mempertemukanmu dengan Ayah kandungmu”
Tiga
hari kemudian, Disti berlari menghampiri seorang dengan rambut yang
mulai tumbuh uban. Ia lalu memeluk orang itu dengan sangat erat.
“Kaukah
itu Ayah?”
“Iya
Nak, Ini Ayah, maaf karena Ayah baru menemukanmu sekarang. Maaf Ayah
tidak mendampingi masa-masa disaat kamu mulai bisa berjalan. Maafkan
Ayah” sahut lelaki tua itu sambil menangis dan mengecup kening
Disti.
“Sudahlah
tidak apa-apa Ayah, Disti beruntung karena masih di takdirkan untuk
bertemu dengan Ayah dan menemani hari tua Ayah.”
Aku
sayang Ayah... Dunia, kini aku bersama seorang Ayah...
Angin
semilir dan suara gemerisik rumput yang bergoyang seolah menjawab
kata hati Disti. Bekat doa dan kesabaranmu Disti.
Bahagiakanlah Ayahmu...
Nama dan Akun Facebook : Diah Ratna Puspa Ramadhan
No. HP : 089678666665
Email :
dr.pusparamadhan@gmail.com
Seorang karyawan swasta yang selalu meluangkan waktu untuk menulis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar