"Apa kamu sudah mantap menikah dengannya? Lihat keluarganya, jelas mereka memandang kita sebelah mata. Ibunya, semua perhiasan dia kenakan, persis seperti toko emas berjalan. Lihat bagaimana cara calon mertuamu itu memandangmu yang nyaris tanpa logam mulia yang menempel di badan."
"Aku sudah mantap. Tidak masalah aku yang tanpa harta ini Ma, asal restu dari mereka sudah aku kantongi. Meski mereka meremehkanku, yang penting dia selalu menghargai aku."
"Ya sudah. Mama cuma mengingatkan, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
Percakapan itu terus terngiang-ngiang di pikiranku beberapa hari ini. Entah, bagaimana bisa orang tua itu bak seorang ahli nujum untuk anak-anaknya.
Kini sudah hampir sepuluh tahun usia pernikahanku. Aku merasa tidak dihargai oleh dia. Suamiku. Aku menemukan surat pembelian cincin kawin kami dulu. Bak tersambar petir. Di sana tertulis kadar emas di cincin kami ini hanya 50% saja.
Aku kecewa. Di saat ia mampu membeli berlian, ia hanya memberiku emas campuran. Kami bangkrut. Aku akan menjual cincin kawinku yang murah ini. Sedih, cincin ini menyimpan berjuta kenangan indah walau harganya murah.
Esoknya. Jemariku polos tanpa logam kuning yang melingkari. Padahal hari ini adalah hari jadi kami yang ke sepuluh. Dia masih di luar sana mencari nafkah.
"Sayang... Aku pulang..."
"Selamat datang cinta. Happy anniversary..." sahutku sambil menciumnya.
"Sayang... Selama sepuluh tahun aku terus merutuki diri. Mengapa dulu aku hanya memberimu barang murahan. Mengapa aku begitu pelit untuk sebuah cincin kawin. Maafkan aku sayang..."
"Aku memang kecewa. Sungguh. Tetapi sosokmu yang berdiri tegap dihadapanku dengan penuh peluh dan senyuman inilah yang mampu menghapus segala kekecewaan ini."
Ia merogoh ke dalam saku celana. Mengeluarkan sebuah kotak berbahan bludru yang begitu khas. Begitu kotaknya dibuka di sana terselip cincin kawin murahanku yang telah aku jual kemarin. Mengejutkan, terselip pula sebuah cincin berlian yang berpendar indah.
"Aku jamin yang ini asli sayang... Aku beli dengan keringat hasil jerih payah selama sepuluh tahun. Berlian untuk istriku yang cantik. Cincin murah ini aku beli kembali dari toko emas tempat kau menjualnya. Aku ingin kau tetap menyimpannya sampai kita tua. Aku sangat sayang kau... Melebihi apapun di dunia ini."
Kami pun berpelukan dalam keharuan.
Sidoarjo, 050415/22.00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar