The Bird

Rabu, 08 April 2015

Aku Ingin Hidup!


Entah kapan aku akan menyesali tulisanku ini.

Aku adalah seorang istri sekarang. Aku tinggal dengan suamiku, orang baru dalam hidupku. Dan ibuku, orang yang telah lama ada dalam hidupku.

Hari ini, detik ini. Aku ingin tinggal berdua saja dengan suami.

Tidak. Tidak. Tidak.
Bukan karena aku anak yang tidak tahu balas budi dan tidak berbakti sehingga ingin meninggalkan ibu sendiri. Tidak.

Jujur, beberapa bulan yang lalu terbersit pikiran aku ingin mengakhiri hidup di usia pernikahanku yang baru seumur jagung. Tanganku sudah menggenggam sebuah silet kawan... Silet yang tajam dan bisa saja aku gunakan untuk mengiris nadi. Aku putus asa. Aku menangis dan histeris dikuasai oleh setan. Bukan karena suamiku tidak mencintai aku lagi atau karena aku telah menyesal memilihnya. Bukan.

Semua itu karena perseteruanku dengan ibu yang dimulai sejak hari ke tiga pernikahanku. Aku yang harusnya berbahagia. Aku yang seharusnya tertawa. Gembira. Justru murung jatuh ke dalam kesedihan.

Lantas mengapa perseteruan itu terjadi?

Entah.

Saat aku dilamar oleh suamiku dulu. Serta merta ibu menerima pinangannya. Menyetujui pernikahan kami dengan riang.

Pasca menikah. Tuhan hanya memberiku waktu tiga hari untuk berbahagia. Setelah itu semua meledak seperti bom waktu.

Ibuku mencela semua perilaku suamiku tanpa alasan. Menghardik setiap perkataanku tanpa sebab. Mencaci semua keputusan kami secara sepihak. Hingga mengungkapkan penyesalannya karena telah menikahkan aku dengan sang suami. Sungguh aku tak mengerti.

"Bu, apabila saya ada salah saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mengapa ibu hingga sedemikian murkanya?" tanya suamiku pada suatu hari. Yang hanya di jawab oleh celaan. Celaan. Dan hinaan. Tidak beralasan.

Hingga hari itu tiba. Pertengkaran hebat antara aku dan ibuku. Membuat aku menggenggam sebuah silet yang tadinya ingin aku sayatkan ke pergelangan tanganku. Tapi urung. Itu adalah sebuah dosa besar. Hingga aku lampiaskan kepada rambut panjangku. Aku potong rambutku tak beraturan. Aku menangis sendiri di kamar. Habis sudah rambutku berserakan di lantai. Aku jatuh di tempat tidur.

Sakit kepalaku muncul dengan hebat. Entah penyakit apa ini. Selalu muncul di saat aku merasa terlalu sedih, tertekan dan putus asa.

Lalu semuanya gelap. Aku tak ingat apa-apa lagi hingga aku terbangun dan mendapati wajah cemas suamiku. Aku memeluknya.

***

Hari ini aku ingin tinggal berdua saja dengan suami.

Aku lelah di setiap langkah aku selalu dihardik. Disalahkan. Dicaci.

Aku ingin kami tinggal di rumah yang berbeda dengan ibu. Cukup lima atau sepuluh kilometer saja jauhnya. Agar aku tetap bisa menengoknya. Memperhatikannya.

Aku ingin mendekor rumahku sendiri tanpa interupsi. Aku ingin belajar memasak sendiri tanpa tendency. Aku ingin menuangkan ide-ideku. Aku ingin bergaul tanpa prasangka. Aku ingin mematuhi perkataan suami tanpa harus berpikir keras. Aku ingin sedikit kebahagiaan.
Aku ingin hidup!

2 komentar: