"Aduh sayang, muka kamu kenapa?"
"Habis masak!"
"Habis masak atau habis jadi montir? Belepotan gitu."
"Ih kesel! Ngeledekin mulu ah!"
Tomy mengecup mesra kening istri tercintanya. Tangannya lalu bergerak menggapai tisu basah yang ada di meja. Dengan lembut ia lalu menyeka bagian-bagian muka istrinya yang coreng moreng terkena jelaga.
"Aku capek ngikutin kemauan ibumu mas!" protes Dira ketus. "ini udah tahun 2015 lho, sampai kapan aku disuruh masak pakai kayu?" sambungnya.
"Kan kalau pakai kayu masakan kamu jadi lebih mantap rasanya sayang." sahut Tomy menenangkan.
"Belain ibumu terus! Kalau masak pakai kayu rumah kita jadi kusam, bau asap, tembok item, muka item, masak juga jadi lebih lama, buang-buang waktu." sanggah Dira sambil memonyongkan bibirnya, lucu.
"Mau beli kompor gas?"
"Iya."
***
"Ya ampun sayaaang. Kamu beli daster di mana sih itu? Jelek banget."
"Beli katamu mas? Ini aku jahit sendiri! Susah payah aku buatnya, bukannya dipuji malah dihina, tega!"
"Wah kamu jahit sayang? Pandai istriku ini..." sahut Tomy sambil memberikan kecupan mesra di kening Dira.
"Ibumu tadi minta aku belajar jahit dan ini hasilnya. Buruk!"
"Tidak apa sayang, esok perbaiki lagi ya..."
Oh... Betapa bahagianya Dira menikah dengan Tomy. Meski ibunya super cerewet memintanya ini dan itu tapi ia tetap bisa mendinginkan emosi Dira yang meledak-ledak.
***
"Wah sayaang... Kau terlihat begiiitu cantik!" puji Tomy pada suatu sore.
"Baru saja ibumu menyuruh aku belajar merias diri, bukannya aku tak bisa, tapi aku tak sempat. Betapa repotnya jadi wanita jaman dulu yang harus melakukan semuanya. Mas, bolehkah aku kembali bekerja seperti dulu?"
"Apa uang dariku kurang sayang?" tanya Tomy cemas.
"Tidak. Tapi aku ingin punya teman. Aku bosan tiap hari di rumah. Aku janji aku akan tetap melayani mas seperti sekarang, masak, jahit, beresin rumah, dandan..."
"Baiklah. Kamu boleh kerja sayang, tapi aku yang memilih tempat kerjanya."
"Oke."
***
Raden Ajeng Kartini adalah tokoh yang begitu menginspirasi Dira. Ia senang ibu mertuanya menyuruh melakukan semua hal 'keputrian'. Tapi ia jadi sebal ketika semua itu harus dilakukan dengan cara yang kuno juga. Jaman sudah berubah.
Sudah kodrat wanita untuk menjadi makhluk yang dimuliakan. Boleh jadi ia menjadi seorang ibu rumah tangga tulen, tapi bukan untuk menjadi 'pesuruh' di dalam rumah. Boleh jadi ia bekerja di luar rumah, tapi sebagai wanita ia tetap harus memenuhi kewajiban yang melekat padanya sebagai seorang istri.
"Selamat hari kartini."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar