Kini statusku bukanlah jomblo, aku telah miliki seorang pacar. Ia
sempurna bagiku. Kulit sawo matang, senyum menawan, otak pintar,
religius, tinggi, dan yang paling penting dia sangat suka memanjakan
aku, dengan caranya yang sederhana.
Aku sangat senang dipertemukan oleh Tuhan dengannya. Syukurku tiada berhenti.
Setiap sebelum tidurr kupanjatkan do'a. Tak lupa kusisipkan do'a juga untuknya, agar ia senantiasa dapat menjaga hatinya untukku selalu.
Aku selalu rindu untuk bertemu dengannya. Rindu untuk bermanja. Rindu untuk selalu mencurahkan rasa sayangku kepadanya.
Rindu itu selalu kubawa dalam tidurku, mengantarkan aku untuk kembali bermimpi. Bertemu dengannya walau di dalam mimpi merupakan anugerah. Karena rindu ini semakin menggunung, tak terhingga.
Sayang, yang kutemui setiap malam dalam mimpiku bukanlah dia. Melainkan seorang dari masa laluku, cinta pertama yang tak pernah kumiliki. Selalu ia yang hadir. Meski telah belasan tahun lamanya kita tidak bertemu.
Entahlah...
Saat aku terbangun selalu ku peluk boneka pemberian kekasihku. Membuatku merasa lebih dekat dengannya.
Tok. Tok. Tok...
Sepagi ini ada orang datang untuk bertamu. Aku turun dari ranjangku. Berjalan keluar dan kubuka pintu.
"Diraa...!" Teriak Putri sahabatku sambil menangis dan langsung memelukku.
"Sstt... Ada apa Put? Masuk dulu yuk"
"Rendy... Rendy meninggal"
"Innalillahi..."
"Tadi pagi," Putri memotong ucapan belasungkawaku. Sesenggukan.
Aku pun turut merasa sedih, amat sangat sedih. Rendy adalah sosok yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku beberapa minggu terakhir ini. Dan Putri adalah sahabatku, mereka berdua berpacaran. Itulah mengapa aku takkan pernah dapat cinta pertamaku. Aku tidak mau bersaing konyol dengan sahabatku sendiri.
Setelah bersiap-siap. Aku dan Putri berangkat menuju ke rumah duka. Sesampainya disana, jenazah baru saja selesai di sholati.
Tanpa terasa menetes bulir air mata di pipiku. Entah mengapa ini terasa begitu menyakitkan. Belasan tahun tidak bertemu, karena ia bekerja di luar kota. Kini justru aku menemuinya, yang terbujur kaku tak dapat membalas senyumanku seperti dulu.
Tak lama berselang, jenazah dibawa ke pemakaman. Saat akan dimasukkan ke liang lahat, aku merasa lunglai, pandanganku perlahan mulai kabur. Dan setelah itu semua terasa gelap.
***
"Sayang..."
Samar-samar kudengar suara kekasihku, tapi rasanya aku hanya bermimpi, karena ia jauh sekali dari tempatku berada.
"Sayang bangun,"
Perlahan kelopak mataku mulai terbuka. Kudapati kekasihku di hadapanku dan tersenyum. Membelai keningku.
"Maafin aku Diraaa... Aku baca diary Rendy, dan barusan Reza baca diary kamu juga. Kamu dan Rendy saling mencintai" ucap Putri sambil memelukku.
"Itu dulu Put, aku punya Reza sekarang, hanya Reza yang ada dihatiku" jawabku.
"Sisakan sedikit untuk Rendy aku nggak keberatan kok sayang" sahut Reza pacarku.
Aku hanya tersenyum lemah sambil menggenggam tangannya.
Aku sangat senang dipertemukan oleh Tuhan dengannya. Syukurku tiada berhenti.
Setiap sebelum tidurr kupanjatkan do'a. Tak lupa kusisipkan do'a juga untuknya, agar ia senantiasa dapat menjaga hatinya untukku selalu.
Aku selalu rindu untuk bertemu dengannya. Rindu untuk bermanja. Rindu untuk selalu mencurahkan rasa sayangku kepadanya.
Rindu itu selalu kubawa dalam tidurku, mengantarkan aku untuk kembali bermimpi. Bertemu dengannya walau di dalam mimpi merupakan anugerah. Karena rindu ini semakin menggunung, tak terhingga.
Sayang, yang kutemui setiap malam dalam mimpiku bukanlah dia. Melainkan seorang dari masa laluku, cinta pertama yang tak pernah kumiliki. Selalu ia yang hadir. Meski telah belasan tahun lamanya kita tidak bertemu.
Entahlah...
Saat aku terbangun selalu ku peluk boneka pemberian kekasihku. Membuatku merasa lebih dekat dengannya.
Tok. Tok. Tok...
Sepagi ini ada orang datang untuk bertamu. Aku turun dari ranjangku. Berjalan keluar dan kubuka pintu.
"Diraa...!" Teriak Putri sahabatku sambil menangis dan langsung memelukku.
"Sstt... Ada apa Put? Masuk dulu yuk"
"Rendy... Rendy meninggal"
"Innalillahi..."
"Tadi pagi," Putri memotong ucapan belasungkawaku. Sesenggukan.
Aku pun turut merasa sedih, amat sangat sedih. Rendy adalah sosok yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku beberapa minggu terakhir ini. Dan Putri adalah sahabatku, mereka berdua berpacaran. Itulah mengapa aku takkan pernah dapat cinta pertamaku. Aku tidak mau bersaing konyol dengan sahabatku sendiri.
Setelah bersiap-siap. Aku dan Putri berangkat menuju ke rumah duka. Sesampainya disana, jenazah baru saja selesai di sholati.
Tanpa terasa menetes bulir air mata di pipiku. Entah mengapa ini terasa begitu menyakitkan. Belasan tahun tidak bertemu, karena ia bekerja di luar kota. Kini justru aku menemuinya, yang terbujur kaku tak dapat membalas senyumanku seperti dulu.
Tak lama berselang, jenazah dibawa ke pemakaman. Saat akan dimasukkan ke liang lahat, aku merasa lunglai, pandanganku perlahan mulai kabur. Dan setelah itu semua terasa gelap.
***
"Sayang..."
Samar-samar kudengar suara kekasihku, tapi rasanya aku hanya bermimpi, karena ia jauh sekali dari tempatku berada.
"Sayang bangun,"
Perlahan kelopak mataku mulai terbuka. Kudapati kekasihku di hadapanku dan tersenyum. Membelai keningku.
"Maafin aku Diraaa... Aku baca diary Rendy, dan barusan Reza baca diary kamu juga. Kamu dan Rendy saling mencintai" ucap Putri sambil memelukku.
"Itu dulu Put, aku punya Reza sekarang, hanya Reza yang ada dihatiku" jawabku.
"Sisakan sedikit untuk Rendy aku nggak keberatan kok sayang" sahut Reza pacarku.
Aku hanya tersenyum lemah sambil menggenggam tangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar