The Bird

Selasa, 28 Mei 2013

Mencintai Itu Mudah #ALoveGiveaway

Kalau tidak ada yang namanya cinta, maka aku pun tak akan ada di dunia ini. Aku ada karena cinta, karena cinta aku ada. Cinta mama ke papa. Cinta papa ke mama.

Usiaku kini telah menginjak di angka dua puluh satu tahun. Statusku masih single, sebenarnya bukan hal yang memalukan dan masih dapat dibilang wajar. Hanya saja, belum juga punya pacar itulah yang sangat tidak wajar bagiku. Bagaimana tidak, hampir semua orang seumur aku pasti telah memiliki pacar.

Entah apa yang salah pada diriku. Secara fisik aku cukup cantik. Bahkan beberapa bilang bahwa aku sangat cantik. Mungkin aku kurang menarik.
Aku lalu memutuskan untuk melakukan penelitian kecil kecilan. Semua teman yang seumuran dan sudah punya pacar akan aku catat sifat, watak dan penampilan mereka.

Tari, gadis hitam manis, rambut hitam sebahunya sangat menawan, senyum selalu menghiasi wajahnya. Pribadi yang supel dan ramah. Sangat disayangkan, meski ramah dan supel, sangat jelas terlihat kalau dia suka pilih-pilih dalam berteman dengan seseorang.

Dian, cewek alim super bawel. Berjilbab. Lesung di kedua pipinya adalah daya tarik terbesarnya. Tanpa itu kurasa ia biasa saja. Ceriwis dan suka merasa kalau dirinya adalah cewek paling oke di seantero dunia, Kadar PeDe-nya sedikit di atas normal.

Vina, gadis berkulit putih yang sangat suka sekali menyapa tiap orang yang ia temui di jalan. Penampilannya biasa saja.

Diah, gadis dengan kulit gelap ini tidak begitu cantik, tapi senyumnya sungguh membuat meleleh hati siapapun orang yang melihatnya. Sama halnya dengan Vina, ia adalah gadis dengan penampilan biasa-biasa, kacamata selalu setia bertengger di hidungnya. Ia adalah seorang pendengar dan problem solver yang handal. Mungkin itulah yang selalu membuatnya menjadi idola.

Sejauh ini ada empat orang, aku menemukan satu persamaan yang ada pada diri mereka berempat. Senyum dan selalu menjaga hubungan baik dengan sesama walau hanya sekedar basa-basi.

Aku akui kalau diriku memang sedikit tertutup dan sangat jarang bicara jika tidak perlu. Mungkin itu yang membuat cowok jadi segan untuk mendekatiku. Tetapi dengan sikap itu juga aku jadi lebih aman dari para cowok-cowok jahil yang kerjanya suka iseng.

Hasil analisa singkat yang ku buat ini membuat aku memutuskan untuk mencoba merubah diri mulai besok. Mencoba untuk sedikit 'bersuara' lebih banyak dari pada biasanya.
Semoga aku berhasil.

***
“Hai pagi Tari,”

“Oh. Hai pagi juga Dinda” Tari menjawab sapaanku dengan pandang mata aneh, mungkin karena sikap cuek aku selama ini yang membuat suara sapaanku terdengar begitu berbeda di telinganya.

“Hai Dinda” kali ini Levi yang menyapaku. Seorang cowok berpawakan kurus tinggi, entah ia berkerja di bagian mana di kantor ini aku tidak tahu. Aku tahu nama dia pun dari gosip. Banyak yang membicarakannya, tentang dia yang selama ini diam-diam memendam rasa cinta padaku.

“Hai juga mas Levi” jawabku sambil tersenyum “Apa kabar pagi ini mas?” tambahku mulai sedikit berbasa-basi.

“Baik Dinda, mau teh?” tawarnya sambil sedikit mengangkat cangkir yang sedang dibawanya. 

“Makasih mas, nanti Dinda bikin sendiri aja tehnya” tolakku, karena memang aku tidak suka minum teh yang hanya akan membuat kepalaku pusing dan perut terasa mual setelah meneguk teh jenis apapun.

“Kopi?”

“Hmm, boleh juga tuh kopi mas, nanti deh Dinda bikin kopi yah”

“Mas buatin deh” jawab Levi lalu melangkah ke dapur kantor. Buru-buru kususul langkahnya di belakang. Aku tidak mau merepeotkannya.

“Udah, sini mas. Yang kayak gini kerjaan cewek” kataku sambil merebut cangkir yang ada dalam pegangannya. Ia hanya tersenyum. Tangannya lalu meraih toples kecil berisi bubuk kopi dan gula.

“Kopi buatan mas yang paling enak di kantor ini, Dinda mesti cobain” jelasnya. “jadi biar mas aja yang tuangin takarannya ya, Dinda tuangin airnya aja nanti dari dispenser”

“Oke” bingung aku harus berkata apa lagi. Susah juga belajar jadi orang yang supel. Baru kali ini aku merasa sedikit lebih dekat dengan teman-teman di kantor. Rasanya lumayan nyaman. Mungkin ini pertanda bahwa sebenarnya aku bisa berubah menjadi lebih menarik lagi, lebih dari pada sekedar cantik di wajah.

***

Namanya adalah Benny. Ia adalah satu-satunya teman dekatku di kantor ini. Badannya tambun. Ia suka sekali makan. Dia sekarang duduk tepat di hadapanku.

“Bagi coklat donk Din... gue ada info bagus buat lo nih” katanya mulai memerasku. Memang biasanya jika ia minta makanan pasti ada sesuatu yang berhubungan denganku yang lumayan penting dan harus dia sampaikan. Pendek kata ia adalah informanku yang pendiam ini.

“Nih” kataku sambil memberinya satu kotak potongan coklatku. “Emang ada apaan Ben?”

“Yaelah cuma segini doank. Segini sih nyangkut di tenggorokan doank Din... Nggak sampai masuk ke dalem perut”

“Nih nih nih, ambil semua tu” kataku sambil cemberut. “Apaan infonya?”

“Nah ini baru pas” jawab Benny sambil melumat coklat pemberianku satu per satu. “Nih, ada surat buat lo, gue nggak tau tuh isinya apaan, gue juga nggak bisa kasih tau siapa yang ngasih surat itu buat lo”

Dengan rasa penasaran aku buka surat itu. Isinya sederet tulisan, semacam undangan. Setelah aku baca dengan teliti, ternyata itu adalah undangan kunjungan bakti sosial ke suatu Panti Asuhan yang lokasinya tidak jauh dari tempatku kerja. Jelas sekali undangan ini tidak resmi, karena ditulis dengan tulisan tangan, dibawahnya tidak ada tanda tangan siapa pun. Hanya saja, ada pesan khusus yang menarik hatiku di akhir surat itu.

Datanglah, mungkin sepertinya kita yang membantu mereka, tapi sesungguhnya mereka lah yang sangat membantu kita.

Pesan terakhir itu begitu menarik hatiku. Mungkin tidak ada salahnya kalau aku datang kesana. Toh juga sepulang kerja aku tidak ada jadwal apa-apa.
Sorenya, tanpa pulang kerumah aku langsung menuju ke tempat Panti Asuhan yang ditunjuk di dalam surat. Berjalan kaki sepuluh menit saja sudah sampai.

Di depan berdiri pagar besi tinggi berwarna putih yang sudah lusuh dan mengelupas catnya. Aku membuka pagar perlahan, melongok sedikit ke dalam. Sungguh berbeda dengan apa yang ditampakkan oleh pagar lusuh ini. Keadaan di dalam sana sugguh indah. Tanaman dan bunga-bunga dirawat dengan baik. Tertata rapi dan cantik. Sesekali kulihat anak berusia lima tahunan berlarian. Akhirnya aku melangkah masuk ke dalam. Mendekat ke arah bangunan yang nampak sebagai kantor. Disana aku bertemu dengan wanita paruh baya yang mengenakan jilbab, dan ia tersenyum sambil memangdang ke arahku.

“Permisi Bu, saya kesini mau sedikit berbagi rejeki buat anak-anak” kataku memulai pembicaraan sambil menyerahkan satu kantong plastik besar berisi makanan.

“Iya Dik, wah terimakasih banyak ya, anak-anak pasti senang”

“Maaf Bu, boleh saya tanya? Selain saya hari ini ada yang berkunjung kemari tidak? Karena saya dapat surat undangan Bu, entah dari siapa datangnya”

“Ada Dik, baru saja ada yang kesini, dia memang sudah sangat sering kemari”

“Boleh saya ketemu Bu? Sekalian mau lihat adik-adik yang ada di dalam juga”

“Boleh silahkan. Ibu antar ya, o ya, ini nanti diberikan langsung saja sama anak-anak” jawab Ibu itu sambil menyerahkan kembali kantong plastik pemberianku tadi.

“Iya Bu, o iya Bu, kenalkan nama saya Dinda” kataku kemudian.

“Nama saya Citra Dik Dinda” jawab Ibu Citra sambil menyambut uluran tanganku.

Kami lalu berjalan menuju ke dalam melewati lorong, setelah itu sampailah kami dalam satu ruangan besar, di dalamnya terdapat banyak sekali anak-anak. Tapi ada satu sosok yang jelas bukan lagi anak-anak disana. Ia mengenakan kemeja putih, sedang asyik bercanda dengan anak-anak yang duduk mengitarinya. Mungkinkah dia yang menulis surat undangan itu padaku? Siapa? Aku masih belum dapat melihat wajahnya karena ia duduk membelakangi pintu.

“Anak-anak... Kakak ini datang bawa sesuatu buat kalian” seru Ibu Citra, sontak membuat mereka terdiam kemudian menoleh ke arah kami.

“Horee....” teriak mereka girang. Langsung saja aku diserbu oleh mereka. Aku mengira bahwa mereka akan merebut kantongku dan mengoyak isinya. 

Tapi ternyata tidak, satu per satu mereka mngulurkan tangan sambil menyebutkan nama mereka masing-masing. Indahnya...

Selesai berkenalan tanpa ada yang memerintah mereka langsung berbaris memanjang ke belakang di hadapanku. Hm... Aku tahu apa ini maksudnya. Itu artinya sudah waktunya aku untuk membagikan makanan ini kepada mereka. Baiklah...

Sungguh membahagiakan rasanya melihat binar mata bahagia dari mereka, hanya satu bungkus makanan ringan yang kubagikan ini sudah begitu membawa rasa bahagia dan senang juga di hatiku. Antrian mulai memendek, dan akhirnya habis. Sebagian dari mereka kembali bermain, sebagian lagi tetap berada di dekatku. Mereka mengajakku bermain.

“Kakak, ikutan juga ya, yang kalah nanti telinganya dijepit pakai ini” ucap seorang anak perempuan sambil menunjukkan satu buah jepit jemuran. Auw... Sakit banget rasanya kalau kalah.

“Oke, siapa takut” jawabku. “Mau main apa? Gimana cara mainnya?”

Secara bergantian mereka menjelaskan cara permainannya. Ternyata bermain cerdas cermat. Masing-masing dari kami secara bersamaan akan mengeluarkan beberapa jari, kemudian salah satu yang dapat menghitung jumlah jari dari semua peserta akan dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menentukan siapa yang akan dikenai hukuman. Cukup mudah pikirku.

“Lima puluh lima!” pekikku saat permainan berlangsung.

“Yaaaah...” seru mereka kecewa. Tanpa menghitung kebenaran hasil hitunganku mereka langsung bertanya apa hukuman yang akan diterima.
“Siapa yang mau dihukum Kak?”

“Ada yang namanya Bagus?” tanyaku sambil melihat muka mereka satu per satu.

“Saya” seorang anak laki-laki mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi.

“Yap kamu. Hukumannya Kakak tanya. Satu ditambah duabelas sama dengan berapa?”

Lucu sekali tingkahnya, usianya belum genap enam tahun. Menggunakan bantuan jari di kaki ia mencoba menyelesaikan soal dariku.

“Tigabelas Kak.”

“Horee... Betul, tepuk tangan buat Bagus”jawabku sambil bertepuk tangan lalu diikuti dengan tepuk tangan yang lainnya.

Pada permainan berikutnya yang kalah akan dicoret bedak tabur di wajah, aku sengaja mengalah, biar makin seru dan mereka senang. Dan benar saja, kini wajahku penuh oleh coretan bedak-bedak mereka.

“Ih muka Kakak lucu banget deh, hahaha” ejek salah seorang dari mereka. 

“Hahaha, tapi Kakak tetap cantik kan?” tanyaku sambil berpose. Tawa mereka makin menggelegar.. Tanpa terasa langit mulai gelap, sudah hampir dua jam lamanya aku bermain-main dengan mereka tapi rasanya seperti baru satu menit. Sungguh menyenangkan dan pengalaman baru bagiku.
Ahirnya aku memutuskan untuk pulang. Seusai membersihkan cemong di mukaku tentunya. Setelah berpamitan pada anak-anak itu aku pamit kepada Ibu Citra. Lalu melangkah keluar, berdiri di depan pagar, menunggu angkutan umum disana.

Tin. Tin. Terdengar bunyi klakson yang membuatku menoleh ke belakang. Seorang pengendara bermotor muncul, ia mengenakan kemeja biru. Ah. Mungkinkah ia adalah orang yang berada di dalam tadi? Saking asyiknya bermain membuatku lupa tentang dirinya.

“Mas antar pulang yok” seru orang itu sambil membuka kaca helmnya. Ternyata ia adalah Levi, teman sekantorku. Mungkinkah ia juga yang telah memberiku undangan misterius itu?

“Makasih Mas, Dinda naik angkot aja pulangnya”

“Eh... Bener? Cewek pulang malam-malam bahaya, lagian jam segini angkot udah jarang yang lewat, udah sini Mas anter. Gratis kok tenang aja. Lagian rumah kita satu arah” jelasnya, sementara aku masih membisu. “Ayo naik”

“Nggak ngerepotin?” tanyaku ragu.

“Nggak kok tenang aja, sama Mas dijamin aman dan nyaman. Hehehe” candanya.

Dengan pertimbangan karena situasi yang tidak aman kalau naik angkutan pada malam hari, aku pun menyetujui tawarannya untung diantar pulang. Sepanjang perjalanan kami hanya membisu.

“Gimana? Asyik kan main disana?”

“Oh.. Iya mas lumayan buat ngilangin stres habis kerja”

“Mas paling suka main kesana, dari pada duit habis buat jajan sendiri, mending bawain sesuatu buat mereka”

“Iya bener mas. Dinda tadi bercandaan sama mereka sampai lupa waktu, lepas banget, kayak nggak ada beban sama sekali. Lain waktu mau kesana lagi”

“Nanti kita barengan aja kesananya.”

“Gampang lah Mas, bisa diatur itu.”

Baru kali ini aku bisa lepas. Levi sosok yang cukup menyenangkan, dan sangat menarik perhatianku kini. Jauh dalam hati aku berharap semoga gosip yang beredar tentangnya itu memang benar. Hanya dalam waktu satu hari ia dapat membuatku tersenyum dan merasa lebih baik dari pada sebelumnya. Ia juga mengajarkan aku bagaimana cara agar aku bisa tertawa lepas tanpa harus berpura-pura. Tanpa memaksa.

Dalam satu hari ini ia mengajarkanku tentang cinta dan tawa secara alami. Dengan cara yang berbeda, dengan cara yang sederhana.

“Makasih ya Mas undangannya, Dinda suka” cetusku tanpa bertanya, karena aku yakin ia adalah sang pengirim undangan misterius itu.

Levi hanya diam, dan menganggukkan kepalanya. Meski tertutup helm, aku yakin, ada segaris senyum di balik sana...

Terimakasih kini aku tahu bagaimana caranya untuk menjadi lebih menarik secara natural. Mungkin kisah hari ini akan menjadi awal yang indah untuk kehidupanku yang selanjutnya. Lebih bermakna dan penuh cinta.

Ditulis oleh :
1. Diah Ratna Puspa Ramadhan @davirasr
2. Muhammad Reza Fahlevi @mrejapahlepi

Dalam Event #ALoveGiveaway oleh @WordsofPoetica

2 komentar:

  1. mantap karyanya...
    tetaplah menjadi yang natural....
    karena sulit mencari yang natural sekarang...
    semangat.
    -Mencintai itu mudah namun dicintai itu yang sulit-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih,,, tunggu karya selanjutnya yah ^_^

      Hapus