Dunia sosial media akhir-akhir ini sangat marak. Bahkan anak SD pun kini tlah mahir memakai Facebook dan sejenisnya. Bukan salahku jika kemudian aku tertarik untuk berkecimpung didalamnya. Hanya sekedar mencari teman.
Rita, kau adalah yang pertama ku kenal, dari caramu berbicara dan bercanda, aku tahu bahwa kau adalah orang yang ramah dan pandai bergaul. Parasmu ayu. Wajahmu lugu. Ingin aku mengenalmu lebih dalam lagi.
Bulan ketiga sejak perkenalan pertama kita, kau setuju untuk kopi darat denganku. Sungguh senangnya hatiku. Akhirnya aku dapat menemui secara langsung sosok yang sering menggetarkan dadaku akhir-akhir ini.
Sore ini, langit senja kemerahan menjadi saksi. Pertemuan pertama kita. Jantungku serasa melompat dari tempatnya saat aku melihat sosok yang biasanya hanya ku lihat di foto.
Rambutmu hitam, panjang dan indah. Matamu bening, bulat dan lucu, kau sungguh anggun, beribu kali lipat cantiknya dari pada yang biasa ku pandangi saat malam.
"Hai, Rita" sapamu padaku.
"Eh.. Oh.. Hai, Roni" kerongkonganku tercekat, gelagapan. Pasti aku nampak sangat bodoh di hadapanmu saat ini.
Bagiku cinta datangnya dari otak, bukan dari hati. Otakku mengirim sinyal untuk hatiku dan memerintahkanku untuk menyatakan perasaan ini sekarang juga.
"Kamu mau nggak jadi pacarku?"
Plaaakkk!!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kananku.
"Baru kenal udah ngajak pacaran, emang Rita cewek macam apa?!"
Plaakkk!!! Tamparan kedua mendarat di pipi kananku. Lalu kau melenggang pergi dengan muka memerah dan ekspresi muka seram. Meninggalkanku yang masih diam mematung, melongo, tak mengerti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar