Siapa yang tidak kenal alat transportasi darat yang satu ini. Memiliki roda, jendela dan penumpang yang banyak. Bus. Semua orang saya rasa pernah menggunakan alat transportasi yang satu ini.
Bus kelas biasa pastilah sangat akrab dan erat hubungannya dengan para pedagang asongan, pengamen, bahkan peminta-minta. Kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman, tentang beberapa orang pengamen yang naik dan turun di sepanjang perjalanan saya bersama bus antar kota.
Tiga jam perjalanan lumayan membuat bosan. Untungnya aksi para pengamen sedikit memberi hiburan, pengusir rasa jenuh. Setidaknya ada lima orang pengamen yang naik turun di sepanjang jalan.
Pengamen pertama, tampilannya biasa saja. Sederhana cenderung dekil dan lusuh. Seorang perempuan yang aku taksir usianya sekitar kepala tiga. Ia bernyanyi dengan sebuah ukulele kecil. Lagu yang dinyanyikan tidak pernah ada di televisi ataupun radio, mungkin ciptaan mereka sendiri para perkumpulan pengamen. Suaranya biasa saja dan terdengar cukup mengganggu di telinga, tapi ia nampak begitu bersemangat. Sungguh. Meski wajahnya nyaris tanpa senyum, aku cukup terhibur. Aku putuskan untuk memberinya sekeping uang logam kuning dan disusul oleh ucapan terimakasih olehnya.
Pengamen kedua.
Dua orang anak muda bertato, yang satu plontos. Sedangkan yang satu lagi berambut gondrong. Dan yang paling mengejutkan aku. Pemuda gondrong itu sangat sangat mirip sekali dengan wajah saudara sepupuku yang lama menghilang entah kemana. Ingin aku sapa ia sekedar untuk memastikan. Tapi lidah ini kelu. Ciut nyali gara-gara tato dan tampangnya yang berubah sangar. Aku urungkan niat dan kembali mengamati dalam-dalam wajahnya. Aku tidak seberapa menggubris nyanyian dan suaranya. Di akhir pertemuan aku putuskan untuk memberinya selembar uang gambar pahlawan muda membawa sebilah parang. Disambut oleh senyum dingin yang terkembang dari bibirnya. Apa benar dia saudaraku itu? Entahlah. Belasan tahun ia menghilang. Mungkin ia juga lupa dengan wajahku.
Pengamen ketiga.
Lagi-lagi seorang perempuan. Menggendong seorang anak kecil. Bermodal kricikan dari beberapa tutup botol yang dipipihkan. Ia bernyanyi seadanya. Suaranya nyaris tidak terdengar. Lesu. Aku liat orang-orang di bangku depan banyak yang tidak memberinya uang. Aku jadi kasian melihat kantong permen yang ia sodorkan masih kosong melompong. Aku beri ia sekeping uang. Semoga mampu menjadi pelipur laranya.
Pengamen keempat.
Aku nyaris tidak menyangka bahwa ia naik bus ini dengan tujuan untuk mengamen. Ia perempuan. Mungkin sebaya denganku. Berpakaian rapi. Bahkan sangat rapi dan layak. Warna bajunya masih terlihat cerah, tidak pudar, ia mengenakan pashmina ala hijabers masa kini. Aku mengira ia adalah seorang pegawai atau mahasiswa.
Ia berdiri, lalu mengeluarkan satu botol bekas minuman yougurt yang terkenal itu. Botol bekas tersebut diisinya oleh bulir beras. Dan ia mulai bernyanyi sambil menggerakkan tangannya yang menggenggam botol. Pelan. Suaranya yang tak bersemangat sangat kontras dengan wajah dan penampilannya. Ah~ entah apa maksud ia menjadi pengamen dengan penampilan seperti itu. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku enggan mendengar suaranya. Aku bahkan tidak menoleh dan cuek ketika ia menyodorkan kantong permen ke arahku untuk meminta uang. Biar. Masih muda mengamen. Mau jadi apa, ngamen buat mempercantik penampilan? Ah, gila!
Aku liat sekelebat, selesai mengamen ia tidak langsung turun dari bus seperti ketiga pengamen sebelumnya. Ia berdiri di belakang dekat pintu. Hmm... Mungkin sekalian nebeng ke suatu tempat pikirku. Aku biarkan saja.
Saat mata mulai mengantuk, tiba-tiba mataku tertuju pada satu penumpang laki-laki yang sedang berdiri tak jauh di dekatku. Beberapa menit aku mengamatinya. Matanya selalu terpejam. Apa ia sedang tidur? Ah tidak, barusan kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri sambil mulutnya berkomat-kamit tidak jelas. Apa ia buta? Lantas dengan siapa ia naik bus ini? Pasti ada seseorang yang mendampinginya. Aneh.
Ia adalah pengamen kelima. Ternyata tak lama setelah itu tangannya mengeluarkan benda serupa dengan pengamen ke empat. Ugh. Sepanjang nyanyiannya yang tidak jelas ia tetap memejamkan matanya. Hm... kasian juga kalau ia memang buta. Aku siapkan lagi sekeping uang logam untuknya. Tapi... ketika ia selesai bernyanyi, matanya terbuka. Normal bisa melihat. Oh tidak. Aku jadi malas memberinya uang. Apa pula maksudnya memejamkan mata di sepanjang bus tadi? Aku urung memberinya uang.
Ketika selesai berkeliling, ia bergabung dengan perempuan pengamen ke empat dan beberapa pedagang asongan lain di belakang. Mereka nampak terlibat percakapan seru. Aku tajamkan telinga untuk mencuri dengar. Semua percakapan dalam bahasa jawa khas surabaya yang sudah aku terjemahkan ke dalam bahasa indonesia ya...
"Enak ya kalian ngamen, nggak pakai modal bisa dapet duit," seorang pengasong membuka obrolan.
"Lumayan mas," sahut hijabers pengamen ke empat.
"Sehari dapat berapa?"
"Kalau sepi sehari cuma dua lima ribu bang," kali ini pengamen kelima ikut nimbrung.
"Wah gede juga, sepi aja dua lima, kalau rame bisa cepek donk?"
"Nggak sampe mas, kalau rame paling cuma enam puluh," jawab si hijabers.
"Wah, gede itu. Saya aja jualan sehari belum tentu ada yang laku, pakai modal lagi. Pantesan orang ngamen di bus makin banyak."
"Iya, saya malas jualan. Susah laku. Belum tentu dapat uang."
"Bener, enakan ngamen. Nggak modal aja bisa dapet uang," hijabers malah menimpali.
Kuping dan hatiku mulai merasa panas. Ini pemikiran yang nggak bener, malas. Padahal mereka masih dalam usia yang produktif. Masih jauh lebih baik pedagang asongan itu, setidaknya ia mencari rizki dengan cara berdagang. Berusaha. Ah~
"Udah ngamen aja mas kayak kita, nanti aku kasih lagu-lagu,"
"Wah nggak mas... Saya dagang aja."
"Eh dikasih tau cara yang enak dan instan kok nggak mau, aneh," hijabers mencibir.
Huft... Bukan tukang asongan itu yang aneh, tapi kamu! Masih muda kok ngamen.
Rupanya aku nggak ngasih mereka uang tadi adalah keputusan yang tepat. Kedua pengamen itu bukan orang yang butuh. Tapi mereka adalah orang yang malas.
Naudzubillah.
Semoga menjadi pelajaran bagi kita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar